Wednesday, July 29, 2015

Let’s get something to eat ! (Nyari makan yuk !) (Kediri Part 3)

             Pare, Jawa timur, jauhnya boy.... belum ongkosnya, belum biaya hidup disana, emang ada duit, nanti kesasar lagi, mungkin ini pernyataan yang terlontar ketika kita hendak berpergian jauh dari rumah. But, don’t be afraid baby, don’t worry about everything. Kamu tinggal nabung, terus searching from google, and you can find it there. Sama halnya denganku kawan, sebelum aku berangkat ke Pare aku nabung dulu (tapi uangnya dipake mulu hahahaha) terus searching google, informasi mengenai pare, atau kampung inggris, mulai dari rute perjalanan, ongkos mobil/kereta/pesawat, dan tentunya biaya makan disana. So, I’ll tell you about get something to eat here in Pare.
          For first time i’m here, aku hanya bisa memandang tempat kursus yang tak berpenghuni, badan ini sudah sangat lelah, dan sangat lengket oleh keringat, ditambah lagi ketika mau check ini dormitory or camp, aku dimintai kwitansi asli. Hah, udah cape, ga bisa rebahan barang sejenak, aku langsung ikut bergabung sama rombongan camp yang sedang berada diluar walaupun posisiku belum kenal satu sama lain, we called my action with PEDEKATE.
         Aku meletakan diriku sebisa mungkin untuk coba mengobrol bersama mereka, ternyata they are same with me, they are newbie here. Mereka juga baru. Mereka semua ingin mencari sarapan, dan aku berpisah dengan mereka karena harus ada satu hal yang aku temukan, it’s EUREKATOUR office, salah satu tempat agen pendaftaran online untuk kursus di Pare. Setelah mundar-mandir kesana kemari, tanya sana tanya sini, rupanya tak ada satupun yang tahu kantor Eureka itu. Aku berusaha tenang, tapi hati tidak bisa diam, khawatir penipuan to (kalau orang makasar bilang). Cape mundar-mandir akhirnya ku putuskan untuk kembali ke tempat kursus, Alhamdulillah tempat itu sudah berpenghuni. Langsung ku tunjukan kwitansiku dan menjelaskan proses pendaftaranku. And here I am at ACCESS-ES Kampung Inggris, Pare.
         Waktu terus berjalan, matahari mulai meninggi, adzan duhur berkumandang. Ku selesaikan sholat duhurku bersama kawan-kawan baruku yang datang dari berbagai daerah, mulai dari yang terdekat seperti Tulungagung, Surabaya, Magelang, Solo, Semarang, Bandung hingga yang terjauh, seperti Pontianak, Makasar, Samarinda, Palopo dan Batam. Many people here from around of indonesia, with same plan, it’s Study English.
           Sebelumnya aku sudah searching dari google tentang masalah biaya makan disini, ku kira harga yang di Internet adalah harga lama soalnya murah sekali kawan, Cuma 6rb kita bisa makan pake telor sayur dll. Itu versi murah yah. Dan ternyata pas aku beli makan siang, kita disuruh ambil sendiri oleh sang empunya warung we called it “Prasmanan”. Kulihat tulisan yang terpampang nyata didepan ku saat mengambil nasi “Ambil Makan Langsung Bayar” bukan “Ambil Makan Bayar kemudian” hahahahah. Ku ambil makan nasi pake prekedel kentang, tahu sayur, bakwan jagung 2, dan krupuk, dan it prise is LIMA RIBU LIMA RATUS RUPIAH. Really?? Are You sure??. Of course, ga percaya makannya datang ke Pare. Hihihi... dan begitu seterusnya, sampe makan malam. We’ll see what happend with me and my friends here, we always survive the new meal, dan harga yang termurah pastinya. Hahahahah.. see you next time.

