Wednesday, April 24, 2013

Otak-Otak


by : Yan Van Java 
Otak-otak makanan has negeri melayu yang berasal dari malaysia, namun karena negara serumpun maka makanan malaysia ini pun tidak aneh jika ada di negara indonesia. 
otak-otak basah... sedap sekali kawan !
otak-otak goreng, yang maknyoosss.... 
Otak-otak dihasilkan dari isi ikan (biasanya ikan tenggiri) yang digabungkan dengan campuran berempah termasuk lada, bawang putih, bawang merah, kunyit, serai dan santan. Campuran ini dibungkus dalam daun kelapa dan dibakar atau dikukus. Sekiranya di dibungkus dalam daun pisang, ia dikenali sebagai pais.
Karena perkembangan jaman yang menginginkan makanan yang serba praktis maka sebagian pedangan berinovasi untuk menjadikan otak-otak basah menjadi otak-otak goreng yang  di goreng sampai kering, sehingga jika kita memakannya terasa sedang memakan kerupuk otak-otak (ya iyalah kan yang di goreng otak-otak bukan cumi-cumi, pisss). Jad jangan lupa kalau anda sedang berkunjungg ke kota tua Jakarta maka jangan sampai dilewatkan makanan yang satu ini harganya tidak sampai menguras kantong bahkan menjual sawah orang tua di Kampung (haha lebay !). Selamat menikmati !!

Kenapa Ta ?


By :Yan Van Java

           Sinta bingung, ia mulai tak paham dengan sikap yang belakangan ini arya lakukan terhadap dirinya. Setiap kali Sinta mendekatinya, Arya mengindar jauh-jauh darinya. seolah-olah telah terjadi sesuatu yang sangat patal yang telah dilakukan Sinta. Arya lebih memilih menyendiri atau bergabung sebentar dengan teman-temannya kemudian pergi menghilang entah kemana.
                        Sudah satu minggu Sinta tidak jalan bersama Arya. Sinta masih bingung, apa salah dia?. Sms yang selalu dikirimnya selalu tidak mendapat tanggapan. Sapaan yang ia lontarkan pun hanya dijawab datar oleh arya. Apalagi jika Sinta berusaha untuk menghibur teman-temannya, Arya hanya diam, tidak ada senyum sedikit pun. seakan tidak ada yang sedang menghibur disitu.
                        “Ta, tumben sendiri, mana Arya? biasanya kalian barengan mulu”. Tanya dimas sambil membawa dagangan kuenya.
                        “ga tahu, gue juga bingung sama dia” jawab Sinta setengah mengeluh.
                        Sinta dan Arya memang berteman cukup lama. Mulai dari bangku kelasa satu SMA mereka mengikat pertemanan ini. Satu sama lain saling mengisi kekosongan, saling mengingatkan, dan saling bertukar pikiran. mereka berdua pun tak menyangka bakalan berteman seperti ini. Dan mereka pun tak tahu kapan awalnya. Sinta yang punya sifat cuek, egois dan bisa dibilang arogan. Tak menjadi penghalang bagi Arya untuk berteman dengannya. Arya sendiri punya sifat berani, jiwa social dan sedikit dilanda galau. Walaupun cowok, Arya orangnya sedikit sensitive dan sering menyalahkan dirinya sendiri. Kerenggangan pertemanan mereka diawali ketika pembicaraan di Kantin Sekolah.
Waktu itu matahari mencoba untuk bersembunyi dibalik dedaunan pohon sekolah. Hanya sinarnya yang sesekali menembus dari balik dedaunan.
“Ya, loe masih percaya sama mimpi ?” tanya Sinta serius.
“ya, emang kenapa? Kok tiba-tiba loe nanya itu?” jawab Arya sambil meminum jus jeruk dihadapanya.
“gue udah ga percaya mimpi. Mimpi itu Cuma bohong, dan hanya akan membuat sakit hati kita aja” ucapnya cuek sambil makan baso.
“oh, gitu” jawab Arya datar. Namun didalam hatinya ia kaget, kok ada orang yang tidak mempercayai mimpi. Padahal dengan sebuah mimpi maka hidup akan selalu terpacu dan bersemangat dalam hidup.
“Ya, kok loe diem?”
Dia pergi meninggalkan Sinta yang masih sibuk dengan mie dan teh manisnya. Hanya ucapan “Ta, gue duluan, dan ini tolong bayarin. Asalamu’alaikum”. Dilorong sekolah Arya masih memikirkan apa yang tadi diucapkan Sinta dikantin. Dia masih tak percaya kenapa dia bisa berbicara seperti itu. Sampai dikelas, dia masih membatin dengan ini. pelajaran pun tidak Arya hiraukan. Pikirannya melayang entah kemana. Bel sekolah berbunyi. Arya langsung pergi meninggalkan kelas.   
Melihat hal itu Sinta langsung mengejar Arya. Tapi Arya terus melangkah meninggalkan panggilan Sinta dibelakangnya. Sinta terus mengejarnya. Tapi dia hanyalah seorang perempuan yang tak kuat berlari cepat.
Arya masih terus bergumam dalam hati “ Ta, kenapa loe bisa ngomong seperti itu. Kita kan sudah janji mau menjaga mimpi-mimpi kita. Mengejar mimpi tanpa kenal lelah, menapaki langkah tanpa pernah putus asa. Menangis dan terjatuh itu hal yang biasa Taaaaaa”. Dia berusaha menguasai dirinya agar tak menangis, tapi air matanya mngalir begitu saja. “ tapi… kenapa loe mulai menyerah ta” dia lari meninggalkan sekolah, lari sejauh mungkin tanpa ada sinta lagi dalam hari-harinya. Dan Arya masih menggenggam Mimpi itu kuat, sangat kuat dalam hatinya.

