Sunday, March 9, 2014

"Siganamah......." Membawaku kedalam Frame Kamera


           “Siganamah iyeu nalayan nu kaseret ombak keur peuting tea”
            “heuh bener pan keur peuting teh aya badai”
            Hahahahaha, kalimat itu akan menjadi sejarah bagiku, akan menjadi segores tinta dalam buku catatanku, dan juga akan menjadi kenang-kenangan yang tak akan pernah aku lupakan. Anda mau tahu kenapa ? Sama aku Juga ! :D
            Biasanya, (biasanya tak pakai minyak wangi, aye aye) eh kok malah nyanyi. Biasanya (biasanya tak pakai minyak rambut, aye aye), ye… kok nyanyi lagi. Biasanya nih, dalam produksi film aku ditugaskan untuk menjadi Art Director, tugasnya ya, bertanggung jawab atas segala property yang akan digunakan dalam film. Tapi entah mengapa, ga ada badai, ga ada hujan. Pak Sut (Darwin Mahesa) menujuk aku untuk menggantikan Ewok (Ryan) dalam Film “Perempuan Lesung”.
            Ceritanya begini bray. Ewok ga mau kalau dia harus telanjang dada lagi, coz takut kulit eksotisnya yang cantik itu terbakar oleh sinar matahari. Tapi dia mau aja sih main lagi, kalau Pak sut juga membuka baju atau tidak pakai sweter selama syuting. Namun, pak sut tetap dalam pendiriannya, begitu juga dengan ewok. Maka dari itu, akibatnya aku lah yang kena peran.
            “Property… woy Property “ teriak pak sut dan juga crew yang lainnya.
            Dengan gaya songong layaknya artis pemeran utama, aku pura-pura tak dengar panggilan mereka. mereka terus memanggil-manggil “property… property……” akhirnya aku menjawab teriakan mereka       “ Sorry… bagian Property sedang jadi artis, silahkan bereskan sendiri” hahhahahaha.
            Tibalah saat yang di tunggu-tunggu… jreng-jreng…… !!!!!
            Pemeran utama pria “Zareba” (Damanik CT) udah tiduran diatas pasir pantai, dia harus beradegan layaknya mayat yang tersapu ombak.
            
Camera…………………. Roll……… Action !!!
            “aya mayit…. Aya mayiiiit ……..” teriak Gilang, warga kampung berlarian mendekati tubuh itu.
           “saha iyeu… saha iyeuu…..” mereka bertanya satu sama lain.
Dengan muka cemas, panic, seperti melihat mayat beneran, “ Siganamah…. Iye nalayan nu kaseret ker peuting tea…….”. lidahku menjulur-julur keluar. “CUT” teriak pak sut.
Take ke 2. Camera Roll Action !!!
Semua beradengan seperti take pertama.
            “siganamah iyeu nalayan….. hmmmmmm Cut, Sorry gua lupa” ucapku sambil tertawa, maklum baru pertama kali.
Take ke 3. Dari arah belakang.
          “siganamah iyeu nalayan nu kaseret ombak ker peuting tea” aku mengucapkannya dengan lantang.
Semua sorak, namun sedikit mencaciku. “aaaaah loe, dari belakang aja lancar dari depan mah kagak”. Aku pun tertawa geli, lucu, namun sedikit kesel juga sama diri sendiri.
Take ke 4. Close up.
        “siganamah iyeu nalayan nu kaseret ombak ker peuting tea”. “ heuh Bener pan keur peuting teh aya badai”. “Cut, OK cukup”
Yes, aku bisa, sambil tertawa geli, aku seneng bisa dapat peran, tapi ada satu ucapan teman-teman Kremov  yang membuatku semakin geli  dan ingin selalu tertawa. “maklum figuran pertama kali, biasanya kan Property…. Woy Property… hahhahahhahaah”

          But, so far. Aku senang bisa dapat peran, tapi tetap saja, setelah take selesai aku kembali kepada tanggung jawabku sebagai seorang Art Director. Dan aku senang berada di tengah-tengah mereka (KREMOV), bergabung bersama mereka, produksi film bersama mereka. Rasanya jika sudah berpisah dari mereka ada sesuatu yang hilang. Anda tahu kenapa ?, ya, karena dimana ada Kremov disitu ada canda, disitu ada tawa, disitu ada duka, dan disitu ada kebahagian dan satu lagi disitu ada GOSIP “oh Gini Oh Gitu KREMOV”. Hahahahha….. 