Pare, 27 July 2015

Kampung Inggris Pare (Kediri Part 2)

Pare mas” suara kondektur membangunkanku.
Mataku masih sepet, rasa kantuk masih merayu mataku, tapi kata pare yang diucapkan oleh kondektur memaksa tubuhku untuk segera bangkit. Ku angkat tasku yang beratnya hampir setengah karung, ku angkat ia dengan gontai menuruni tangga bis. Ya Tuhan, hampir saja aku jatuh. Kudiam sejenak melepas lelah, pegal, dan rasa kantuk. Kulihat jam tangan sudah menunjukan pukul 05:00 pagi.
Seperti orang bingung, tapi pura-pura tidak terlihat bingung, hahahha. Ya Allah dimana ini, ini bukan terminal, tapi pinggir jalan. Jam 05:00 subuh mana ada orang. Jalanan sepi, hanyak petunjuk jalan yang silau terkena sorot lampu jalanan. Orang yang tadi turus bersamaku kemana, kok dia hlang secepat kilat. Ku lihat kanan kiri, ada persimpangan tiga rupanya, tak berapa lama ada bis malam lagi yang menurunkan penumpang, mereka berjalan kearah kiri. Ku ikuti mereka, dan bertanya arah ke Pare mereka pun mengarahkanku ke bis perempat yang kebetulan sedang ngetem. “coba ditanya aja mas, ke pare bukan?”. Alhmdulillah bis itu menuju pare, ternyata bis malam yang aku tumpangi tidak berhenti di Parenya langsung. Aku pun menaiki bis yang ngetem tadi, dan ah aku lupu mengucapkan terima kasih pada si bapak itu. Maaf ya pak, hehehe.
Bis perempat tujuan Pare-Malang pun melaju membelah angin pagi. Suasana jalanan disini sangat amat berbeda dengan Cikande daerah tempatku tinggal, Cikande berpolusi, bising dan semeraut, walaupun jam masih menunjukan pukul 05:30. Tapi disini, Kediri, Ya Tuhan masih lenggang, sepi, sejuk, tidak bising. Nyamanku dibuatnya.
Cukup membayar 8rb rupiah dari pertigaan sampai ke kampung Inggris pare. Jaraknya kira-kira hampir sama dengan Serang-Cikande. Karena daerahnya masih asing, dan aku tidak tahu, aku bertanya pada si mbak yang duduk disampingku. Si mbak bilang kalau Kampung Inggris ga jauh, bentar lagi juga turun, di Anom nanti turun ya. Aku sih iya aja, tapi pak kenek, mencegahku. Kampung inggris kan? Masih didepan. Hmmmm mbake mbake gimana sih, hampir aja. Terus ada lagi si nenek, nanti di depan yah kampung Inggris, di garuda. “Oh nggeh” jawabku. Dan pak kenek kembali mencegahku, bukan disini, katanya. Hmmmmm.... nanti dipemberhentian depan mas. Ok lah pak sakumaha bapak wae. Batinku.
Dan tara.......... Welcome to Kampung Inggris Pare. Tapi.... mana nama kampung inggris yah?, hanya gang dan spanduk-spanduk bertuliskan nama tempat kursus yang aku lihat di internet. Mungkin ini. Batinku sambil berjalan bersama my bag yang alabatan karung beras. Pertolongan Allah datang melalui dua orang mahasiswa, mereka melihat aku kebingungan saat di bis tadi, mereka berdua bertanya padaku, well, mereka pun mengajaku untuk menuju ke tempat camp dan lesku. Ternyata mereka berdua pun sama, mereka akan kursus juga di kampung inggris Cuma beda tempat denganku dan mereka sudah 2 kali kesini, aku lupa nama mereka berdua, but at least thank you so much brother, and nice to meet you.

Pare, 27 July 2015

Solo Traveller (Kediri Part 1)