Selesai

Friday, April 12, 2013

Berteman dengan Macet


By : Yan Van Java
 
“Shit… Macet lagi. Ga bosen-bosen nih” kesalku di pagi hari yang sudah membuat jantung dan kaki ingin berlomba menghajar jalan raya.
                        Memang tidak asing lagi bagiku dengan kemacetan yang terjadi didaerah Kiliman ini. Karena karyawan pabrik yang membeludak bak lautan manusia. Ditambah lagi angkot yang sering mengetem disembarang jalan dan para pengguna motor yang sering tak sabar ingin menyelip diantara sela-sela yang masih tersisa. Sampai- sampai meyerobot masuk ke jalur sebelah kanan. Yang mengakibatkan kemacetan bakal total sampai siang hari. Itu pun jika ada yang mengatur. Kalau tidak ada, waaaaaaaaaaah patal.
                        Syukurlah macet pagi ini tidak begitu parah dan panjang. Walaupun macet tapi masih bisa merayap sedikit demi sedikit. Biasanya jika macet ada dua pilihan. Pertama, turun dan jalan kaki. Yang kedua, duduk manis sampai sang supir mengusir kita untuk pindah keangkot lain.
                        Mobil angkot kembali melaju dengan kebebasan yang ia miliki. Angin segar masuk dengan lembut diantara sela-sela jendela yang terbuka. Keringat yang mengalir ditubuhku terasa hilang tak berbekas. Walaupun debu jalan menempel diwajahku aku tak menghiraukannya. Yang penting jalan lancar dan angin bebas masuk membelaiku.
                        Baru saja terbebas dari macet Kiliman. Aku langsung disambut lagi dengan kemacetan Pasar Djogrog yang letaknya dibahu jalan. Hah ! tak kebayang apabila pasar ini beroperasi setiap hari. Bisa stress aku disambut macet yang tak jelas ini. Padahal tidak ada mobil ataupun motor yang mogok, tapi kemacetan ini selalu saja terjadi. bukan hanya di pagi hari melainkan sampai siang hari pun macet tidak bisa terhindarkan lagi.
                        “gue pindahin juga nih pasar… bikin macet mulu” gumamku dalam hati. Dengan memasang muka kesalku yang tak habis-habis.
                        Seharusnya pemerintah daerah Djogrog ini memindahkan pasar ini ketempat yang lebih luas lagi. Jangan di bhu jalan seperti ini. Bukan hanya para pedagang yang memasang tenda di bahu jalan. Hampir setengah jalur dipakai untuk tempat parkir motor dan becak. Sungguh membuat darahku naik saja.
                        Macet disepanjang jalan, mungkin sudah menjadi teman dan musuhku sehari-hari, bukan di pagi hari saja tapi sore hari pun dia akan menjadi derita bagiku.    
Selesai


BUTUH PERJUANGAN !