                                                                                           Kesik Panjang, 8 Maret 2014

Saturday, December 21, 2013

Sikunir, Dalam Kenangan

Basecamp Sikunir 
                        Angin Sikunir seakan menusuk tulangku pagi itu. jalan menanjak dan berbatu terus kami pijak dengan penuh semangat. Berharap kami tiba di puncak Sikunir saat sang mentari tersenyum indah dari balik Gunung Sindoro. Semakin tinggi tanah yang kami pijak, semakin dingin pula angin yang menusuk. Bukan hanya angin, Kabut pun menghalangi pandangan kami. Napas sudah tak menentu, gerak kaki terasa cape. Tapi, ketika Pak Mul Bilang, “Kita Sudah Sampai”. Rasa Lelah, letih, lesu, lunglai dan lemas seakan sirna dimakan rasa gembira dan haru. Aku tak peduli dengan jenis kelaminku. Tapi inilah Puncak Sikunir, Bukit pertama yang aku daki. Bukit pertama yang menjadi sejarah Bagiku. Bukit pertama yang akan menjadi saksi bahwa aku sudah pernah naik gunung, walaupun Cuma BUKIT. Tapi lumayan Cape, 45 menit dari basecamp. Ah, semua itu, keseruan itu, rasa lelah itu, rasa bahagia itu, membuat mentari pagi di balik Gunung Sindoro tersenyum. 3 anak kota, ngegembel ke Dieng hanya ingin menyaksikan sunrise dari ketinggian, sableng memang, ngapain jauh-jauh coba, padahal sunrise dari balik jendela kamar aja sudah cukup. Eits… tapi ada yang lebih gila lagi, yaitu para pendaki Gunung. Mereka naik ke puncak gunung, dengan track yang menantang, dengan track yang mengadu nyali, dengan track yang sewaktu-waktu maut menjemput, dingin, cape, emosi semuanya bercamur aduk jadi satu, Cuma ingin Refresing Doang. OMG… !!!! tapi memang betul, satu kali saja kita mendaki, maka seterusnya kita akan ingin mendaki, mendaki, dan mendaki lagi. Setiap gunung yang kita lihat pasti terasa indah dan menantang untuk kita taklukkan. Ya, kita taklukan, sebagai seorang pemberani bukan sebagai seorang yang cengeng dan penakut akan hal-hal yang akan terjadi.
Sunrise dari puncak Sikunir 
kabut itu, Sunrise itu, ah... semuanya masih menyelimutiku 
                        sebelum aku dan 2 orang temanku berangkat. Ada yang bilang begini, “ naik gunung ? ih, apaan kali, mending kemana gitu. Nanti cape dijalan doank, sedangkan represingnya ga ada”.  Aku tidak bisa mengatakan ia sebagai seorang yang penakut, dan aku juga tidak bisa mengatakan kalau ia seorang yang pengecut. Tapi, itu hak dia untuk berkata seperti itu. mungkin cara perjalananku dan cara perjalanan dia berbeda. just it ! nothing else.

                        Sudah hampir satu tahun pendakian sikunir itu. tapi, bayangan tentang indahnya masih terus menghantuiku hingga saat ini. padahal, baru saja 1 bulan yang lalu aku pergi ke Bali, Pulau dewata nan Indah dan Eksotis. Namun, Bali berbeda dengan Dieng dan Sikunir, di Bali aku hanya menyaksikan Pura, Rumah yang berarsitektur Bali, Pantai dan juga Bule-Bule tengtop yang memanjakan mata. At least aku sudah pernah ke Bali. Hahahah. Dieng dan Sikunir, jauh berbeda. udara yang menusuk kulit, air yang dingin kaya diFreezer, masih desa banget dan satu lagi, Desa Tertinggi di Pulau Jawa.
bersama Pak Mul
narsis ala 3 Nekater
                        Hampir setiap orang di Dieng, mau siang, mau sore, mau malam, tetap berselimut jaket, Kupluk dan sarung yang dililitkan dileher mereka. tak nyana, ternyata aku pun mengikuti gaya mereka. kupluk, jaket, celana panjang, dan juga sarung selalu menyelimutiku. Mungkin bedanya mereka kuat dengan air, sedangkan aku dan 2 orang temanku sama sekali tidak mau mendekati air, kecuali jika mau sholat. Gosok gigi aja masih ragu-ragu, apalagi disuruh Mandi. Ogah Bangeeeet, Dingiiiiiiin !!!!
3 Nekater hahahah 
                        Hah ! Dieng, masih menghantuiku dan masih mengajakku untuk mengunjunginya kembali. Aku tak tahu kapan aku bisa kesana lagi, padahal masih ada 1 gunung lagi yang membuatku dan temanku penasaran dengan keindahan yang akan kita dapat diatas sana. Ini semua gara-gara Pak Mul, yang menawari kami untuk menginjakkan kaki di Gunung itu, yang harus kita daki selama 4 jam. Gunung itu bernama Gunung Prau. Tapi, gunung Prau mungkin menjadi List Backpackeranku nanti, setelah aku mengunjungi Bromo, Ranu Kumbolo dan juga Gunung Ijen. Kecuali ada yang ngajak trip Gratisan. Ya, aku ingin tahu isi pulau jawa dulu setelah itu baru melanglang buana ke pulau-pulau di Indonesia Bahkan ke Luar Negeri. Kendalanya Cuma satu, Budget. Ya, budget. Uang memang menjadi hal penting untuk sebuah Trip. semoga saja uang mengalir bagaikan hujan dan salju yang turun dimusim dingin. hahahaha.  



