Tuesday, November 26, 2013

Delo Bule Ning Bali :)

bersama KRISNA
Suling sakti !!!! 
            
Tari kecak ! Bunga Kamboja ! Pantai Kuta ! Bule ! 


                        Itu semua terbang mengelilingi kepalaku. Mereka semua menari-nari di depan mataku. Ah, Tuhan jaga aku dari Bule-Bule berbikini itu. Tolong aku, ku dekapkan kedua telapak tangan diatas kedua mataku. Berharap terhindar dari zina mata.
                        “tu mobilnya sudah datang “  ucap kadek dengan logat Bali yang sedikit kental. Maklum saja, dia orang Bali tapi lama tinggal di Palembang, jadilah dia perwakilan dari Palembang. Wong kito galuh !
                        Kami pun bergegas cepat menuju mobil Travel yang akan membawa kami keliling Bali. Jam menunjukan pukul 17:00, sedangkan kami harus tiba di penginapan jam 7 malam. Supir  travel langsung melaju dan siap membawa kami ke tempat eksotis di Bali. Melewati jalan utama, melawati tikungan, hingga memasuki jalan kecil yang hanya cukup untuk satu mobil. Tapi, ada hal yang menarik selama perjalanan kawan. Tak sedikit pun jalan yang kami lewati, sepi dari café, sepi dari bule, dan sepi dari rumah-rumah penggiat souvenir khas Bali. Bener-bener W.O.W deh !
at Sanur Beach 
                        Taraaaaaa…….. Sanur Beach !
                        Hamparan pasir dan birunya laut terpampang nyata di hadapan kami. melewati aroma jagung dan bir-bir yang terjual bebas. Sungguh indah, sunset mulai tampai di upuk barat. Langit berkilau keemasan, cahaya senja menyelinap di balik pepohonan bakau. Turis asing dan juga domestic memenuhi pantai sanur. memang tak seindah pantai kuta. Tapi, kami berusaha menikmati moment ini dengan mengabadikannya di setiap lembar lensa kamera, Nikon, BB, Samsung, dan juga Nokia ( maaf Mito kesayanganku tak termasuk, hehehe).
                        Tak terasa, waktu kami habis. Kami harus segera pulang kepenginapan. Tapi kami membuat janji dengan supir travel, kalau nanti malam setelah acara selesai jemput kami di penginapan. Kami ingin menghabiskan malam ini dan ingin tahu malam di pulau Dewata. Dia pun menyetujuinya.
***
jalan Tol Bali yang Indah Menawan
                        Agenda hari ini selesai ! hati riang seperti mendapatkan hadiah tak ternilai harganya, walau mata ngantuk dan badan lelah. Tapi, tak sedikit pun menahanku untuk melangkah menikmati malam bersama kawan-kawan nusantara.
                        Mobil melaju, memasuki jalan Tol Bali. Subhanallah ! indah banget. Kalau di Serang, jalan Tol mungkin Cuma Lurus, belok, dan mulus. Tapi di Bali, Gila….. jalan Tolnya di bikin kaya jalan Fly over, di bangun diatas air, di tambah lagi ada jalur untuk motornya juga. Beuuuuh ! Motor aja bisa masuk Tol, padahal Bali ga macet-macet banget. seharusnya yang kaya gini adanya di Serang, biar ga ada macet lagi. Bener-bener Indah.
                        Tak terasa, mobil mulai memasuki area parkir sebuah toko yang sangat ramai. Di depan toko itu berdiri sebuah patung gagah, memakai mahkota raja dan juga memegang suling sakti. Ku perhatikan dan ku lihat tulisan didepan pintu toko besar itu “ KRISNA oleh-oleh khas Bali “. Ow ow ow ! ternyata Pusat oleh-oleh khas Bali. Emangnya kamu punya uang yan ? pergi ke Bali aja dengan uang pas-pasan, so-so an ke pusat oleh-oleh lagi. Mau belanja apa loe? Paling loe Cuma gigit jari doang ? sadar diri loe ?!. suara itu memaki diriku. Suara itu menghinaku. Tapi, ada benernya juga sih. Ah ! bodo amat, yang penting masuk dulu, urusan beli atau ga, itu masalah nanti dengan security. Hahaha
numpang eksis di depan pintu KRISNA :)