By : Yan Van Java

“Ya Allah capek banget “ Ditto menyeka keringat yang mengalir dikeningnya.
              Kakinya tak berhenti melangkah, walaupun air yang berada disaku tasnya sudah tak bersisa lagi. Cuaca hari itu sangat menyiksa, sekaligus membawa berkah. Menyiksa tenggorokan yang cepat haus dan membawa berkah karena jalan tidak becek serta membuat jemuran cepat kering. Jalanan kota memang tak pernah sepi dari kendaraan, setiap jam bahkan setiap detiknya. Ditto tak peduli dengan debu yang terus membelai wajahnya. Hingga akhirnya dia pun menemukan Warnet yang berada dibahu jalan.
                        Sesaat hawa dingin mulai menyambut tubuh yang basah dengan keringat. Seakan Ditto memasuki alam yang berbeda dari yang tadi ia rasakan di luar Warnet. Meja panjang yang berukuran pendek yang diletakan berbagai dokumen, dispenser dan yang lainnya, sepertinya memanggil tubuh Ditto yang diselimuti rasa lelah yang sangat. Dia pun duduk diatas meja yang beralih fungsi sebagai tempat duduk itu sambil memberikan Flash disk kepada operator Warnet.
                        “Yang surat permohonan ini yah” pinta Ditto pada operator, sambil menunjuk dokumen yang diberi nama Surat Permohonan.
                        Jari si operator mulai mengklik document itu. Data yang berada di dalam dokumen mulai mengalir kedalam kabel yang tersambung sampai ke mesin print. Si robot pencetak mulai bergerak perlahan. Memberikan sensasi yang indah dengan suaranya yang “tret… tret.. treeet..”. Akhirnya Surat permohonan ditto pun tercetak rapi.
                        Udara seperti di dalam open kembali menjilati Ditto. Dengan kekuatan semangat dia terus berjalan mencari langkah yang kedua setelah langkah pertama ia selesaikan. Langkah keduanya yaitu mencari fotokopi yang menyediakan Materai. Loncat ke sana- sini tidak ada fotokopi yang menyediakan materai. Tapi ditto melihat satu fotokopi yang mungkin ini adalah yang terakhir. Fotokopi itu masih berada dibahu jalan tapi letaknya di ujung pertokoan. Akhirnya langkah kedua untuk fotokopi dan materai telah selesai.
                        Bajunya terasa sedikit basah oleh keringat. Sesekali ia menyeka keringat yang terus mengalir di wajahnya. Hari yang cukup melelhkan memang. Ditto melihat kearah jam tangannya ternyata waktu telah menunjukan pukul setengah dua siang. Dia pun duduk untuk menghilangkan rasa lelah, walaupun hanya sebentar.
                        “Bismillah !” Ditto berdiri kembali, melanjutkan langkah yang masih tersisa.
                        Pohon rimbun yang menghiasi jalanan kota seakan ikut mengasihi tubuh Ditto yang terlihat lelah. Tidak berapa lama mobil angkot menampakan diri. Sebelum mobil angkot membawanya Ditto bertanya pada si supir “ Pengadilan Negeri”. Si supir yang memakai kaos putih mengangguk tanda “iya”.
                        Mobil angkot melesat membelah jalan raya. Tak lupa untuk mematuhi peraturan lalu lintas kota, dan berhenti sesaat untuk membawa penumpang lain. Hanya beberapa menit saja mobil angkot sampai di Pengadilan negeri.