 Dalam bayangan Sikunir, 22 desember 2013





Sunday, December 8, 2013

Kunjungan Ke Rumah Ibadah

tempat bersemayam sang buddha 

           Agama terkadang menjadi sesuatu yang sangat mendamaikan tapi juga menjadi pertikaian. Indonesia, menjadi Negara yang mempunyai banyak keunikan. Dari berbagai keragaman dan juga perbedaan. Ras, suku, etnis, budaya, bahasa dan juga agama. Dari keaneka ragaman dan juga perbedaan tersebut bangsa Indonesia di satukan dalam ikatan Bhineka Tunggal Ika.

            Dalam acara Interfaith Youth Forum ini kami datang dari berbagai latar suku, bahasa dan juga Agama. Aku sangat senang bisa bertemu mereka dalam event ini. saling bertukar pikiran, saling menghargai, saling menghormati, saling menyayangi, dan juga mengikat tali persaudaran. Walaupun kami berbeda agama, berbeda bahasa, berbeda suku, berbeda budaya. Tapi kami saling mengikat bahwa kami bangsa Indonesia yang harus menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaran dan juga toleransi antar sesama
.
            Bukankah Allah berfirman dalam al-quran surat Al-Hujurat ayat 13 :
Klenteng 
            “Wahai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Tuhan Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
            Maka siang ini, agar bisa lebih memahami dan juga menjaga toleransi antar umat beragama. Panitia mengagendakan hari ini untuk kunjungan ke rumah ibadah dari setiap agama. Rumah ibadah pertama yang kami kunjungi adalah Klenteng, Rumah ibadah bagi umat Kong Hu Cu. Memasuki gerbangnya kami di sambut oleh pemuka agama dan juga penjaga Klenteng, bukan hanya itu, kami juga disambut oleh tempat dupa yang sangat besar dan lampu-lampu lampion dilangit-langit Klenteng. Ada yang menarik dalam batinku, yaitu keberadaan patung yang teletak didepan tempat sembahyang. Asing, bahkan tidak pernah aku lihat sebelum. Ku Tanyakan pada Suwan, seorang teman yang  beragama Kong Hu Cu, yang kemudian aku panggil dengan sebutan Koko. Katanya itu adalah Nabi Kong She/ Kong Ci.
            Eit, sebelum melanjutkan ke rumah ibadah lainnya. Ada lagi yang mengelitik dalam batinku. Yaitu keberadaan secuil nasi dan juga bunga-bunga sesajen yang di tempatkan diatas daun pisang yang sudah dibentuk dengan rapi. Hapir disetiap depan rumah yang aku lewati, aku mendapatkannya. Rasa ingin tahuku bermuara dalam sebuah pertanyaan kepada panitia yang beragama Hindu.
            “Bli, kalau itu apa maksudnya, kok, disetiap rumah pasti ada ?” sambil menunjuk ke arah nasi dan bunga sesajen.
            “oh itu, kalau menurut kepercayaan umat Hindu, itu sebagai bentuk Syukur kita pada Tuhan yang telah memberikan Rizki” jelasnya dengan logat Bali yang kental.
            “setiap pagi harus gitu, Bli ?”
            “ Ya “ 

            Menarik. Kami pun melanjutkan ketempat ibadah lainnya. Mobil melaju santai, dan memasuki Jalan Tol terindah di Indonesia. Kami pun sampai di sebuah tempat. Aku melihat, ternyata didepanku saat ini telah berjejer rumah ibadah dari setiap agama. Mulai dari Masjid, Gereja Katolik, Vihara, Gereja Protestan dan juga Pura. Hanya Klenteng yang terpisah, karena dulu Kong Hu Cu belum diakui oleh Negara Indonesia.
            Luar Bisa, Bukti toleransi antar umat beragama di Bali. Membangun rumah ibadah dari setiap agama didalam satu komplek. Kami pun memasuki Vihara, disambut oleh patung Budha, berlantaikan Shio, berdindingkan arsitektur patung-patung yang berwarna putih bercampur dengan warna emas. Tidak mau melewatkan moment berharga ini. jepretan lensa kamera pun membidik gaya kami. gaya alay, gaya meringis, gaya marah seperti Naga, dan masih banyak gaya-gaya yang lainnya. Hahhaha. Kami pun dibawa kedalam sebuah ruangan yang cukup luas. Lantainya seperti dari kayu, berjejer rapi bantal-bantal kecil yang diatasnya terdapat sebuah kitab bernama “PARITTA SUCI”, dan juga patung Buddha yang duduk disinggasananya dengan gagah lengkap dengan suguhan makanan yang aduhai, andai boleh dimakan.  To be Continue…..
                                                                                                            Dalam Bis, 27 Oktober 2013