                        Tangan dan mata mulai jelalatan kesana-kemari. Melirik baju, pernak-pernik , cinderamata sampai makanan ringan khas Bali. Pegang sana- pegang sini tak ada satu pun yang masuk dalam keranja belanja ( Cuma pegang-pegang doang). Tapi, ada yang menarik perhatianku. Udeng, hiasan kepala khas umat Hindu dan identik dengan Bali. Ya, udeng, memang menjadi mascot penting dalam pikiranku jika aku bisa pergi ke Bali, dan saat ini aku di Bali dan Udeng sudah ada di depan mataku. Kulirik harganya, ga terlalu mahal. Ada dua pilihan udeng, mau pilih yang di pakai sendiri atau yang sudah jadi. Aku coba dua-duanya. Aku meminta bantuan Kadek untuk memakaikan udeng, karena dia orang Hindu dan dia juga Orang Bali, walau pun sekarang tinggalnya di Palembang. Alhasil, Ganteng juga ! hahahah ( P-D sendiri ). Ku ambil satu udeng yang sudah jadi, bermotif batik, berwarna hijau dengan hiasan tinta emas.
kain Batik khas Bali
                        Tak banyak yang ku beli. Karena melihat kantong juga, dan takut ga bisa pulang nantinya. Kartu ATM memang selalu terbuka lebar bagi siaapa saja yang ingi berdonasi, tapi sampe di Bali tak ada sepeser pun yang masuk dalam rekeningku. Nasib !
                        Puas memanjakan hasrat belanja. Kami pun langsung pulang, jarum jam sudah menunjukan pukul 00:00 WITA. Tapi, tiba-tiba.
                        “ Mau ke Kuta ga ?” Tanya supir Travel di balik stir mobilnya.
                        “ Wah mau banget Bli “ jawab kami serentak dengan senyum melebar.
                        “ tapi, Cuma lewat saja yah “
                        “ ya, ga pa-pa Bli, yang penting ke Kuta ya “
                        Malam di Kuta tidak seperti malam di daerahku. Di sini, malam bagaikan siang hari. Bedanya  ada lampu-lampu cantik yang berkerlipan di setiap café. Bangunan berarsiterktur Bali bertengger dengan kokoh. Bukan hanya rumah ternyata, tapi hotel, pertokoan dan restoran pun masih menggunakan nuansa Bali, walaupun hanya sedikit. Mobil mini bus yang kami tumpangi memasuki kawasan Kuta. Jalannya tidak begitu besar, tapi ramenya minta ampun. Café-café berjejer rapi di setiap bahu jalan hingga menimbulkan kemacetan yang tak dapat di hindari.
                        Mobil melaju dengan merayap. Di samping kiri dan kanan, berkerlipan lampu-lampu disko. Hampir di setiap café. Paha mulus, tengtop, pria bertelanjang dada sampe adegan ciuman tersaji dengan indah di sepanjang jalan Kuta. Mungkin mereka merasa bahwa ini bukan Indonesia tapi ini negaranya. Macetnya Kuta berbeda dengan macet di daerahku, macet di sini serasa sedang menonton acara TV asing. Beuuuh ! pokoknya Astagfirullah deh.
                        Mata tak pernah berkedip. Seakan-akan tidak ingin ada yang terlewatkan. Yang depan tunjuk sana, mata mengikuti. Yang tengah menunjuk arah sini, mata juga mengikuti. Hingga akhirnya,
                        “ Wow ! liat tuh SPG nya, gilaaa men ! kurang ke atas “
                        “ itu juga, beuuuh ! eeeh di dalam lebih parah loe ! “
                        “ mana ? mana ? beuuuh iya iya… gilaaaaa , parah banget ya “
                        “ parah, parah loe… tapi, tetep aja di liat. Hahahahah “
                        Suara mereka nyaris seperti turis Ndeso. Tapi, emang bener, kita tuh kaya orang ndeso. Datang dari kampung, masuk kota Kuta penuh dengan Bule-bule yang aduhai …. Masyallah. Liat kiri-kanan seperti liat emas satu truk. Berkelip-kelip mata.
                        Jarum jam sudah menunjukan pukul 01:00 dini hari. Mini bus yang kami tumpangi pun melesat maju dengan cepat. Membelah dinginnya malam, melewati indahnya jalan Tol Bali dan memasuki penginapan kami. Aaaaah ! perjalanan yang melelahkan tapi mengasyikan. Selamat Tidur ! J
                                                                                                                       
