Sunday, July 12, 2015

"30 Paspor" Mengantarkanku Untuk Segera Berburu Tiket

“Ya Allah 30 Paspor, membuat aku semakin greget sama perjalanan, ditambah lagi dengan promo tiket yang sangat menggiurkan, oh Tuhan Tolong Baim...” kalimat yang terucap dalam hati saat membaca lembar demi lembar buku yang sangat menginspirasiku untuk segera melancong ke belahan dunia.

Sedikit mengulas isi buku 30 Paspor. Buku ini berisi cerita mahasiswa-mahasiswa yang tersasar dinegeri orang. Tekad mereka untuk melancong sebenarnya ada yang niat, ada yang terpaksa dan ada yang karena nilai (bedanya apa yah terpaksa dan karena nilai ??). awalnya melancongnya mereka karena berada dikelas Pemintal (Pemasaran Internasional) yang dididik oleh Guru Besar FE UI Rhenald Kasali, bapak dosen ini mengajarkan anak didiknya untuk siap dan berani menjadi Rajawali jangan menjadi burung yang selalu diam dalam sangkarnya.
Bapak dosen yang satu itu, mengajar dengan cara yang berbeda, mengajar dengan caranya sendiri, yaitu mewajibkan peserta didiknya untuk melancong ke negera-negara asing yang tidak berbahasa melayu, bukan hanya itu tapi mahasiswa itu pun harus berangkat sendiri dan satu negara satu mahasiswa. Amizing. Tak heran banyak dari orang tua mahasiwa menentang caranya mendidik, bukan hanya orang tua, tapi dosen-dosen pun merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh guru besar itu.
Pada saat kita membuka lembaran pertama buku in,i kita akan disuguhkan dengan berbagai testimoni dari beberapa orang hebat Indonesia. kemudian kata pengantar dari sang Guru Besar Rhenald Kasali, Melepas Kodi dan Mengajarkan Rajawali Terbang, judul kata pengantar yang sangat membuatku terketuk dan membuatku ingin segera terbang seperti rajawali. Ditambah lagi dengan kalimat yang berada diparagraf penutup kata pengantar “Paspor adalah tiket untuk melihat dunia”.
Buku yang aku beli, kebetulan adalah buku kedua, buku yang pertama aku tidak sempat membelinya karena aku tidak tahu, beneran tidak tahu. Awalku melihat buku ini memang sudah kepincut, bak seorang laki-laki yang melihat wanita cantik, tak mau lepas dari pandangan, dan tak mau lepas dari pikiran. Sayangnya pada saat itu aku tidak membawa uang lebih untuk membeli buku, alhasil aku baru bisa membelinya setelah menabung selama 5 hari, ingat lima hari, padahal bukunya sih Cuma seharga Rp.64.000-, tapi aku enggan untuk meminta uang kepada orang tuaku untuk membeli kebutuhanku sendiri.
Setalah membeli buku ini, rasanya tuh seneng banget seperti pas pertama kali aku menerima paspor, ya menerima paspor, betapa senangnya bukan. Cerita yang disajikan dalam buku 30 Paspor ini sangat amat menginspirasi, ternyata untuk keliling dunia itu tidak semahal yang kita bayangkan, tidak sesulit yang kita khawatirkan dan tidak se-menakutkan. Tapi entahlah, mungkin ini hanya perasaanku saja yang sehati dengan buku ini, kalau kalian mungkin punya pandangan yang  berbeda, ya, manusia memang memiliki pandangan dan penilaian yang berbeda. Ada yang berpikir bahwa “buat apa sih jalan-jalan”, “buat apa sih keluar negeri”, buat apa sih bikin paspor, kaya ga ada kerjaan aja, kaya lo mau keluar negeri aja, kaya lo punya duit aja”, buat apa sih, buat apa sih, buat apa sih.. itu saja yang keluar dari lisan orang-orang yang tidak sehati dengan dunia perjalanan. Bagiku perjalanan bukan sesuatu yang hanya sekedar menikmati wisata alam atau tempat rekreasi semata, tapi lebih dari itu, kita bisa menemukan orang baru, tempat baru, perjalanan baru, transportasi baru dan lain sebagainya, dan tentunya pengalaman baru seperti yang tertulis dalam buku 30 Paspor ini.
Seperti yang dilakukan Saggaf Saim S. Alatas, mahasiswa ini pergi ke benua Eropa, Eropa mahal bro, dari mana duitnya?? Ia pun berusaha untuk mewujudkan mimpinya untuk pergi ke Eropa dengan berusaha menjadi calo tiket konser dan membuat proposal sponsorship. Ia pun tiba di benua biru, menjelajahi setiap sudut kota, berbagi pengalaman dengan orang baru, makanan baru, tempat tinggal baru dan ah, sangat luar biasa.
Kemudian ada Garinzafira Sabrina, mahasiswi ini melancong ke negara yang sangat banyak TKW-nya, yaitu TAIWAN. Ada hal yang menarik dari cerita Sabrina ini, ia tidak tahu tempat yang akan menjadi tempat menginapnya selama di Taiwan, ia hanya memesannya lewat internet dan sedikit membaca komentar dari reviewer. Alhasil hotel yang ia tempati ternyata hotel yang berada didalam gang, hotel itu bercat merah dengan aksen arsitektur china, dari luar telihat menyeramkan tapi ketika masuk dalam kamar, suasana romatis langsung menyelimuti ruangan, lengkap dengan dua buah kondom yang terletak diatas meja. Hahaha, memang sering ada hal-hal konyol yang akan kita temukan dalam setiap perjalanan. We’ll see...
Ada lagi Ayu Ariandini yang mendapatkan keberuntungan dinner bersama orang terkal di jepang. Kemudian Aland Diknas Tanada, yang mempunyai kisah menarik sekailgus membuat hati bertanya-tanya. Perjalanan yang ia lakukan adalah ke India, ya India, negera yang terkenal dengan Bollywoodnya tapi masih banyak kemisikinan dan penipuan yang merajalela, itu yang ditulis oleh Aland. Sebelum ia berangkat banyak sekali iming-iming untuk merubah rute perjalanannya, dan juga ketakutan yang menghiasi pikirannya, ia ditakuti bahwa setibanya di Bandara India jangan mudah percaya dengan Calo, karena mungkin saja mereka akan mengambil Ginjalmu, tapi Aland menanggapinya dengan tidak serius, “Cuma satu kan? masih ada satu ginjal lagi ini”.hahaha parah. Dan masih banyak lagi cerita-cerita konyol mereka yang membuat hati para traveller ingin segera melakukan trip yang mereka lakukan, termasuk Aku.   

                                                                                                                                 Yanvanjava

No comments:

Post a Comment