By :Yan Van Java
Sinta bingung, ia mulai
tak paham dengan sikap yang belakangan ini arya lakukan terhadap dirinya. Setiap
kali Sinta mendekatinya, Arya mengindar jauh-jauh darinya. seolah-olah telah
terjadi sesuatu yang sangat patal yang telah dilakukan Sinta. Arya lebih
memilih menyendiri atau bergabung sebentar dengan teman-temannya kemudian pergi
menghilang entah kemana.
Sudah satu minggu Sinta tidak jalan
bersama Arya. Sinta masih bingung, apa salah dia?. Sms yang selalu dikirimnya
selalu tidak mendapat tanggapan. Sapaan yang ia lontarkan pun hanya dijawab
datar oleh arya. Apalagi jika Sinta berusaha untuk menghibur teman-temannya,
Arya hanya diam, tidak ada senyum sedikit pun. seakan tidak ada yang sedang
menghibur disitu.
“Ta, tumben sendiri, mana Arya?
biasanya kalian barengan mulu”. Tanya dimas sambil membawa dagangan kuenya.
“ga tahu, gue juga bingung sama dia”
jawab Sinta setengah mengeluh.
Sinta dan Arya memang berteman cukup
lama. Mulai dari bangku kelasa satu SMA mereka mengikat pertemanan ini. Satu sama
lain saling mengisi kekosongan, saling mengingatkan, dan saling bertukar
pikiran. mereka berdua pun tak menyangka bakalan berteman seperti ini. Dan mereka
pun tak tahu kapan awalnya. Sinta yang punya sifat cuek, egois dan bisa
dibilang arogan. Tak menjadi penghalang bagi Arya untuk berteman dengannya.
Arya sendiri punya sifat berani, jiwa social dan sedikit dilanda galau. Walaupun
cowok, Arya orangnya sedikit sensitive dan sering menyalahkan dirinya sendiri. Kerenggangan
pertemanan mereka diawali ketika pembicaraan di Kantin Sekolah.
Waktu itu matahari
mencoba untuk bersembunyi dibalik dedaunan pohon sekolah. Hanya sinarnya yang
sesekali menembus dari balik dedaunan.
“Ya, loe masih percaya
sama mimpi ?” tanya Sinta serius.
“ya, emang kenapa? Kok tiba-tiba
loe nanya itu?” jawab Arya sambil meminum jus jeruk dihadapanya.
“gue udah ga percaya mimpi.
Mimpi itu Cuma bohong, dan hanya akan membuat sakit hati kita aja” ucapnya cuek
sambil makan baso.
“oh, gitu” jawab Arya
datar. Namun didalam hatinya ia kaget, kok ada orang yang tidak mempercayai
mimpi. Padahal dengan sebuah mimpi maka hidup akan selalu terpacu dan
bersemangat dalam hidup.
“Ya, kok loe diem?”
Dia pergi meninggalkan
Sinta yang masih sibuk dengan mie dan teh manisnya. Hanya ucapan “Ta, gue
duluan, dan ini tolong bayarin. Asalamu’alaikum”. Dilorong sekolah Arya masih
memikirkan apa yang tadi diucapkan Sinta dikantin. Dia masih tak percaya kenapa
dia bisa berbicara seperti itu. Sampai dikelas, dia masih membatin dengan ini. pelajaran
pun tidak Arya hiraukan. Pikirannya melayang entah kemana. Bel sekolah
berbunyi. Arya langsung pergi meninggalkan kelas.
Melihat hal itu Sinta
langsung mengejar Arya. Tapi Arya terus melangkah meninggalkan panggilan Sinta
dibelakangnya. Sinta terus mengejarnya. Tapi dia hanyalah seorang perempuan
yang tak kuat berlari cepat.
Arya masih terus
bergumam dalam hati “ Ta, kenapa loe bisa ngomong seperti itu. Kita kan sudah
janji mau menjaga mimpi-mimpi kita. Mengejar mimpi tanpa kenal lelah, menapaki
langkah tanpa pernah putus asa. Menangis dan terjatuh itu hal yang biasa Taaaaaa”. Dia berusaha menguasai dirinya agar tak menangis, tapi air matanya mngalir begitu saja. “ tapi… kenapa loe mulai
menyerah ta” dia lari meninggalkan sekolah, lari sejauh mungkin tanpa ada sinta
lagi dalam hari-harinya. Dan Arya masih menggenggam Mimpi itu kuat, sangat kuat
dalam hatinya.
Selesai
No comments:
Post a Comment