Thursday, December 5, 2013

99 Cahaya di Langit EROPA



              Aku tak tahu tentang buku ini. Aku tak tahu tentang film ini. Aku juga tak tahu kalau buku ini best seller. Dan satu lagi aku tak tahu apa yang sedang aku tulis malam ini. Sebenarnya, waktu itu aku melihatnya di deretan buku best seller itu pun sudah lama sekali. Namun, ketika melihat iklan promosi film "99 Cahaya di Langit Eropa" di TV aku makin penasaran. “emang tentang apa sih, ah, paling tentang cinta lagi ga bakal jauh dari itu”Batinku waktu itu.
            Waktu berjalan. Akhirnya ketika aku melihat trailernya dari Youtube. “kayanya bagus nih !” pikirku. Akhirnya tadi siang aku berangkat bersama temanku ke 21 Cinema.
            Di depan layar itu aku disuguhkan dengan sejuta pemandangan Indah khas Benua Biru (Eropa). Tercengang, lalu berharap, “semoga bisa menginjakan kaki disana, amin”. Saat itu, di ruangan yang gelap itu, aku dibawa masuk, mengikuti dan merasakan setiap detail adegan yang di perankan oleh Rangga, seorang Mahasiswa penerima Beasiswa S3 di Wina. Dia seorang muslim. Sedangkan teman-temannya beragama non muslim. Daging ayam mungkin jarang  ditemui tetapi daging babi dijual dimana-mana.
            Hanum, seorang Muslim yang tidak berhijab, wanita yang berstatus istri Rangga ini mulai bosan dengan kehidupan dia di Wina, dia hampir saja kembali ke Indonesia. Tapi ketika pertemuannya dengan Fatma, seorang wanita berkebangsaan Turki di tempat Kursus B.Jerman, hari-harinya berubah dan banyak memberikan pelajaran berharga bagi dirinya. Fatma, Membawa kedamaian dan juga kerendahan hati Islam dalam hari-harinya sebagai bukti bahwa Islam bukan agama teroris dan juga bukan agama yang keras.
            Islam, memang menjadi agama minoritas di benua Biru. Tetapi peninggalannya sangat luar biasa. Dalam film ini hanum diajak oleh Fatma untuk mengelilingi peninggalan Islam. Kemudian dia pergi ke Paris dan bertemu dengan seorang Mualaf bernama Marion Latimer, dia memberikan banyak pelajaran tentang keagungan Islam pada zaman dulu di Negara menara Eiffel itu. Oya, aku lupa. Marion juga, memberikan satu kejutan, bahwa jika kita memperhatikan kerudung yang dipakai Bunda Maria, kita akan menemukan lafadz lailaha illa Allah dalam pinggiran kerudungnya yang berwarna putih. Subhanallah !
            Masih dengan Jiwa Rangga, saat dia dihadapkan dalam posisi dilemma antara sholat jum’at atau mengikuti ujian, saat harus shalat di tempat umum, saat harus berhati-hati dalam makan, dan juga saat dia dihadapkan oleh beberapa pertanyaan dari mulut temannya Stefan, dia seorang Atheis.
            “udahlah ikut ujian saja”
            “tapi, aku harus shalat jum’at “
            “memangnya Tuhan kamu adannya Cuma hari Jum’at saja”
            Hah ! lalu…… ketika dia mencoba untuk berpuasa, dan disaat ikut berbuka puasa bersama Rangga, ada yang menggelitik dalam ucapannya.
            “kalau aku menjaga keselamatanku, itu tentu sudah aku pertimbangkan, aku tinggal bayar ke Asuransi dan kantornya pun ada. Kalau Tuhan kamu Kantornya dimana Rangga ?” ( kurang lebih seperti itu dialognya J )
            Stefan… stefan…. !!!
            Pada akhirnya kamu (stefan) akan tahu begitu indahnya Islam. Film ini memberikanku rasa untuk semakin semangat dan juga semakin percaya serta yakin bahwa Islam memang agama yang Damai dan juga Indah. Mungkin pengalaman Rangga dan juga aku tidak jauh berbeda, tapi bedanya aku di Bali, dia di Eropa. Ketika di Bali aku tak pernah mendengar adzan berkumandang. Pada waktu shalat jum’at posisiku juga sama dengan Rangga. Aku harus mengikuti seminar International dan harus shalat Jum’at pada waktu bersamaan. Aku harus wudhu di wastafel saat berada di kamar hotel. Dan Aku harus shalat di atas Kasur saat melaksanakan shalat 5 waktu dikamar. Ya, begitulah, jika kita hidup dilingkungan minoritas. Semuanya harus kita jalani dengan ikhlas, sabar dan bisa menjaga keimanan kita hanya untuk-Nya, Allah SWT.

            Pokoknya Beli Bukunya dan Tonton Filmnya !!!! ga nyesel percaya dech …. J  

                                                                                                      Di ruangan Pribadi, 05 Desember 2013 

Tuesday, November 26, 2013

Delo Bule Ning Bali :)

bersama KRISNA
Suling sakti !!!! 
            
Tari kecak ! Bunga Kamboja ! Pantai Kuta ! Bule ! 


