Friday, April 12, 2013

Berteman dengan Macet


By : Yan Van Java
 
“Shit… Macet lagi. Ga bosen-bosen nih” kesalku di pagi hari yang sudah membuat jantung dan kaki ingin berlomba menghajar jalan raya.
                        Memang tidak asing lagi bagiku dengan kemacetan yang terjadi didaerah Kiliman ini. Karena karyawan pabrik yang membeludak bak lautan manusia. Ditambah lagi angkot yang sering mengetem disembarang jalan dan para pengguna motor yang sering tak sabar ingin menyelip diantara sela-sela yang masih tersisa. Sampai- sampai meyerobot masuk ke jalur sebelah kanan. Yang mengakibatkan kemacetan bakal total sampai siang hari. Itu pun jika ada yang mengatur. Kalau tidak ada, waaaaaaaaaaah patal.
                        Syukurlah macet pagi ini tidak begitu parah dan panjang. Walaupun macet tapi masih bisa merayap sedikit demi sedikit. Biasanya jika macet ada dua pilihan. Pertama, turun dan jalan kaki. Yang kedua, duduk manis sampai sang supir mengusir kita untuk pindah keangkot lain.
                        Mobil angkot kembali melaju dengan kebebasan yang ia miliki. Angin segar masuk dengan lembut diantara sela-sela jendela yang terbuka. Keringat yang mengalir ditubuhku terasa hilang tak berbekas. Walaupun debu jalan menempel diwajahku aku tak menghiraukannya. Yang penting jalan lancar dan angin bebas masuk membelaiku.
                        Baru saja terbebas dari macet Kiliman. Aku langsung disambut lagi dengan kemacetan Pasar Djogrog yang letaknya dibahu jalan. Hah ! tak kebayang apabila pasar ini beroperasi setiap hari. Bisa stress aku disambut macet yang tak jelas ini. Padahal tidak ada mobil ataupun motor yang mogok, tapi kemacetan ini selalu saja terjadi. bukan hanya di pagi hari melainkan sampai siang hari pun macet tidak bisa terhindarkan lagi.
                        “gue pindahin juga nih pasar… bikin macet mulu” gumamku dalam hati. Dengan memasang muka kesalku yang tak habis-habis.
                        Seharusnya pemerintah daerah Djogrog ini memindahkan pasar ini ketempat yang lebih luas lagi. Jangan di bhu jalan seperti ini. Bukan hanya para pedagang yang memasang tenda di bahu jalan. Hampir setengah jalur dipakai untuk tempat parkir motor dan becak. Sungguh membuat darahku naik saja.
                        Macet disepanjang jalan, mungkin sudah menjadi teman dan musuhku sehari-hari, bukan di pagi hari saja tapi sore hari pun dia akan menjadi derita bagiku.    
Selesai


No comments:

Post a Comment