                        “ni bang” Ditto memberikan selembar Uang 5 ribuan. Tak sengaja ia melihat kearah penumpang lain yang berada dibelakang. Beberapa pasang mata terlihat sedang memandang heran. Mungkin mereka bertanya-tanya. “oh.. pasti orang itu pegawai Pengadilan”, “wartawan”, atau …. Hah untung saja mereka hanya bergumam dalam hati.
                        Memasuki gerbang pengadilan. Tampak beberapa petugas kepolisian sedang berjaga-jaga. Da ketika memasuki gedung itu. Ditto di sambutt oleh suara riuh yang berasal dari lantai atas. Sontak dia pun melihat kearah itu dan tenyata banyak petugas kepolisan lengakap dengan senjata dan topi miringnya. Dan segeromolan masyarakat yang menyaksikan kedalam Ruangan yang bertuliskan “ Ruang Sidang”. Ditto tidak banyak tingkah karena waktu terus mengejarnya. Dia pun langsung memasuki Ruang Perdata dimana lembaran-lembaran yang ia bawa tadi akan dieksekusi.
                        “maaf Bu, saya baru bisa hari ini” sambil menyerahkan berkas yang terbungkus Map berwarna biru itu kepada Ibu muda yang berada dihadapannya.
                        “oh, ga apa-apa mas” balasnya. Ibu muda itu pun memeriksa berkas yang dibawa Ditto.
            Beberapa menit kemudian. Setelah Ditto memperhatikan berkas dan raut muka si ibu muda.
                        “slip pembayaran ini serahkan ke Ibu Erna di sana, dan kembali lagi kesini”
                        Tidak butuh menunggu lama. Kwitansi dari slip pembayaran pun selesai. Ditto kembali ke meja ibu muda tadi. Dengan menyerahkan kwitansi dan slip pembayaran yang di berikan Ibu Erna.
                        “ Tunggu sebentar ya mas” si ibu muda meninggalkan mejanya, menuju kedalam ruangan yang terdapat didalam ruangan perdata.
            Si ibu muda pun kembali dengan selembar kertas yang ada ditangannya.
                        “mas, nanti persyaratan yang kemarin itu tolong difotokopi lagi. Dan berikan legalisir dari Kantor pos, yang ini nomor pekara yang nanti akan disidangkan,” ibu muda menunjuk kearah nomor Perkara yang berada diatas Surat. ” eh iya. Dan siapkan juga dua saksi untuk hari pengadilan nanti” lanjut si ibu muda dengan menyerahkan lembaran yang berada ditangannya pada Ditto.
                        “ko harus ada Saksi dan legalisir segala bu?” Tanya Ditto heran.
                        “ya… emang syaratnya gitu mas” tegasnya
                        “hmmmm… ya sudah kalau gitu bu”, “asalamu’alaikum” Ditto meninggalkan ruang perdata dengan penuh kebingungan.
            Sepanjang perjalan dia bergumam dalam hati. ” ngurus perbaharuan Akte saja Ribet gini, hah!, mudah-mudahan Saksi kelahiranku masihh ada orangnya”. “padahal kan semua data-dataku sudah benar, hanya saja Akte kelahiranku ini yang bermasalah. Seharusnya bukan aku yang mengurus ini semua. Inikan kesalahan dari petugas waktu orang tuaku bikan dulu. Ah..”
“Ya… Allah. Emang benar ya, kesuksesan itu harus dibayar dengan Kerja keras. Semoga semua kejadian ini ada hikmah dan keberkahannya. Amiiin”
Selesai
Serang, 11 April 2013
             