                        Itu semua terbang mengelilingi kepalaku. Mereka semua menari-nari di depan mataku. Ah, Tuhan jaga aku dari Bule-Bule berbikini itu. Tolong aku, ku dekapkan kedua telapak tangan diatas kedua mataku. Berharap terhindar dari zina mata.
                        “tu mobilnya sudah datang “  ucap kadek dengan logat Bali yang sedikit kental. Maklum saja, dia orang Bali tapi lama tinggal di Palembang, jadilah dia perwakilan dari Palembang. Wong kito galuh !
                        Kami pun bergegas cepat menuju mobil Travel yang akan membawa kami keliling Bali. Jam menunjukan pukul 17:00, sedangkan kami harus tiba di penginapan jam 7 malam. Supir  travel langsung melaju dan siap membawa kami ke tempat eksotis di Bali. Melewati jalan utama, melawati tikungan, hingga memasuki jalan kecil yang hanya cukup untuk satu mobil. Tapi, ada hal yang menarik selama perjalanan kawan. Tak sedikit pun jalan yang kami lewati, sepi dari café, sepi dari bule, dan sepi dari rumah-rumah penggiat souvenir khas Bali. Bener-bener W.O.W deh !
at Sanur Beach 
                        Taraaaaaa…….. Sanur Beach !
                        Hamparan pasir dan birunya laut terpampang nyata di hadapan kami. melewati aroma jagung dan bir-bir yang terjual bebas. Sungguh indah, sunset mulai tampai di upuk barat. Langit berkilau keemasan, cahaya senja menyelinap di balik pepohonan bakau. Turis asing dan juga domestic memenuhi pantai sanur. memang tak seindah pantai kuta. Tapi, kami berusaha menikmati moment ini dengan mengabadikannya di setiap lembar lensa kamera, Nikon, BB, Samsung, dan juga Nokia ( maaf Mito kesayanganku tak termasuk, hehehe).
                        Tak terasa, waktu kami habis. Kami harus segera pulang kepenginapan. Tapi kami membuat janji dengan supir travel, kalau nanti malam setelah acara selesai jemput kami di penginapan. Kami ingin menghabiskan malam ini dan ingin tahu malam di pulau Dewata. Dia pun menyetujuinya.
***
jalan Tol Bali yang Indah Menawan
                        Agenda hari ini selesai ! hati riang seperti mendapatkan hadiah tak ternilai harganya, walau mata ngantuk dan badan lelah. Tapi, tak sedikit pun menahanku untuk melangkah menikmati malam bersama kawan-kawan nusantara.
                        Mobil melaju, memasuki jalan Tol Bali. Subhanallah ! indah banget. Kalau di Serang, jalan Tol mungkin Cuma Lurus, belok, dan mulus. Tapi di Bali, Gila….. jalan Tolnya di bikin kaya jalan Fly over, di bangun diatas air, di tambah lagi ada jalur untuk motornya juga. Beuuuuh ! Motor aja bisa masuk Tol, padahal Bali ga macet-macet banget. seharusnya yang kaya gini adanya di Serang, biar ga ada macet lagi. Bener-bener Indah.
                        Tak terasa, mobil mulai memasuki area parkir sebuah toko yang sangat ramai. Di depan toko itu berdiri sebuah patung gagah, memakai mahkota raja dan juga memegang suling sakti. Ku perhatikan dan ku lihat tulisan didepan pintu toko besar itu “ KRISNA oleh-oleh khas Bali “. Ow ow ow ! ternyata Pusat oleh-oleh khas Bali. Emangnya kamu punya uang yan ? pergi ke Bali aja dengan uang pas-pasan, so-so an ke pusat oleh-oleh lagi. Mau belanja apa loe? Paling loe Cuma gigit jari doang ? sadar diri loe ?!. suara itu memaki diriku. Suara itu menghinaku. Tapi, ada benernya juga sih. Ah ! bodo amat, yang penting masuk dulu, urusan beli atau ga, itu masalah nanti dengan security. Hahaha
numpang eksis di depan pintu KRISNA :)
