Wednesday, July 29, 2015

Kampung Inggris Pare (Kediri Part 2)

Pare mas” suara kondektur membangunkanku.
Mataku masih sepet, rasa kantuk masih merayu mataku, tapi kata pare yang diucapkan oleh kondektur memaksa tubuhku untuk segera bangkit. Ku angkat tasku yang beratnya hampir setengah karung, ku angkat ia dengan gontai menuruni tangga bis. Ya Tuhan, hampir saja aku jatuh. Kudiam sejenak melepas lelah, pegal, dan rasa kantuk. Kulihat jam tangan sudah menunjukan pukul 05:00 pagi.
Seperti orang bingung, tapi pura-pura tidak terlihat bingung, hahahha. Ya Allah dimana ini, ini bukan terminal, tapi pinggir jalan. Jam 05:00 subuh mana ada orang. Jalanan sepi, hanyak petunjuk jalan yang silau terkena sorot lampu jalanan. Orang yang tadi turus bersamaku kemana, kok dia hlang secepat kilat. Ku lihat kanan kiri, ada persimpangan tiga rupanya, tak berapa lama ada bis malam lagi yang menurunkan penumpang, mereka berjalan kearah kiri. Ku ikuti mereka, dan bertanya arah ke Pare mereka pun mengarahkanku ke bis perempat yang kebetulan sedang ngetem. “coba ditanya aja mas, ke pare bukan?”. Alhmdulillah bis itu menuju pare, ternyata bis malam yang aku tumpangi tidak berhenti di Parenya langsung. Aku pun menaiki bis yang ngetem tadi, dan ah aku lupu mengucapkan terima kasih pada si bapak itu. Maaf ya pak, hehehe.
Bis perempat tujuan Pare-Malang pun melaju membelah angin pagi. Suasana jalanan disini sangat amat berbeda dengan Cikande daerah tempatku tinggal, Cikande berpolusi, bising dan semeraut, walaupun jam masih menunjukan pukul 05:30. Tapi disini, Kediri, Ya Tuhan masih lenggang, sepi, sejuk, tidak bising. Nyamanku dibuatnya.
Cukup membayar 8rb rupiah dari pertigaan sampai ke kampung Inggris pare. Jaraknya kira-kira hampir sama dengan Serang-Cikande. Karena daerahnya masih asing, dan aku tidak tahu, aku bertanya pada si mbak yang duduk disampingku. Si mbak bilang kalau Kampung Inggris ga jauh, bentar lagi juga turun, di Anom nanti turun ya. Aku sih iya aja, tapi pak kenek, mencegahku. Kampung inggris kan? Masih didepan. Hmmmm mbake mbake gimana sih, hampir aja. Terus ada lagi si nenek, nanti di depan yah kampung Inggris, di garuda. “Oh nggeh” jawabku. Dan pak kenek kembali mencegahku, bukan disini, katanya. Hmmmmm.... nanti dipemberhentian depan mas. Ok lah pak sakumaha bapak wae. Batinku.
Dan tara.......... Welcome to Kampung Inggris Pare. Tapi.... mana nama kampung inggris yah?, hanya gang dan spanduk-spanduk bertuliskan nama tempat kursus yang aku lihat di internet. Mungkin ini. Batinku sambil berjalan bersama my bag yang alabatan karung beras. Pertolongan Allah datang melalui dua orang mahasiswa, mereka melihat aku kebingungan saat di bis tadi, mereka berdua bertanya padaku, well, mereka pun mengajaku untuk menuju ke tempat camp dan lesku. Ternyata mereka berdua pun sama, mereka akan kursus juga di kampung inggris Cuma beda tempat denganku dan mereka sudah 2 kali kesini, aku lupa nama mereka berdua, but at least thank you so much brother, and nice to meet you.

Pare, 27 July 2015

No comments:

Post a Comment