                                                                                                              Denpasar, 25 Oktober 2013
           

           

             

Monday, November 18, 2013

Ngurah Rai Airport

ngagaya ala Wong kaya :)
                “ Welcome to Bali ” suara itu sesaat terdengar nyaring disetiap speaker yang ada di dalam kabin pesawat.
                Yuhuuuuu …. Bali … aku sampe Bali…. !!!!
                Satu persatu penumpang pesawat mulai beranjak dari tempat duduknya. Mereka mengambil barang bawaan mereka. Aku pun langsung berjalan mendekati kedua temanku, tak ku sangka walaupun jarak kami Cuma beberapa bangku tapi tetap saja membuat kami kangen dan langsung bercerita tentang kejadian pas tadi pesawat mau take off. Hahaha
                “tunggu-tunggu…. Hape gue yana, hape gue.. mana ? “ Yeni mendadak bingung, dia kehilangan HP nya. Langkah terhenti sejenak, tas yang ia bawa dibuka-buka. Tapi tetap tidak ada HP nya. Haduuuh pasti bukan ilang ini. pasti dia lupa menyimpannya, Pikirku. Dan ternyata benar. Hp dia terselip di beberapa tumpukan barang yang ada didalam tasnya. Hah ! Rempong.
                Anak tangga mulai kami turuni satu persatu. Berjalan beberapa meter dan mobil jemputan penumpang pun datang. Mobilnya sih tidak jauh beda dengan mobil bis biasa, malah enakkan mobil bis, bisa duduk, bisa tidur lagi. Sambil menunggu mobil penuh sampai mobil berangkat, obrolanku dan kedua temanku ini tak jauh dari kata “sock, hah,delay dan muka cengo… eits, 30 hour”  hahah. Dan mobil mulai memperlambat jalannya saat tiba didepan pintu Barang yang dilapisi plastic tebal seperti gudang Freezer. Yang biasa digunakan  untuk membekukan daging atau ikan. Mobil pun berhenti.
                Tak ada satu pun penumpang yang turun, tapi pintu mobil terbuka. Ah, mungkin ada barang yang mau diturunkan, pikirku. Ternyata TIDAAAAAAK ! itu pintu untuk kami masuk Bandara. OMG ! Ngurah Rai, kenapa kau kejam sekali padaku. Loe kira gue barang pabrik. Masa, mau masuk bandara lewat pintu kaya pintu gudang gitu.
                “bener ga nih, masa disini ?” semua orang berbicara seperti itu, mereka tampaknya tidak terima dengan keadaan itu. Jelas saja, masa turun dari pesawat masuk Bandaranya lewat pintu kaya gitu. Hah !
                Kesel sih, tapi gimana yah, hahaha lucu juga. Kami pun memasuki Bandara Ngurah Rai. Bayangan tentang Bandara ini Mewah, Megah, Indah, Bersih dan Fantastic deh. Secara, Bandara ini kan yang menyambut para Kontestan wanita-wanita cantik seluruh dunia pada bulan September lalu. Tapi, lagi, lagi … Biasa aja. Ndeso emang ndeso aja, tak ada momen yang tak boleh ditinggalkan. Jepretan kamera BlackBarry pinjeman mulai hunting sana-sini.
                “hey ! “ teriakan kecil dari bapak berseragam biru, bertopi biru itu menahan kamereku. Aku pun meminta maaf dan tak mengulanginya lagi (kalau ga keliatan ya lanjut lagi).