                        Tangan dan mata mulai jelalatan kesana-kemari. Melirik baju, pernak-pernik , cinderamata sampai makanan ringan khas Bali. Pegang sana- pegang sini tak ada satu pun yang masuk dalam keranja belanja ( Cuma pegang-pegang doang). Tapi, ada yang menarik perhatianku. Udeng, hiasan kepala khas umat Hindu dan identik dengan Bali. Ya, udeng, memang menjadi mascot penting dalam pikiranku jika aku bisa pergi ke Bali, dan saat ini aku di Bali dan Udeng sudah ada di depan mataku. Kulirik harganya, ga terlalu mahal. Ada dua pilihan udeng, mau pilih yang di pakai sendiri atau yang sudah jadi. Aku coba dua-duanya. Aku meminta bantuan Kadek untuk memakaikan udeng, karena dia orang Hindu dan dia juga Orang Bali, walau pun sekarang tinggalnya di Palembang. Alhasil, Ganteng juga ! hahahah ( P-D sendiri ). Ku ambil satu udeng yang sudah jadi, bermotif batik, berwarna hijau dengan hiasan tinta emas.
kain Batik khas Bali
                        Tak banyak yang ku beli. Karena melihat kantong juga, dan takut ga bisa pulang nantinya. Kartu ATM memang selalu terbuka lebar bagi siaapa saja yang ingi berdonasi, tapi sampe di Bali tak ada sepeser pun yang masuk dalam rekeningku. Nasib !
                        Puas memanjakan hasrat belanja. Kami pun langsung pulang, jarum jam sudah menunjukan pukul 00:00 WITA. Tapi, tiba-tiba.
                        “ Mau ke Kuta ga ?” Tanya supir Travel di balik stir mobilnya.
                        “ Wah mau banget Bli “ jawab kami serentak dengan senyum melebar.
                        “ tapi, Cuma lewat saja yah “
                        “ ya, ga pa-pa Bli, yang penting ke Kuta ya “
                        Malam di Kuta tidak seperti malam di daerahku. Di sini, malam bagaikan siang hari. Bedanya  ada lampu-lampu cantik yang berkerlipan di setiap café. Bangunan berarsiterktur Bali bertengger dengan kokoh. Bukan hanya rumah ternyata, tapi hotel, pertokoan dan restoran pun masih menggunakan nuansa Bali, walaupun hanya sedikit. Mobil mini bus yang kami tumpangi memasuki kawasan Kuta. Jalannya tidak begitu besar, tapi ramenya minta ampun. Café-café berjejer rapi di setiap bahu jalan hingga menimbulkan kemacetan yang tak dapat di hindari.
                        Mobil melaju dengan merayap. Di samping kiri dan kanan, berkerlipan lampu-lampu disko. Hampir di setiap café. Paha mulus, tengtop, pria bertelanjang dada sampe adegan ciuman tersaji dengan indah di sepanjang jalan Kuta. Mungkin mereka merasa bahwa ini bukan Indonesia tapi ini negaranya. Macetnya Kuta berbeda dengan macet di daerahku, macet di sini serasa sedang menonton acara TV asing. Beuuuh ! pokoknya Astagfirullah deh.
                        Mata tak pernah berkedip. Seakan-akan tidak ingin ada yang terlewatkan. Yang depan tunjuk sana, mata mengikuti. Yang tengah menunjuk arah sini, mata juga mengikuti. Hingga akhirnya,
                        “ Wow ! liat tuh SPG nya, gilaaa men ! kurang ke atas “
                        “ itu juga, beuuuh ! eeeh di dalam lebih parah loe ! “
                        “ mana ? mana ? beuuuh iya iya… gilaaaaa , parah banget ya “
                        “ parah, parah loe… tapi, tetep aja di liat. Hahahahah “
                        Suara mereka nyaris seperti turis Ndeso. Tapi, emang bener, kita tuh kaya orang ndeso. Datang dari kampung, masuk kota Kuta penuh dengan Bule-bule yang aduhai …. Masyallah. Liat kiri-kanan seperti liat emas satu truk. Berkelip-kelip mata.
                        Jarum jam sudah menunjukan pukul 01:00 dini hari. Mini bus yang kami tumpangi pun melesat maju dengan cepat. Membelah dinginnya malam, melewati indahnya jalan Tol Bali dan memasuki penginapan kami. Aaaaah ! perjalanan yang melelahkan tapi mengasyikan. Selamat Tidur ! J
                                                                                                                       