26 Juli 2015 tepat pada pukul 11:00 WIB aku berangkat ke kediri menggunakan bis malam Harapan Jaya. Kurang dari 2 jam melewati jalan tol aku transit di bekasi untuk ganti bis, karena bis yang tadi aku tumpangi ternyata jurusan Semarang. Tak lama setelah melaksanakan sholat dhuhur dan ashar yang aku qoshar, aku berangkat menggunakan bis nomor 19 tujuan kediri.
Hanya jalanan yang dipenuhi mobil dan motor yang menemani perjalananku, sesekali aku mengobrol dengan mas Agus yang duduk disebelahku. Ya, kali ini aku memang solo treveller, tak ada teman, tak ada kawan, dan juga tak ada sahabat backpacker yang selalu ada dalam setiap perjalananku. Kali ini aku sendiri, untungnya mas Agus yang sama-sama akan kediri mau diajak ngobrol, kalau tidak, ya Tuhan, apa yang terjadi dengan perjalananku, mungkin hanya diam, gelap dan pemandangan yang kurang asyik untuk dilihat yang menemani kesendirianku.
Waktu menunjukan pukul 16:00, kondektur bis meminta semua penumpang untuk mempersiapkan tiket makan malam. “makan malam dari mana, ini kan masih sore pak” batinku. Aku kira hanya becandaan, karena semua penumpang yang rata-rata berbahasa jawa semua pada cengengesan. Aku pun tak menghiraukannya, tapi ternyata betul juga, bis parkir didepan rumah makan milik PO Harapan Jaya. Ya Allah tahu gini, aku ga usah makan tadi, hmmm. Tapi ya sudahlah lumayan ganjel perut sampe kediri.
Bis pun berangkat meninggalkan rumah makan. Tak jauh dari sana, tiba-tiba aku heran kenapa banyak sekali orang-orang yang memengang sapu lidi di pinggir jalan, ya sapu lidi, aku kira mereka sedang membersihkan debu jalanan, tapi jalan itu bersih tidak ada lumpur atau apapun. Karena penasaran aku bertanya sama mas Agus, ternyata ia pun tidak tahu. Lama ku perhatikan, walaaaaaah ternyata mereka sedang mengambil koin yang dilempar oleh para pemudik.
Ya, pemudik, karena saat ini masih musim mudik atau arus balik. Jika diperhatikan meraka itu seperti manusia koin yang ada di Merak atau bakauheni Lampung. Bedanya jika di Merak atau bakauheni manusia koin ini mengambil koin dengan cara menyeburkan diri demi mendapatkan koin yang dilempar oleh penumpang kapal ke laut, jika di daerah yang kalau tidak salah Indramayu ini mereka mendapatkan koin dengan cara menyodorkan sapu lidi kejalanan untuk mengambil koin yang dilempar oleh pemudik. Aku tak tahu hal ini biasa terjadi pada saat musim mudik saja atau hari-hari biasa. Well, this is very unic.
Indramayu, Brebes, Tegal, aku pun tertidur, waktu sudah menunjukan pukul 22:30 aku sudah tiba di Semarang lalu masuk jalan tol arah Solo/Surabaya, malam pun kembali menyelimutiku.

26 July 2015
On The Way to Kediri, East Java.

Sunday, July 12, 2015

"30 Paspor" Mengantarkanku Untuk Segera Berburu Tiket

“Ya Allah 30 Paspor, membuat aku semakin greget sama perjalanan, ditambah lagi dengan promo tiket yang sangat menggiurkan, oh Tuhan Tolong Baim...” kalimat yang terucap dalam hati saat membaca lembar demi lembar buku yang sangat menginspirasiku untuk segera melancong ke belahan dunia.