                Yeni sibuk menunggu Koper dan tas ransel kami. sedangkan Yehan kemana yah ?. Walah, dia malah asyk mengintil-ngintil lembaran demi lembaran Promo Tour Bali yang disediakan pihak Bandara. Aku pun mengikuti langkah Yehan. Lembaran kertas promo itu sudah terkumpul dan saatnya melirik ke escalator ( aku tak tahu namanya) tempat tas dan koper dari bagasi peswat diturunkan. Yup ! koper dan ransel kami sudah ditemukan, sekarang kembali ke Peta. Peta. Peta. ( Dora Kaliii ). J
para penumpang sedang menunggu ransel dan kopernya.
ini hasil jepretan nyuri loh ! :D
                Bali, ya, Bali….. Pulau dewata nan indah. Tak luput dari bunga dan sesajen. Saat itu Yeni, memasuki kamar mandi dan segambreng bunga sesajen tersimpan rapi didepan cermin. Kami berniat untuk melaksanakan sholat isya. Ya, kami memaklumi kalau mayoritas beragama non Muslim tapi, Musholahnya di jangan dibiarkan bau gitu donk mas. Mau tidak mau, dengan niat lilahita’ala kami pun sholat dengan alas sajadah yang bau na’uzubillah.
                Cacing diperut tak dapat dikompromi. Mereka sudah menonjok-nonjok perut kami dari tadi. Kami pun keluar Bandara dan……… Biasa aja. Mungkin ini pintu keluar jadi ga terlalu wah. Dengan gaya orang kaya padahal kere kami melewati setiap supir taksi yang mengampiri kami. troler yang mengangkut ransel dan koper pun tak lelah menemani kami mencari warung makan. KFC, mudah-mudahan ada dan masih buka. Jam menunjukan pukul 11:00 malam WITA. Sampai ujung pintu keluar, tak ada KFC atau warung nasi yang masih buka. Walhasil, kami pun memilih King Burger tempat kami untuk menyantap makan malam. Fried chicken dan nasi putih ditemani segelas lemon tea, mampu mengobati rasa lapar.
                Aha ! kalian tahu kawan, kenapa kami memilih King Burger ????
                Alasannya satu. Numpang duduk sambil nunggu matahari terbit ( nginep on the street / Gembel ). Luntang-lantung ( wow bahasa apa itu ?) maksudnya kesana-kesini ga ada tumpangan. Kami hinggap disini karena melihat dua bule Jepang yang tertidur dan membawa bekal banyak, di tambah lagi ada tulisan “24 Hour “. Akhirnya kami niatkan menghabiskan malam di bandara Ngurah Rai, tepatnya di King Burger.
                Dasar mata Ndeso, lihat bule cantik lirik, lihat bule Item ngelirik, lihat bule gemuk ngelirik, lihat bule Buluan ngelirik. Wow ! hahhaah itu kebiasaan kami selama di King Burger. Eh iya, ternyata ada cewek bermuka Chines yang tak jauh dari tempat kami duduk. Dia bersama satu perempuan, dan dua pria Indonesia. Tapi…. eh.. eh.. eh…. Kok dia naik di atas si pria indonesia. Waaaah ! ga bener nih .
                “Yan, itu tuh Cowok tahu, bukan cewe. Jadi dia cewe jadi-jadian” bisik temanku.
                “ah masa, tapi cantik loh, tapi.. iya.. kok ga ada…. ( sensor masih kecil )…..” hahahhaha…. Tenyata !
                Malam semakin larut. Tapi aktivitas bandara tidak pernah sepi. Bule domestic dan bule manca Negara masih hilir mudik di depan kami. dan akhirnya, kami bertemu panitia dan membawa kami ikut serta dalam mobil jemputan untuk Speaker. Hah ! muka nebeng, ya, Nebeng aja. To be Continue…….   