                                                                                                              Denpasar, 25 Oktober 2013
           

           

             

Monday, November 18, 2013

Ngurah Rai Airport

ngagaya ala Wong kaya :)
                “ Welcome to Bali ” suara itu sesaat terdengar nyaring disetiap speaker yang ada di dalam kabin pesawat.
                Yuhuuuuu …. Bali … aku sampe Bali…. !!!!
                Satu persatu penumpang pesawat mulai beranjak dari tempat duduknya. Mereka mengambil barang bawaan mereka. Aku pun langsung berjalan mendekati kedua temanku, tak ku sangka walaupun jarak kami Cuma beberapa bangku tapi tetap saja membuat kami kangen dan langsung bercerita tentang kejadian pas tadi pesawat mau take off. Hahaha
                “tunggu-tunggu…. Hape gue yana, hape gue.. mana ? “ Yeni mendadak bingung, dia kehilangan HP nya. Langkah terhenti sejenak, tas yang ia bawa dibuka-buka. Tapi tetap tidak ada HP nya. Haduuuh pasti bukan ilang ini. pasti dia lupa menyimpannya, Pikirku. Dan ternyata benar. Hp dia terselip di beberapa tumpukan barang yang ada didalam tasnya. Hah ! Rempong.
                Anak tangga mulai kami turuni satu persatu. Berjalan beberapa meter dan mobil jemputan penumpang pun datang. Mobilnya sih tidak jauh beda dengan mobil bis biasa, malah enakkan mobil bis, bisa duduk, bisa tidur lagi. Sambil menunggu mobil penuh sampai mobil berangkat, obrolanku dan kedua temanku ini tak jauh dari kata “sock, hah,delay dan muka cengo… eits, 30 hour”  hahah. Dan mobil mulai memperlambat jalannya saat tiba didepan pintu Barang yang dilapisi plastic tebal seperti gudang Freezer. Yang biasa digunakan  untuk membekukan daging atau ikan. Mobil pun berhenti.
                Tak ada satu pun penumpang yang turun, tapi pintu mobil terbuka. Ah, mungkin ada barang yang mau diturunkan, pikirku. Ternyata TIDAAAAAAK ! itu pintu untuk kami masuk Bandara. OMG ! Ngurah Rai, kenapa kau kejam sekali padaku. Loe kira gue barang pabrik. Masa, mau masuk bandara lewat pintu kaya pintu gudang gitu.
                “bener ga nih, masa disini ?” semua orang berbicara seperti itu, mereka tampaknya tidak terima dengan keadaan itu. Jelas saja, masa turun dari pesawat masuk Bandaranya lewat pintu kaya gitu. Hah !
                Kesel sih, tapi gimana yah, hahaha lucu juga. Kami pun memasuki Bandara Ngurah Rai. Bayangan tentang Bandara ini Mewah, Megah, Indah, Bersih dan Fantastic deh. Secara, Bandara ini kan yang menyambut para Kontestan wanita-wanita cantik seluruh dunia pada bulan September lalu. Tapi, lagi, lagi … Biasa aja. Ndeso emang ndeso aja, tak ada momen yang tak boleh ditinggalkan. Jepretan kamera BlackBarry pinjeman mulai hunting sana-sini.
                “hey ! “ teriakan kecil dari bapak berseragam biru, bertopi biru itu menahan kamereku. Aku pun meminta maaf dan tak mengulanginya lagi (kalau ga keliatan ya lanjut lagi).
                Yeni sibuk menunggu Koper dan tas ransel kami. sedangkan Yehan kemana yah ?. Walah, dia malah asyk mengintil-ngintil lembaran demi lembaran Promo Tour Bali yang disediakan pihak Bandara. Aku pun mengikuti langkah Yehan. Lembaran kertas promo itu sudah terkumpul dan saatnya melirik ke escalator ( aku tak tahu namanya) tempat tas dan koper dari bagasi peswat diturunkan. Yup ! koper dan ransel kami sudah ditemukan, sekarang kembali ke Peta. Peta. Peta. ( Dora Kaliii ). J
para penumpang sedang menunggu ransel dan kopernya.
ini hasil jepretan nyuri loh ! :D
                Bali, ya, Bali….. Pulau dewata nan indah. Tak luput dari bunga dan sesajen. Saat itu Yeni, memasuki kamar mandi dan segambreng bunga sesajen tersimpan rapi didepan cermin. Kami berniat untuk melaksanakan sholat isya. Ya, kami memaklumi kalau mayoritas beragama non Muslim tapi, Musholahnya di jangan dibiarkan bau gitu donk mas. Mau tidak mau, dengan niat lilahita’ala kami pun sholat dengan alas sajadah yang bau na’uzubillah.
                Cacing diperut tak dapat dikompromi. Mereka sudah menonjok-nonjok perut kami dari tadi. Kami pun keluar Bandara dan……… Biasa aja. Mungkin ini pintu keluar jadi ga terlalu wah. Dengan gaya orang kaya padahal kere kami melewati setiap supir taksi yang mengampiri kami. troler yang mengangkut ransel dan koper pun tak lelah menemani kami mencari warung makan. KFC, mudah-mudahan ada dan masih buka. Jam menunjukan pukul 11:00 malam WITA. Sampai ujung pintu keluar, tak ada KFC atau warung nasi yang masih buka. Walhasil, kami pun memilih King Burger tempat kami untuk menyantap makan malam. Fried chicken dan nasi putih ditemani segelas lemon tea, mampu mengobati rasa lapar.
                Aha ! kalian tahu kawan, kenapa kami memilih King Burger ????
                Alasannya satu. Numpang duduk sambil nunggu matahari terbit ( nginep on the street / Gembel ). Luntang-lantung ( wow bahasa apa itu ?) maksudnya kesana-kesini ga ada tumpangan. Kami hinggap disini karena melihat dua bule Jepang yang tertidur dan membawa bekal banyak, di tambah lagi ada tulisan “24 Hour “. Akhirnya kami niatkan menghabiskan malam di bandara Ngurah Rai, tepatnya di King Burger.
                Dasar mata Ndeso, lihat bule cantik lirik, lihat bule Item ngelirik, lihat bule gemuk ngelirik, lihat bule Buluan ngelirik. Wow ! hahhaah itu kebiasaan kami selama di King Burger. Eh iya, ternyata ada cewek bermuka Chines yang tak jauh dari tempat kami duduk. Dia bersama satu perempuan, dan dua pria Indonesia. Tapi…. eh.. eh.. eh…. Kok dia naik di atas si pria indonesia. Waaaah ! ga bener nih .
                “Yan, itu tuh Cowok tahu, bukan cewe. Jadi dia cewe jadi-jadian” bisik temanku.
                “ah masa, tapi cantik loh, tapi.. iya.. kok ga ada…. ( sensor masih kecil )…..” hahahhaha…. Tenyata !
                Malam semakin larut. Tapi aktivitas bandara tidak pernah sepi. Bule domestic dan bule manca Negara masih hilir mudik di depan kami. dan akhirnya, kami bertemu panitia dan membawa kami ikut serta dalam mobil jemputan untuk Speaker. Hah ! muka nebeng, ya, Nebeng aja. To be Continue…….   

