Sedikit
mengulas isi buku 30 Paspor. Buku ini berisi cerita mahasiswa-mahasiswa yang
tersasar dinegeri orang. Tekad mereka untuk melancong sebenarnya ada yang niat,
ada yang terpaksa dan ada yang karena nilai (bedanya apa yah terpaksa dan
karena nilai ??). awalnya melancongnya mereka karena berada dikelas Pemintal
(Pemasaran Internasional) yang dididik oleh Guru Besar FE UI Rhenald Kasali,
bapak dosen ini mengajarkan anak didiknya untuk siap dan berani menjadi
Rajawali jangan menjadi burung yang selalu diam dalam sangkarnya.
Bapak
dosen yang satu itu, mengajar dengan cara yang berbeda, mengajar dengan caranya
sendiri, yaitu mewajibkan peserta didiknya untuk melancong ke negera-negara
asing yang tidak berbahasa melayu, bukan hanya itu tapi mahasiswa itu pun harus
berangkat sendiri dan satu negara satu mahasiswa. Amizing. Tak heran banyak dari orang tua mahasiwa menentang caranya
mendidik, bukan hanya orang tua, tapi dosen-dosen pun merasa heran dengan apa
yang dilakukan oleh guru besar itu.
Pada
saat kita membuka lembaran pertama buku in,i kita akan disuguhkan dengan
berbagai testimoni dari beberapa orang hebat Indonesia. kemudian kata pengantar
dari sang Guru Besar Rhenald Kasali, Melepas
Kodi dan Mengajarkan Rajawali Terbang, judul kata pengantar yang sangat
membuatku terketuk dan membuatku ingin segera terbang seperti rajawali.
Ditambah lagi dengan kalimat yang berada diparagraf penutup kata pengantar “Paspor adalah tiket untuk melihat dunia”.
Buku
yang aku beli, kebetulan adalah buku kedua, buku yang pertama aku tidak sempat
membelinya karena aku tidak tahu, beneran tidak tahu. Awalku melihat buku ini
memang sudah kepincut, bak seorang laki-laki yang melihat wanita cantik, tak
mau lepas dari pandangan, dan tak mau lepas dari pikiran. Sayangnya pada saat
itu aku tidak membawa uang lebih untuk membeli buku, alhasil aku baru bisa
membelinya setelah menabung selama 5 hari, ingat lima hari, padahal bukunya sih
Cuma seharga Rp.64.000-, tapi aku enggan untuk meminta uang kepada orang tuaku
untuk membeli kebutuhanku sendiri.
Setalah
membeli buku ini, rasanya tuh seneng banget seperti pas pertama kali aku
menerima paspor, ya menerima paspor, betapa senangnya bukan. Cerita yang
disajikan dalam buku 30 Paspor ini sangat amat menginspirasi, ternyata untuk
keliling dunia itu tidak semahal yang kita bayangkan, tidak sesulit yang kita
khawatirkan dan tidak se-menakutkan. Tapi entahlah, mungkin ini hanya
perasaanku saja yang sehati dengan buku ini, kalau kalian mungkin punya
pandangan yang berbeda, ya, manusia
memang memiliki pandangan dan penilaian yang berbeda. Ada yang berpikir bahwa “buat apa sih jalan-jalan”, “buat apa sih
keluar negeri”, buat apa sih bikin paspor, kaya ga ada kerjaan aja, kaya lo mau
keluar negeri aja, kaya lo punya duit aja”, buat apa sih, buat apa sih, buat
apa sih.. itu saja yang keluar dari lisan orang-orang yang tidak sehati
dengan dunia perjalanan. Bagiku perjalanan bukan sesuatu yang hanya sekedar
menikmati wisata alam atau tempat rekreasi semata, tapi lebih dari itu, kita
bisa menemukan orang baru, tempat baru, perjalanan baru, transportasi baru dan
lain sebagainya, dan tentunya pengalaman baru seperti yang tertulis dalam buku
30 Paspor ini.
Seperti
yang dilakukan Saggaf Saim S. Alatas, mahasiswa ini pergi ke benua Eropa, Eropa mahal bro, dari mana duitnya?? Ia
pun berusaha untuk mewujudkan mimpinya untuk pergi ke Eropa dengan berusaha
menjadi calo tiket konser dan membuat proposal sponsorship. Ia pun tiba di
benua biru, menjelajahi setiap sudut kota, berbagi pengalaman dengan orang
baru, makanan baru, tempat tinggal baru dan ah, sangat luar biasa.
Kemudian
ada Garinzafira Sabrina, mahasiswi ini melancong ke negara yang sangat banyak
TKW-nya, yaitu TAIWAN. Ada hal yang menarik dari cerita Sabrina ini, ia
tidak tahu tempat yang akan menjadi tempat menginapnya selama di Taiwan, ia
hanya memesannya lewat internet dan sedikit membaca komentar dari reviewer. Alhasil hotel yang ia tempati
ternyata hotel yang berada didalam gang, hotel itu bercat merah dengan aksen
arsitektur china, dari luar telihat menyeramkan tapi ketika masuk dalam kamar,
suasana romatis langsung menyelimuti ruangan, lengkap dengan dua buah kondom
yang terletak diatas meja. Hahaha, memang sering ada hal-hal konyol yang akan
kita temukan dalam setiap perjalanan. We’ll see...
Ada
lagi Ayu Ariandini yang mendapatkan keberuntungan dinner bersama orang
terkal di jepang. Kemudian Aland Diknas Tanada, yang mempunyai kisah menarik
sekailgus membuat hati bertanya-tanya. Perjalanan yang ia lakukan adalah ke
India, ya India, negera yang terkenal dengan Bollywoodnya tapi masih banyak
kemisikinan dan penipuan yang merajalela, itu yang ditulis oleh Aland. Sebelum
ia berangkat banyak sekali iming-iming untuk merubah rute perjalanannya, dan
juga ketakutan yang menghiasi pikirannya, ia ditakuti bahwa setibanya di
Bandara India jangan mudah percaya dengan Calo, karena mungkin saja mereka akan
mengambil Ginjalmu, tapi Aland menanggapinya dengan tidak serius, “Cuma satu
kan? masih ada satu ginjal lagi ini”.hahaha parah. Dan masih banyak lagi
cerita-cerita konyol mereka yang membuat hati para traveller ingin segera melakukan
trip yang mereka lakukan, termasuk Aku.
Yanvanjava

No comments:
Post a Comment