                                                                                                            Ngurah Rai, 24 Oktober 2013 



                   

Sunday, November 17, 2013

My First Flight

ngeksis dulu sebelum terbang :)
                Kunaiki anak tangga pesawat Lion Air. Masih belum sadar, aku masih dalam lamunan. Ternyata aku bisa naik pesawat. Di pintu kabin telah berdiri dua wanita cantik, menebarkan senyum kepada setiap penumpang. Yang satu rambutnya di ikat ke belakang dan yang satu lagi dibiarkan terurai karena rambutnya hanya diatas bahu. Tubuhnya seksi dan suaranya aduhai !
                Aku pun duduk sesuai dengan nomor kursiku. Aku, Yehan dan teman kami yang satu lagi tidak luput dari jepretan kamera ( paparazzi ternyata mengikuti kami, mereka mengira bahwa kami artis dari Banten, hahhahah). Sayang, tempat dudukku jauh dari jendela.
                “Ibu, boleh kita tukar tempat. Saya pengen deket jendela bu. Boleh yah ?” pintaku pada ibu paruh bayah yang sedang asyik di samping jendela.
                Tapi ibu itu tetap tidak mau. Katanya, dia sengaja memesan tempat duduk di dekat jendela. Hmmm kalau bisa pesan tempat duduk, kenapa tadi ga ngomong aja si Mbaknya. Ya sudahlah !
                Sesekali ku berdiri, melihat kursi-kursi pesawat dari depan hingga belakang. Apakah sudah terisi semua. Ternyata sudah. Banyak Bule juga yang naik pesawat Lion Air, hihihi. Aku pun duduk kembali, langsung ku kenakan sabuk pengaman dank u coba untuk membukanya kembali. Alamak ! bagaimana ini, aku ga bisa bukanya. Tiba-tiba datang wanita tua, gadis, dan juga laki-laki bewok berperawakan arab. Mereka menghampiriku. Waduuuh, ada apa ini?
                “sorry, can you move from your sit Mister. Coz my Mom just alone here” pinta laki-laki arab itu
                “oooooh… no, I sit here, coz there is my friends” sambil ku tunjuk kedua temanku yang berada di sebrang tempat dudukku.
                “ah, come on. Please ! you can sit over there, on number 25 ”
                Aku bingung, ini penerbangan pertamaku, ini tempat duduk pertamaku. Dan aku harus di bingungkan oleh orang arab ini. OMG ! keadaan semakin membingungkan, orang arab itu bercakap-cakap dengan bahasanya dan aku pun bercakap-cakap dengan bahasaku. Dalam hatiku sebenarnya aku rela pindah dari tempat dudukku, tapi si arab ini tetap ngotot agar si ibunya duduk di tempatku ersama adik perempuannya.
                “Ya, Mister I know, I want to move now but……but.... ”
                Akhirnya pramugari dan pramugara datang menghampiri kami.
                “mas tolong kerjasamanya agar penerbangan ini bisa dilakukan dengan baik, mas bisa duduk di tempat si ibu ini di nomor 25” pinta Pramugari cantik sambil menunjuk kea rah kursi nomor 25.
                “ya, saya tahu Mbak, tapi masalahnya ini…… “ sambil ku menunjuk kearah sabuk pengamanku yang susah dibuka.
                “ahaha Ya Tuhan. Ngomong dong mas dari tadi” senyum pramugari itu manis tapi menyakitkan. Dia kira aku ini orang desa. Tapi emang betul sih, sabuk pengamannya sulit dilepas, mungkin faktor Ndeso kali yah. Hahha
                Orang arab dan aku sudah selesai, sekarang aku dihimpit oleh dua orang jepang, yang satu seger yang satu lagi ga deh. Pilot mulai menyalakan mesin pesawat. Ku lihat kembali sekelilingku ternyata bule semua. Dari depan, belakang, dan  sampingku bule semua. Ah, bodo. Bulenya juga pada bewokkan.
                “Perhatian-perhatian. Saya pramugari senior menginformsikan, bahwa penerbangan kita di tunda selama 30 menit kedepan. Karena lalu lintas sedang ramai. Terima kasih”.
                “Attention. I’m senior flight attendant  informed that our flight delayed for 30 Hour…….. because the traffic was busy. Thank you”
tiba-tiba.......
         Wkwkwkwkkwkwkwkwkkw. Mereka tertawa bebas, aku pun tak sanggup menahan tawa saat melihat ekspresi bule-bule di sekitarku yang tertegun kaget. Muka cengo, kaget, hahahah.
         “What ??? 30 Hour !? Realy” bule yang ku tebak asal italia dan spanyol itu menganga dengan ekspresi muka kaget dan bingung. Bukannya kasihan melihat dia, aku malah tetawa dibuatnya. Di tambah lagi dengan ekspresi muka cewek jepang yang berada di sampingku. Ah Tuhan, penerbangan di tunda, ngetem, seniornya salah ucap lagi. Yang harusnya 30 minute malah jadi 30 Hour. Yaaaaa jelas saja bule-bule pada kaget. Hahhaha

