Wednesday, April 24, 2013

Kenapa Ta ?


By :Yan Van Java

           Sinta bingung, ia mulai tak paham dengan sikap yang belakangan ini arya lakukan terhadap dirinya. Setiap kali Sinta mendekatinya, Arya mengindar jauh-jauh darinya. seolah-olah telah terjadi sesuatu yang sangat patal yang telah dilakukan Sinta. Arya lebih memilih menyendiri atau bergabung sebentar dengan teman-temannya kemudian pergi menghilang entah kemana.
                        Sudah satu minggu Sinta tidak jalan bersama Arya. Sinta masih bingung, apa salah dia?. Sms yang selalu dikirimnya selalu tidak mendapat tanggapan. Sapaan yang ia lontarkan pun hanya dijawab datar oleh arya. Apalagi jika Sinta berusaha untuk menghibur teman-temannya, Arya hanya diam, tidak ada senyum sedikit pun. seakan tidak ada yang sedang menghibur disitu.
                        “Ta, tumben sendiri, mana Arya? biasanya kalian barengan mulu”. Tanya dimas sambil membawa dagangan kuenya.
                        “ga tahu, gue juga bingung sama dia” jawab Sinta setengah mengeluh.
                        Sinta dan Arya memang berteman cukup lama. Mulai dari bangku kelasa satu SMA mereka mengikat pertemanan ini. Satu sama lain saling mengisi kekosongan, saling mengingatkan, dan saling bertukar pikiran. mereka berdua pun tak menyangka bakalan berteman seperti ini. Dan mereka pun tak tahu kapan awalnya. Sinta yang punya sifat cuek, egois dan bisa dibilang arogan. Tak menjadi penghalang bagi Arya untuk berteman dengannya. Arya sendiri punya sifat berani, jiwa social dan sedikit dilanda galau. Walaupun cowok, Arya orangnya sedikit sensitive dan sering menyalahkan dirinya sendiri. Kerenggangan pertemanan mereka diawali ketika pembicaraan di Kantin Sekolah.
Waktu itu matahari mencoba untuk bersembunyi dibalik dedaunan pohon sekolah. Hanya sinarnya yang sesekali menembus dari balik dedaunan.
“Ya, loe masih percaya sama mimpi ?” tanya Sinta serius.
“ya, emang kenapa? Kok tiba-tiba loe nanya itu?” jawab Arya sambil meminum jus jeruk dihadapanya.
“gue udah ga percaya mimpi. Mimpi itu Cuma bohong, dan hanya akan membuat sakit hati kita aja” ucapnya cuek sambil makan baso.
“oh, gitu” jawab Arya datar. Namun didalam hatinya ia kaget, kok ada orang yang tidak mempercayai mimpi. Padahal dengan sebuah mimpi maka hidup akan selalu terpacu dan bersemangat dalam hidup.
“Ya, kok loe diem?”
Dia pergi meninggalkan Sinta yang masih sibuk dengan mie dan teh manisnya. Hanya ucapan “Ta, gue duluan, dan ini tolong bayarin. Asalamu’alaikum”. Dilorong sekolah Arya masih memikirkan apa yang tadi diucapkan Sinta dikantin. Dia masih tak percaya kenapa dia bisa berbicara seperti itu. Sampai dikelas, dia masih membatin dengan ini. pelajaran pun tidak Arya hiraukan. Pikirannya melayang entah kemana. Bel sekolah berbunyi. Arya langsung pergi meninggalkan kelas.   
Melihat hal itu Sinta langsung mengejar Arya. Tapi Arya terus melangkah meninggalkan panggilan Sinta dibelakangnya. Sinta terus mengejarnya. Tapi dia hanyalah seorang perempuan yang tak kuat berlari cepat.
Arya masih terus bergumam dalam hati “ Ta, kenapa loe bisa ngomong seperti itu. Kita kan sudah janji mau menjaga mimpi-mimpi kita. Mengejar mimpi tanpa kenal lelah, menapaki langkah tanpa pernah putus asa. Menangis dan terjatuh itu hal yang biasa Taaaaaa”. Dia berusaha menguasai dirinya agar tak menangis, tapi air matanya mngalir begitu saja. “ tapi… kenapa loe mulai menyerah ta” dia lari meninggalkan sekolah, lari sejauh mungkin tanpa ada sinta lagi dalam hari-harinya. Dan Arya masih menggenggam Mimpi itu kuat, sangat kuat dalam hatinya.

Selesai

No comments:

Post a Comment