Sunday, December 8, 2013

Kunjungan Ke Rumah Ibadah

tempat bersemayam sang buddha 

           Agama terkadang menjadi sesuatu yang sangat mendamaikan tapi juga menjadi pertikaian. Indonesia, menjadi Negara yang mempunyai banyak keunikan. Dari berbagai keragaman dan juga perbedaan. Ras, suku, etnis, budaya, bahasa dan juga agama. Dari keaneka ragaman dan juga perbedaan tersebut bangsa Indonesia di satukan dalam ikatan Bhineka Tunggal Ika.

            Dalam acara Interfaith Youth Forum ini kami datang dari berbagai latar suku, bahasa dan juga Agama. Aku sangat senang bisa bertemu mereka dalam event ini. saling bertukar pikiran, saling menghargai, saling menghormati, saling menyayangi, dan juga mengikat tali persaudaran. Walaupun kami berbeda agama, berbeda bahasa, berbeda suku, berbeda budaya. Tapi kami saling mengikat bahwa kami bangsa Indonesia yang harus menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaran dan juga toleransi antar sesama
.
            Bukankah Allah berfirman dalam al-quran surat Al-Hujurat ayat 13 :
Klenteng 
            “Wahai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Tuhan Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
            Maka siang ini, agar bisa lebih memahami dan juga menjaga toleransi antar umat beragama. Panitia mengagendakan hari ini untuk kunjungan ke rumah ibadah dari setiap agama. Rumah ibadah pertama yang kami kunjungi adalah Klenteng, Rumah ibadah bagi umat Kong Hu Cu. Memasuki gerbangnya kami di sambut oleh pemuka agama dan juga penjaga Klenteng, bukan hanya itu, kami juga disambut oleh tempat dupa yang sangat besar dan lampu-lampu lampion dilangit-langit Klenteng. Ada yang menarik dalam batinku, yaitu keberadaan patung yang teletak didepan tempat sembahyang. Asing, bahkan tidak pernah aku lihat sebelum. Ku Tanyakan pada Suwan, seorang teman yang  beragama Kong Hu Cu, yang kemudian aku panggil dengan sebutan Koko. Katanya itu adalah Nabi Kong She/ Kong Ci.
            Eit, sebelum melanjutkan ke rumah ibadah lainnya. Ada lagi yang mengelitik dalam batinku. Yaitu keberadaan secuil nasi dan juga bunga-bunga sesajen yang di tempatkan diatas daun pisang yang sudah dibentuk dengan rapi. Hapir disetiap depan rumah yang aku lewati, aku mendapatkannya. Rasa ingin tahuku bermuara dalam sebuah pertanyaan kepada panitia yang beragama Hindu.
            “Bli, kalau itu apa maksudnya, kok, disetiap rumah pasti ada ?” sambil menunjuk ke arah nasi dan bunga sesajen.
            “oh itu, kalau menurut kepercayaan umat Hindu, itu sebagai bentuk Syukur kita pada Tuhan yang telah memberikan Rizki” jelasnya dengan logat Bali yang kental.
            “setiap pagi harus gitu, Bli ?”
            “ Ya “ 

            Menarik. Kami pun melanjutkan ketempat ibadah lainnya. Mobil melaju santai, dan memasuki Jalan Tol terindah di Indonesia. Kami pun sampai di sebuah tempat. Aku melihat, ternyata didepanku saat ini telah berjejer rumah ibadah dari setiap agama. Mulai dari Masjid, Gereja Katolik, Vihara, Gereja Protestan dan juga Pura. Hanya Klenteng yang terpisah, karena dulu Kong Hu Cu belum diakui oleh Negara Indonesia.
            Luar Bisa, Bukti toleransi antar umat beragama di Bali. Membangun rumah ibadah dari setiap agama didalam satu komplek. Kami pun memasuki Vihara, disambut oleh patung Budha, berlantaikan Shio, berdindingkan arsitektur patung-patung yang berwarna putih bercampur dengan warna emas. Tidak mau melewatkan moment berharga ini. jepretan lensa kamera pun membidik gaya kami. gaya alay, gaya meringis, gaya marah seperti Naga, dan masih banyak gaya-gaya yang lainnya. Hahhaha. Kami pun dibawa kedalam sebuah ruangan yang cukup luas. Lantainya seperti dari kayu, berjejer rapi bantal-bantal kecil yang diatasnya terdapat sebuah kitab bernama “PARITTA SUCI”, dan juga patung Buddha yang duduk disinggasananya dengan gagah lengkap dengan suguhan makanan yang aduhai, andai boleh dimakan.  To be Continue…..
                                                                                                            Dalam Bis, 27 Oktober 2013

No comments:

Post a Comment