           

Wednesday, April 3, 2013

12-12-12


By : Yan Van Java 

pasang muka artis korea dulu ah...
sarangheyo cena !
Perjalanan kali ini yang akan ku ceritakan adalah ketika hanya Guyonan namun berujung sungguhan. Awalnya….  
                “Yuk kita jalan bareng, main ke rumah Sofiah terus main ke Curug Gumawang. paling PT-PT (iuran) Cuma 20.000/org”.
                Semua kepala mengangguk tanda setuju. Karena jarang-jarang kami berkunjung kesalah satu rumah teman kami. Pada kesempatan itu aku pergi bersama teman-teman kelasku KPI A. pada awalnya kami berencana pergi hari senin tapi berhubung jadwal hari itu penuh, maka kami putuskan untuk berangkat hari rabu dan kami ga sadar kalau hari Rabu ada Wisuda dikampus. Wah kebetulan !.
                Hari berjalan dengan matahari dan bulan yang selalu silih berganti. Aku tak menyangka hal ini akan terjadi. Pada hari –H aku disuruh untuk mengambil shoot pertama dalam pembuatan film dikampusku, sedangkan hari itu juga jam 08 pagi aku harus berangkat dengan teman-temanku. Aku bingung, aku berusaha menghubungi teman-temanku agar sabar menungguku, atau mempersilahkan mereka untuk pergi duluan. Ternyata jadwal pengambilan gambar di undur sampai jam 09 pagi, ah Tuhan ! apa yang harus aku lakukan, aku sudah janji sama teman-temanku.
                Pengambilan gambar selesai jam 10 dan handphoneku terus berdering. Banayak sms dan telpon dari teman-temanku. “Yan cptan, masih lama ga?”. Akhirnya setelah mengikuti evaluasi dan kegiatan pengambilan selanjutnya, aku meminta ijin pada Bu sutradara dan Bapak Produser untuk pergi dan tidak mengikuti kegiatan hari ini. Akhirnya dengan muka melas kepada mereka aku pun diberi ijin, walaupun pembuatan film ini berharga bagiku tapi aku sudah terlanjur janji pada teman-temanku. Detik itu juga aku lari ke gerbang belakang kampus membelah keramaian orang-orang yang sedang menyaksikan wisuda. Ternyata gerbang belakang dikunci. Ku lari lagi kedepan dan kembali membelah lauatan manusia, semua mata melihatku, merasa aneh mungkin, seperti orang yang sedang dirajia polisi. Masa bodo, yang penting aku tak membuat kecewa teman-temanku.
                Sesampainya “huh….huh….huh.. ma…aaaaf, gue… te…lat ga..apa…apa…khan….huh…” sambil terus kuatur napasku dan sesekali kuseka keringat yang dari tadi mengalir deras dikeningku.
ngeksis at gubuk pedagang... smile u... don't cry !
                Syukurlah mereka masih setia menungguku. Istirahat sebentar sambil nunggu mobil angkot, makan cireng goreng, makan gorengan, dan tentu minumnya Air putih, “air hemat tidak bikin sakit”, Hahhhaahha. akhirnya mobil angkot pun datang. Lumayan sulit bernego dengan supir angkot yang masih terlihat muda itu, namun setelah itu si supir muda menerima tawaran kami untuk mengantar sampai tempat tujuan.
                Tanggal 12-12-2012 kami berangkat menuju rumah teman kami. jalan berdebu, bulak-belok, harus mengalah tapi pengen menang sama mobil-mobil gede, tiba-tiba ketika sampai jalanan yang lumayan rusak. Teman-teman perempuanku yang ada didalam angkot berteriak. “wah ada Joshua…. Ada Joshua…” sontak saja membuatku yang berada dibelakang mereka kaget tak percaya. Aku yang dibonceng oleh Fadli menengok kearah belakang dan tidak ada Joshua disana. “ ih… kelas KPI A punya Joshua lucu dech…hahahha”. Walaaaaaah ternyata mereka meledekku yang saat itu memakai kupluk bergoreskan warna putih dan hitam dilengkapi dengan kacamata jengkol, hahahha. Eh…. Kenapa mobil angkot itu berhenti?. Satu persatu penumpangnya turun dengan memasang muka kesal.
                Hmmmmm si supir ternyata tidak mau mengantar sampai tujuan karena terlalu jauh, jika mau mereka harus membayar lebih lagi. Dengan terpaksa dan tak mau dibohongi si supir teman-temanku memutuskan untuk menunggu sang tuan rumah menjemput mereka. Akhirnya dari pada menunggu lama kami pun TUTI (Tumpuk Tiga) diatas motor. Lumayan jauh, bilangnya sih deket pasar, tapi ga nyampe-nyampe. Mungkin di pasar senen Jakarta kali rumahnya. Setelah melewati beberapa tikungan kami pun sampai di rumah yang cukup sederhana, ditemani pohon manga didepan rumah dan tanaman hias yang menghiasi pagarnya. Kami pun disambut ole tuan rumah. Canda, tawa, kesel, curhat semua tercurahkan dalam rumah sederhana ini.