Sedikit mengulas isi buku 30 Paspor. Buku ini berisi cerita mahasiswa-mahasiswa yang tersasar dinegeri orang. Tekad mereka untuk melancong sebenarnya ada yang niat, ada yang terpaksa dan ada yang karena nilai (bedanya apa yah terpaksa dan karena nilai ??). awalnya melancongnya mereka karena berada dikelas Pemintal (Pemasaran Internasional) yang dididik oleh Guru Besar FE UI Rhenald Kasali, bapak dosen ini mengajarkan anak didiknya untuk siap dan berani menjadi Rajawali jangan menjadi burung yang selalu diam dalam sangkarnya.
Bapak dosen yang satu itu, mengajar dengan cara yang berbeda, mengajar dengan caranya sendiri, yaitu mewajibkan peserta didiknya untuk melancong ke negera-negara asing yang tidak berbahasa melayu, bukan hanya itu tapi mahasiswa itu pun harus berangkat sendiri dan satu negara satu mahasiswa. Amizing. Tak heran banyak dari orang tua mahasiwa menentang caranya mendidik, bukan hanya orang tua, tapi dosen-dosen pun merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh guru besar itu.
Pada saat kita membuka lembaran pertama buku in,i kita akan disuguhkan dengan berbagai testimoni dari beberapa orang hebat Indonesia. kemudian kata pengantar dari sang Guru Besar Rhenald Kasali, Melepas Kodi dan Mengajarkan Rajawali Terbang, judul kata pengantar yang sangat membuatku terketuk dan membuatku ingin segera terbang seperti rajawali. Ditambah lagi dengan kalimat yang berada diparagraf penutup kata pengantar “Paspor adalah tiket untuk melihat dunia”.
Buku yang aku beli, kebetulan adalah buku kedua, buku yang pertama aku tidak sempat membelinya karena aku tidak tahu, beneran tidak tahu. Awalku melihat buku ini memang sudah kepincut, bak seorang laki-laki yang melihat wanita cantik, tak mau lepas dari pandangan, dan tak mau lepas dari pikiran. Sayangnya pada saat itu aku tidak membawa uang lebih untuk membeli buku, alhasil aku baru bisa membelinya setelah menabung selama 5 hari, ingat lima hari, padahal bukunya sih Cuma seharga Rp.64.000-, tapi aku enggan untuk meminta uang kepada orang tuaku untuk membeli kebutuhanku sendiri.
Setalah membeli buku ini, rasanya tuh seneng banget seperti pas pertama kali aku menerima paspor, ya menerima paspor, betapa senangnya bukan. Cerita yang disajikan dalam buku 30 Paspor ini sangat amat menginspirasi, ternyata untuk keliling dunia itu tidak semahal yang kita bayangkan, tidak sesulit yang kita khawatirkan dan tidak se-menakutkan. Tapi entahlah, mungkin ini hanya perasaanku saja yang sehati dengan buku ini, kalau kalian mungkin punya pandangan yang  berbeda, ya, manusia memang memiliki pandangan dan penilaian yang berbeda. Ada yang berpikir bahwa “buat apa sih jalan-jalan”, “buat apa sih keluar negeri”, buat apa sih bikin paspor, kaya ga ada kerjaan aja, kaya lo mau keluar negeri aja, kaya lo punya duit aja”, buat apa sih, buat apa sih, buat apa sih.. itu saja yang keluar dari lisan orang-orang yang tidak sehati dengan dunia perjalanan. Bagiku perjalanan bukan sesuatu yang hanya sekedar menikmati wisata alam atau tempat rekreasi semata, tapi lebih dari itu, kita bisa menemukan orang baru, tempat baru, perjalanan baru, transportasi baru dan lain sebagainya, dan tentunya pengalaman baru seperti yang tertulis dalam buku 30 Paspor ini.
Seperti yang dilakukan Saggaf Saim S. Alatas, mahasiswa ini pergi ke benua Eropa, Eropa mahal bro, dari mana duitnya?? Ia pun berusaha untuk mewujudkan mimpinya untuk pergi ke Eropa dengan berusaha menjadi calo tiket konser dan membuat proposal sponsorship. Ia pun tiba di benua biru, menjelajahi setiap sudut kota, berbagi pengalaman dengan orang baru, makanan baru, tempat tinggal baru dan ah, sangat luar biasa.
Kemudian ada Garinzafira Sabrina, mahasiswi ini melancong ke negara yang sangat banyak TKW-nya, yaitu TAIWAN. Ada hal yang menarik dari cerita Sabrina ini, ia tidak tahu tempat yang akan menjadi tempat menginapnya selama di Taiwan, ia hanya memesannya lewat internet dan sedikit membaca komentar dari reviewer. Alhasil hotel yang ia tempati ternyata hotel yang berada didalam gang, hotel itu bercat merah dengan aksen arsitektur china, dari luar telihat menyeramkan tapi ketika masuk dalam kamar, suasana romatis langsung menyelimuti ruangan, lengkap dengan dua buah kondom yang terletak diatas meja. Hahaha, memang sering ada hal-hal konyol yang akan kita temukan dalam setiap perjalanan. We’ll see...
Ada lagi Ayu Ariandini yang mendapatkan keberuntungan dinner bersama orang terkal di jepang. Kemudian Aland Diknas Tanada, yang mempunyai kisah menarik sekailgus membuat hati bertanya-tanya. Perjalanan yang ia lakukan adalah ke India, ya India, negera yang terkenal dengan Bollywoodnya tapi masih banyak kemisikinan dan penipuan yang merajalela, itu yang ditulis oleh Aland. Sebelum ia berangkat banyak sekali iming-iming untuk merubah rute perjalanannya, dan juga ketakutan yang menghiasi pikirannya, ia ditakuti bahwa setibanya di Bandara India jangan mudah percaya dengan Calo, karena mungkin saja mereka akan mengambil Ginjalmu, tapi Aland menanggapinya dengan tidak serius, “Cuma satu kan? masih ada satu ginjal lagi ini”.hahaha parah. Dan masih banyak lagi cerita-cerita konyol mereka yang membuat hati para traveller ingin segera melakukan trip yang mereka lakukan, termasuk Aku.   

                                                                                                                                 Yanvanjava