By : Yan Van Java
“Shit…
Macet lagi. Ga bosen-bosen nih” kesalku di pagi hari yang sudah membuat jantung
dan kaki ingin berlomba menghajar jalan raya.
Memang
tidak asing lagi bagiku dengan kemacetan yang terjadi didaerah Kiliman ini.
Karena karyawan pabrik yang membeludak bak lautan manusia. Ditambah lagi angkot
yang sering mengetem disembarang jalan dan para pengguna motor yang sering tak
sabar ingin menyelip diantara sela-sela yang masih tersisa. Sampai- sampai
meyerobot masuk ke jalur sebelah kanan. Yang mengakibatkan kemacetan bakal
total sampai siang hari. Itu pun jika ada yang mengatur. Kalau tidak ada,
waaaaaaaaaaah patal.
Syukurlah
macet pagi ini tidak begitu parah dan panjang. Walaupun macet tapi masih bisa
merayap sedikit demi sedikit. Biasanya jika macet ada dua pilihan. Pertama,
turun dan jalan kaki. Yang kedua, duduk manis sampai sang supir mengusir kita
untuk pindah keangkot lain.
Mobil
angkot kembali melaju dengan kebebasan yang ia miliki. Angin segar masuk dengan
lembut diantara sela-sela jendela yang terbuka. Keringat yang mengalir
ditubuhku terasa hilang tak berbekas. Walaupun debu jalan menempel diwajahku
aku tak menghiraukannya. Yang penting jalan lancar dan angin bebas masuk
membelaiku.
Baru
saja terbebas dari macet Kiliman. Aku langsung disambut lagi dengan kemacetan
Pasar Djogrog yang letaknya dibahu jalan. Hah ! tak kebayang apabila pasar ini
beroperasi setiap hari. Bisa stress aku disambut macet yang tak jelas ini.
Padahal tidak ada mobil ataupun motor yang mogok, tapi kemacetan ini selalu
saja terjadi. bukan hanya di pagi hari melainkan sampai siang hari pun macet
tidak bisa terhindarkan lagi.
“gue
pindahin juga nih pasar… bikin macet mulu” gumamku dalam hati. Dengan memasang
muka kesalku yang tak habis-habis.
Seharusnya
pemerintah daerah Djogrog ini memindahkan pasar ini ketempat yang lebih luas
lagi. Jangan di bhu jalan seperti ini. Bukan hanya para pedagang yang memasang
tenda di bahu jalan. Hampir setengah jalur dipakai untuk tempat parkir motor
dan becak. Sungguh membuat darahku naik saja.
Macet
disepanjang jalan, mungkin sudah menjadi teman dan musuhku sehari-hari, bukan
di pagi hari saja tapi sore hari pun dia akan menjadi derita bagiku.
Selesai

No comments:
Post a Comment