Tak kan pernah terlupakan !
           Mesin pesawat mulai berderu kencang. Dia berjalan diatas landasan dengan cepat dan ….. Huh ! perlahan tapi pasti. Aku dan pesawat meninggalkan Bandara Soetta. Diketinggian entah berapa ribu kaki ini aku mulai menikmati penerbangan pertamaku, menikmati indahnya cahaya lampu yang kecil-kecil
dari ketinggian dan juga menikmati cantiknya cewek jepang yang berada di sampingku. Selamat Malam…..
                                                                                               

                                                                                                          Di atas ketinggian, 24 Oktober 2013

Saturday, November 16, 2013

IYF Bali Part 1

Soekarno-Hatta Airport
Bali.... ye Bali...... :)
           “Yana, kita ke pilih jadi peserta “ ujar Yehan di loker perpustakaan Daerah.
       “peserta apa? Emang kita daftar apa, oh Indonesia Idol yah hahahah “
             “hah loe, bukan, tapi kita jadi peserta IYF “
Deg ! Beneran ini ga bohong kan ? kok bisa yah. Berarti…. Berarti…… yaaaaaaaa !
              Hari mulai semakin sore. Matahari mulai kembali keperaduan dan siap diganti oleh genitnya bulan. Aku pun meluncur dengan angkot merah putih yang setiap hari setia mengantarkanku dari rumah ke kampus tercinta. Sepanjang jalan, tak biasa mata ini melek dan menikmati jalanan kota yang di penuhi pabrik-pabrik pembuat kemacetan. Ah, pikiranku hanyut dalam langkah-langkah yang harus ku persiapkan untuk hari itu.
         Setiap hari, tangan ini tak berhenti mencari dan mencari tiket penerbangan yang murah. Ada penerbangan yang murah tapi jadwalnya tidak sesuai dengan keberangkatanku. Dan ada juga yang pas tapi uangnya belum cukup. Ya, mungkin perjalanan kali ini pun harus dengan backpacker lagi. Tak apa lah ! piuuuh….
              Eits…  Tunggu dulu masih banyak jalan menuju Roma bukan ? begitu kan kata pepatah. Akhirnya dengan mengemis kepada beberapa pihak ( keluarga, teman, dan sahabat. Tidak termasuk pihak kampus) kami pun mendapatkan uang untuk membeli tiket pesawat tujuan Bali. Berselancar kembali dengan internet, berharap menemukan tiket penerbangan murah. Yuhuuuu ! nasib baik masih memihak pada kami.
        Citilink, adik dari Garuda Indonesia ini yang kami pilih. Karena menurut kami selain bagus, pelayanannya juga ok, dan tentu saja harganya yang murah. Klik sana-sini kami pun menjumpai masalah, kami bingung, di table harga tiket murah banget tapi kok masih ada biaya lagi. Asuransi-lah, kursi duduk-lah. Hah ! jadi bingung. Mungkin gara-gara kami deso ga ngerti masalah beli tiket Online kali yah ! hahaha. Akhirnya dengan terpaksa dan dengan kecewa aku pun menghubungi agen travel yang berada di samping kampusku.
