MERRY RIANA “Mimpi
Sejuta Dollar” sebuah film yang sebelumnya tak pernah kusangka akan membuatku
termotivasi dalam menjalani hidup. Film ini diadaptasi dari buku yang berjudul “Mimpi Sejuta Dollar” yang ditulis oleh Alberthiene
Endah. Jujur aku belum pernah membaca
bukunya tapi film yang dibesut oleh sutradara Hestu Saputra ini mampu membuat
jiwaku bersemangat dalam meraih kesuksesan. Namun disamping itu, seiring
pemutaran film aku teringat akan kisah dari salah temanku. Ya, seorang teman
yang sangat luar biasa menurutku.
Seorang teman yang
telah lama hidup diperantauan, seorang teman yang tak takut akan setiap resiko
hidupnya, menurutku ia sangat kuat, hebat, bahkan lebih hebat dariku. Ya, lebih
hebat dariku. Dalam kesendirianya, tanpa ayah dan keluarga disampingnya, ia
mampu mengalahkan rasa takut akan kelaparan, rasa takut akan kesendirian karena
ia yakin dimanapun ia berada disana ada Tuhan yang selalu menyertainya dan
disana ada teman yang selalu menjadi penyemangat dalam hidupnya dan kemudian ia
sebut mereka sebagai keluarga.
Selama hampir sepuluh
tahun ia hidup diperantauan dan baru satu kali ia menginjakan kaki dikampung
halamanya yang sangat ia rindukan. Menjenguk ayah yang sedang sakit kemudian
kembali keperantauan lagi. Bekerja banting
tulang, dan mencari celah untuk bekerja.
Yang lebih salut lagi
dari dirinya, yaitu beramal, menjadi seorang relawan walaupun hidup dalam
kesederhanaan. Ya, kami sering berbagi cerita satu sama lain, karena kehidupan
kami hampir sama namun beda keadaan. Sama halnya dengan film Merry Riana.
Merry Riana yang
diperankan oleh Chelse Islan ,seorang wanita Indonesia korban dari krisis
Politik pada tahun 1998 menggantungkan hidupnya di Negeri Singapura. Dengan
segudang kesusahan dalam financial, tempat tinggal dan tentunya hidup sebatang
kara.
Berawal dari
pertemuannya dengan teman SMA, Irene (Kimberly Rider) ia mendapatkan tempat
tinggal walaupun pada akhirnya selisih paham antar mereka terjadi yang membuat
mereka harus berpisah. Dan Alva (Dion Wiyoko) seorang mahasiswa senior yang
menjadi penjamin hidupnya selama di Singapura yang mampu membawanya kepada
titik kebahagian.
Hidup di Negara
Singapura tidak seperti hidup di Indonesia. Dengan segala peraturan yang super
ketat, sebagai mahasiswa “terpaksa” (karena harus tinggal diasrama ia harus
menjadi mahasiswa di Nanyang Technological University sekaligus harus membayar
uang kuliah sebesar 40.00 Dollar selama 4 Tahun). Ia banting tulang kesana
kemari demi mendapatkan uang. Hidup hemat dan bekerja keras menghiasi
hari-harinya. Mulai dari bekerja membagikan brosur, sampai mengikuti investasi
asuransi yang pada akhirnya ia tertipu.
Dia tidak mau kalah
dengan kegagalan yang ia kira akan sukses. Alva mengajaknya untuk berinvestasi
saham lewat online. Terbukti dalam beberapa minggu pundi-pundi dollar masuk
dalam rekeningnya. Dia bahagia dengan itu, tapi disis lain ada yang terluka,
Alva yang sangat mengharapkan cinta dari Merry. Dan Merry hanya sibuk dalam
dollar-dollarnya. Pada akhirnya ia tertipu kembali dengan saham yang tiba-tiba
saja bangkrut dan membawa semua dollar miliknya sekaligus membawa kebahagian
dalam hidupnya, Alva.
Ia pun mulai mencari
kerja, kerja yang sesungguhnya. Ia bekerja di Asuransi yang pada akhirnya mampu
mengantarkanya menjadi orang yang sukses berkat bantuan seorang ibu tua yang
menaruh asuransi sebesar 100 ribu dollar. Walaupun berhasil mendapatkan apa
yang ia inginkan ternyata kebahagian itu terlihat kosong tanpa ada seseorang
yang amat menyayanginya.
Dari film ini aku
menyimpulkan pesan dan motivasi yang sangat berharga;
1. Gagal
adalah awal dari keberhasilan 2. Berani mencoba adalah sikap dari orang sukses
3. Kebahagian itu mahal, lebih mahal dari emas dan kekayaan
Terima Kasih,
Yana Ahmad
Duh, ngebaca tulisan ini jadi nyesel kemaren gak jadi nonton film Merry Ryana-Mimpi Sejuta Dollar -_-
ReplyDeleteAyooo tonton filmnya lang...
Deletepak Habibie aja nonton masa lo ga ?? Hahahha
Keren dan inspiratif banget..