                Tanpa basa-basi lagi, setelah melaksanakan salat dzuhur, hidangan pun siap menyambut cacing-cacing perut kami. ada nasi, ada daging ayam sambel balado, tempe, tahu, ikan sejenis ikan tongkol kecil, sambal, dan tentunya tidak luput dari makanan indonesia kalau ada sambal pasti ada lalapan, entah itu daun singkong, daun papaya muda, atau daun jambu mede muda. Sungguh mengairahkan nafsu makan. Mmmmmmmm mak-nyos kata pak bondan, lazieeeees ping-ping-ping kata benu bulo, dan 100% ngenaaaaaah kataku. Heheheh.       
sebelum makan eksis dulu euy... !
                tak selang lama menunggu makanan kami turun dan terserap oleh sel-sel yang ada dalam tubuh. Aku dan teman-temanku langsung tancap gas menuju Curug Gumawang yang berada di kampung curug dahu, desa padarincang, kecamatan padarincang, kabupaten Serang-Banten. Kata sang petujuk arah, kita harus lewan gang kecil aja, karena cepat sampainya.  Memasuki gang yang lumayan lebar cukup untuk dua motor disebelah kanan dan kiri. Kami disambut oleh jalan berbatu tanpa aspal, genangan air disetiap lubang, dan juga polisi tidur yang tak pernah bosan menjadi hiasan dijalan gang.
                Parkir Motor
                Tulisan besar yang tergantung dibatang pohon besar itu mengheentikan kendaraan kami. tapi ada sebuah pertanyaan dihati kami “ kalau parkir disini, terus Curugnya mana?”. Setelah berpikir panjang, akhirnya temanku yang tahu jalan ini angkat bicara, sebaiknya kami parker diatas saja. Karena jika kita meninggalkan motor disini yang harus tanggung resiko. Entah itu helm hilang atupun berjalan kaki yang cukup membuat betis menjadi atletis binaragawan. WoW….. !
                Brem…….. brem…… brem…..
 gas motor kembali menyala, kami pun melanjutkan perjalanan kami ke Curug Gumawang. Menapaki jalan setapak, ditemani arus sungai yang lumayan deras dibawah sana, dan hijaunya persawahan disebelah kanan kami, menjadi magnet bahwa tempat ini harus dikunjungi. Cukup membuat hati deg-degan karena jalan setapak yang kami lewati berada percis disamping jurang sungai. Tapi semua itu tertepis oleh tempat parkiran motor yang menjadi tanda bahwa perjalanan kami terhenti sampai disini dan selanjutnya kami harus berjalan kaki menuju Curug Gumawang.
Aliran air sungai yang jernih menyambut kami diatas jembatan anyaman bambu. Jiwa artis plus Lebay tidak lepas dari diriku dan teman-temanku. Segera saja bidikan kamera handphone dan digital mengabadikan moment ini. Tiba-tiba saja……..
“maaf mas, harus beli tiket dulu disini” ujar pemuda, mungkin petugas karcis tempat ini, yang duduk disebuah gubuk kecil dibawah pohon yang rindang.
“oh…. Berapa mas,?
“Semuanya Rp. 25.000-, nanti kalau diatas ada yang minta lagi jangan dikasih”
“mahal amat, hmmmm 20 kali mas?
“ya udah “
seru-seruan at Curug Gumawang
                Perdebatan karcis telah kami lewati. Saatnya melewati jalan setapak dan menanjak dan turun kembali dan menanjak lagi. Tapi oh Tuhan. Aku dan teman-temanku kembali dikejutkan dengan penampakan bapak-bapak tua yang meminta uang masuk curug. Dengan segala perdebata yang sangat sengit, sehingga membuatku muak melihat semua ini. Mau tak mau karena kami adalah pengunjung maka kami kami kasih seikhlasnya. Untuk yang ketiga kalinya, Curug Gumawang telah Nampak didepan mata, tapi lagi-lagi setan Curug datang kembali sebagai seorang kakek tua penjaga warung, dia meminta uang kebersihan. Ya Tuhan… uang kebersihan, terus yang tadi uang untuk apa? Hah ! melelahkan hati dan melelahkan kaki, sangat.
                Untuk mengobati semua itu, air terjun Curug Gumawang hinggap diatas kepalaku, dengan cipratan air terjun yang mengembun indah terlihat dari kejauhan. Sungguh dingin dan melepaskan lelah.
woooy biasa aje kaleeee... 
                Tampang artis dan gaya lebal mulai memenuhi memori kamera. Ada gaya shahrukh khan, ada gaya pendaki gunung, gaya anak alay, gaya model shampo clear, dan masih banyak yang lainnya. “Cape juga euy foto-foto mulu”.  Perjalanan kami pun berakhir ketika matahari mulai bersiap-siap kembali keupuk barat. Dengan alunan merdu dari air terjun gumawang dan tawa can lepas dari para pengunjung. Satu kata “ Subhanallah” ternyata dipedalama kecamatan padarincang tersimpan surge yang cukup menyejukan mata dan hati. Terima kasih untuk semuanya




Serang, 03 April  2013