             Setelah mengikuti kelas. Aku dan Yehan segera pergi keagen travel yang tadi aku hubungi. Banyak penawaran dan pertanyaan seputar jadwal penerbangan yang bangus dan harga masih terjangkau. Pegawai agen travel memberikan penawaran, mulai dari Sriwijaya, Citilink, Garuda, dan Lion Air. Semuanya diatas Rp. 600.000-, WOW ! mana cukup uangku Bundooooo …… akhirnya Lion Air masih merasa kasihan dengan kedua manusia yang tak punya uang tapi nekat dan so-soan mau naik pesawat ini. kami mendapatkan penerbangan jam 17:50 dengan Pesawat Lion Air JT 0026 dengan harga Rp. 571.000-, sudah termasuk bagasi Lho
                Aye… aye… tiket pesawat udah dapat. Tinggal mempersiapkan semuanya. Aku coba membuka email, Ternyata Panitia mengirim kami Proposal acara, guna mempermudah kami untuk mendapatkan segala keperluan yang akan kami gunakan selama di Bali, salah satunya yaitu Dana Bantuan. Hal ini menjadi faktor paling penting, Bro…..
                 Kami langkahkan kaki selebar-lebarnya. Menuju ruang dekan, dengan menunjukan proposal dan mereka pun siap membantu, tapi waktunya tidak sebentar. Hah !. pikiranku masih tertinggal di ruang dekan tiba-tiba sms menyapa HP-ku. Ku buka “ Harus bawa cinderamata dari Banten yah”. Langsung saja menuju ruang jurusan untuk meminta surat Rekomendasi agar bisa mendapatkan cinderamata  dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten (DisBudPar). Dalam keadaan genting di H-1 listrik di Kampus tak bisa berkompromi dengan kami. mereka mati. Lalu bagaimana nasib surat rekomendasi, apa kami tidak jadi membawa oleh-oleh dari Banten. ah ! hujan pun turun rintik-rintik seakan paham isi hati kami yang sedang Panas dilanda kegalauan.
                Niat, Do’a, percaya dan usaha. Adalah kunci dalam segala kegetiran dan kekhawartiran. Yakin bahwa Allah akan selalu memberikan kemudahan walaupun ada kesulitan. Surat rekomendasi kami dapat setelah menunggu bebarapa jam. Jam tangan menunjukan pukul setengah 3 sore. Langkah kaki kami pacu dengan cepat, berharap agar orang Dinas tidak cepat-cepat pulang. Jam 3 sore kami tiba di kantor DisBudPar, langsung kami sodorkan surat rekomendasi dan proposal acara. Tapi, jawaban mereka, tenyata kami harus menunggu selama dua hari untuk mendapatkan cinderamata. Shock, down, bercampur aduk. Kaki yang tadi semangat untuk berdiri tiba-tiba lemas tak bertenaga. Tapi, “Ya sudah, akan kami usahakan” ujar bapak berpakaian dinas yang berlalu dari hadapan kami.
                 Belum sampai satu jam. Bapak berpakaian dinas itu menghampiri kami dengan 3 kantong yang berisi cinderamata. “tanda tangan dulu ya”. Yes ! Alhamdulillah cinderamata Banten kami dapatkan, Siap menuju Bali esok Hari.

               Bali ! I'm Coming.................. 
                                                                                                                         Serang, 24 Oktober 2013