                                                                                                            Ngurah Rai, 24 Oktober 2013 



                   

Sunday, November 17, 2013

My First Flight

ngeksis dulu sebelum terbang :)
                Kunaiki anak tangga pesawat Lion Air. Masih belum sadar, aku masih dalam lamunan. Ternyata aku bisa naik pesawat. Di pintu kabin telah berdiri dua wanita cantik, menebarkan senyum kepada setiap penumpang. Yang satu rambutnya di ikat ke belakang dan yang satu lagi dibiarkan terurai karena rambutnya hanya diatas bahu. Tubuhnya seksi dan suaranya aduhai !
                Aku pun duduk sesuai dengan nomor kursiku. Aku, Yehan dan teman kami yang satu lagi tidak luput dari jepretan kamera ( paparazzi ternyata mengikuti kami, mereka mengira bahwa kami artis dari Banten, hahhahah). Sayang, tempat dudukku jauh dari jendela.
                “Ibu, boleh kita tukar tempat. Saya pengen deket jendela bu. Boleh yah ?” pintaku pada ibu paruh bayah yang sedang asyik di samping jendela.
                Tapi ibu itu tetap tidak mau. Katanya, dia sengaja memesan tempat duduk di dekat jendela. Hmmm kalau bisa pesan tempat duduk, kenapa tadi ga ngomong aja si Mbaknya. Ya sudahlah !
                Sesekali ku berdiri, melihat kursi-kursi pesawat dari depan hingga belakang. Apakah sudah terisi semua. Ternyata sudah. Banyak Bule juga yang naik pesawat Lion Air, hihihi. Aku pun duduk kembali, langsung ku kenakan sabuk pengaman dank u coba untuk membukanya kembali. Alamak ! bagaimana ini, aku ga bisa bukanya. Tiba-tiba datang wanita tua, gadis, dan juga laki-laki bewok berperawakan arab. Mereka menghampiriku. Waduuuh, ada apa ini?
                “sorry, can you move from your sit Mister. Coz my Mom just alone here” pinta laki-laki arab itu
                “oooooh… no, I sit here, coz there is my friends” sambil ku tunjuk kedua temanku yang berada di sebrang tempat dudukku.
                “ah, come on. Please ! you can sit over there, on number 25 ”
                Aku bingung, ini penerbangan pertamaku, ini tempat duduk pertamaku. Dan aku harus di bingungkan oleh orang arab ini. OMG ! keadaan semakin membingungkan, orang arab itu bercakap-cakap dengan bahasanya dan aku pun bercakap-cakap dengan bahasaku. Dalam hatiku sebenarnya aku rela pindah dari tempat dudukku, tapi si arab ini tetap ngotot agar si ibunya duduk di tempatku ersama adik perempuannya.
                “Ya, Mister I know, I want to move now but……but.... ”
                Akhirnya pramugari dan pramugara datang menghampiri kami.
                “mas tolong kerjasamanya agar penerbangan ini bisa dilakukan dengan baik, mas bisa duduk di tempat si ibu ini di nomor 25” pinta Pramugari cantik sambil menunjuk kea rah kursi nomor 25.
                “ya, saya tahu Mbak, tapi masalahnya ini…… “ sambil ku menunjuk kearah sabuk pengamanku yang susah dibuka.
                “ahaha Ya Tuhan. Ngomong dong mas dari tadi” senyum pramugari itu manis tapi menyakitkan. Dia kira aku ini orang desa. Tapi emang betul sih, sabuk pengamannya sulit dilepas, mungkin faktor Ndeso kali yah. Hahha
                Orang arab dan aku sudah selesai, sekarang aku dihimpit oleh dua orang jepang, yang satu seger yang satu lagi ga deh. Pilot mulai menyalakan mesin pesawat. Ku lihat kembali sekelilingku ternyata bule semua. Dari depan, belakang, dan  sampingku bule semua. Ah, bodo. Bulenya juga pada bewokkan.
                “Perhatian-perhatian. Saya pramugari senior menginformsikan, bahwa penerbangan kita di tunda selama 30 menit kedepan. Karena lalu lintas sedang ramai. Terima kasih”.
                “Attention. I’m senior flight attendant  informed that our flight delayed for 30 Hour…….. because the traffic was busy. Thank you”
tiba-tiba.......
         Wkwkwkwkkwkwkwkwkkw. Mereka tertawa bebas, aku pun tak sanggup menahan tawa saat melihat ekspresi bule-bule di sekitarku yang tertegun kaget. Muka cengo, kaget, hahahah.
         “What ??? 30 Hour !? Realy” bule yang ku tebak asal italia dan spanyol itu menganga dengan ekspresi muka kaget dan bingung. Bukannya kasihan melihat dia, aku malah tetawa dibuatnya. Di tambah lagi dengan ekspresi muka cewek jepang yang berada di sampingku. Ah Tuhan, penerbangan di tunda, ngetem, seniornya salah ucap lagi. Yang harusnya 30 minute malah jadi 30 Hour. Yaaaaa jelas saja bule-bule pada kaget. Hahhaha

Tak kan pernah terlupakan !
           Mesin pesawat mulai berderu kencang. Dia berjalan diatas landasan dengan cepat dan ….. Huh ! perlahan tapi pasti. Aku dan pesawat meninggalkan Bandara Soetta. Diketinggian entah berapa ribu kaki ini aku mulai menikmati penerbangan pertamaku, menikmati indahnya cahaya lampu yang kecil-kecil
dari ketinggian dan juga menikmati cantiknya cewek jepang yang berada di sampingku. Selamat Malam…..
                                                                                               

                                                                                                          Di atas ketinggian, 24 Oktober 2013