Wednesday, April 3, 2013

12-12-12


By : Yan Van Java 

pasang muka artis korea dulu ah...
sarangheyo cena !
Perjalanan kali ini yang akan ku ceritakan adalah ketika hanya Guyonan namun berujung sungguhan. Awalnya….  
                “Yuk kita jalan bareng, main ke rumah Sofiah terus main ke Curug Gumawang. paling PT-PT (iuran) Cuma 20.000/org”.
                Semua kepala mengangguk tanda setuju. Karena jarang-jarang kami berkunjung kesalah satu rumah teman kami. Pada kesempatan itu aku pergi bersama teman-teman kelasku KPI A. pada awalnya kami berencana pergi hari senin tapi berhubung jadwal hari itu penuh, maka kami putuskan untuk berangkat hari rabu dan kami ga sadar kalau hari Rabu ada Wisuda dikampus. Wah kebetulan !.
                Hari berjalan dengan matahari dan bulan yang selalu silih berganti. Aku tak menyangka hal ini akan terjadi. Pada hari –H aku disuruh untuk mengambil shoot pertama dalam pembuatan film dikampusku, sedangkan hari itu juga jam 08 pagi aku harus berangkat dengan teman-temanku. Aku bingung, aku berusaha menghubungi teman-temanku agar sabar menungguku, atau mempersilahkan mereka untuk pergi duluan. Ternyata jadwal pengambilan gambar di undur sampai jam 09 pagi, ah Tuhan ! apa yang harus aku lakukan, aku sudah janji sama teman-temanku.
                Pengambilan gambar selesai jam 10 dan handphoneku terus berdering. Banayak sms dan telpon dari teman-temanku. “Yan cptan, masih lama ga?”. Akhirnya setelah mengikuti evaluasi dan kegiatan pengambilan selanjutnya, aku meminta ijin pada Bu sutradara dan Bapak Produser untuk pergi dan tidak mengikuti kegiatan hari ini. Akhirnya dengan muka melas kepada mereka aku pun diberi ijin, walaupun pembuatan film ini berharga bagiku tapi aku sudah terlanjur janji pada teman-temanku. Detik itu juga aku lari ke gerbang belakang kampus membelah keramaian orang-orang yang sedang menyaksikan wisuda. Ternyata gerbang belakang dikunci. Ku lari lagi kedepan dan kembali membelah lauatan manusia, semua mata melihatku, merasa aneh mungkin, seperti orang yang sedang dirajia polisi. Masa bodo, yang penting aku tak membuat kecewa teman-temanku.
                Sesampainya “huh….huh….huh.. ma…aaaaf, gue… te…lat ga..apa…apa…khan….huh…” sambil terus kuatur napasku dan sesekali kuseka keringat yang dari tadi mengalir deras dikeningku.
ngeksis at gubuk pedagang... smile u... don't cry !
                Syukurlah mereka masih setia menungguku. Istirahat sebentar sambil nunggu mobil angkot, makan cireng goreng, makan gorengan, dan tentu minumnya Air putih, “air hemat tidak bikin sakit”, Hahhhaahha. akhirnya mobil angkot pun datang. Lumayan sulit bernego dengan supir angkot yang masih terlihat muda itu, namun setelah itu si supir muda menerima tawaran kami untuk mengantar sampai tempat tujuan.
                Tanggal 12-12-2012 kami berangkat menuju rumah teman kami. jalan berdebu, bulak-belok, harus mengalah tapi pengen menang sama mobil-mobil gede, tiba-tiba ketika sampai jalanan yang lumayan rusak. Teman-teman perempuanku yang ada didalam angkot berteriak. “wah ada Joshua…. Ada Joshua…” sontak saja membuatku yang berada dibelakang mereka kaget tak percaya. Aku yang dibonceng oleh Fadli menengok kearah belakang dan tidak ada Joshua disana. “ ih… kelas KPI A punya Joshua lucu dech…hahahha”. Walaaaaaah ternyata mereka meledekku yang saat itu memakai kupluk bergoreskan warna putih dan hitam dilengkapi dengan kacamata jengkol, hahahha. Eh…. Kenapa mobil angkot itu berhenti?. Satu persatu penumpangnya turun dengan memasang muka kesal.
                Hmmmmm si supir ternyata tidak mau mengantar sampai tujuan karena terlalu jauh, jika mau mereka harus membayar lebih lagi. Dengan terpaksa dan tak mau dibohongi si supir teman-temanku memutuskan untuk menunggu sang tuan rumah menjemput mereka. Akhirnya dari pada menunggu lama kami pun TUTI (Tumpuk Tiga) diatas motor. Lumayan jauh, bilangnya sih deket pasar, tapi ga nyampe-nyampe. Mungkin di pasar senen Jakarta kali rumahnya. Setelah melewati beberapa tikungan kami pun sampai di rumah yang cukup sederhana, ditemani pohon manga didepan rumah dan tanaman hias yang menghiasi pagarnya. Kami pun disambut ole tuan rumah. Canda, tawa, kesel, curhat semua tercurahkan dalam rumah sederhana ini.
                Tanpa basa-basi lagi, setelah melaksanakan salat dzuhur, hidangan pun siap menyambut cacing-cacing perut kami. ada nasi, ada daging ayam sambel balado, tempe, tahu, ikan sejenis ikan tongkol kecil, sambal, dan tentunya tidak luput dari makanan indonesia kalau ada sambal pasti ada lalapan, entah itu daun singkong, daun papaya muda, atau daun jambu mede muda. Sungguh mengairahkan nafsu makan. Mmmmmmmm mak-nyos kata pak bondan, lazieeeees ping-ping-ping kata benu bulo, dan 100% ngenaaaaaah kataku. Heheheh.       
sebelum makan eksis dulu euy... !
                tak selang lama menunggu makanan kami turun dan terserap oleh sel-sel yang ada dalam tubuh. Aku dan teman-temanku langsung tancap gas menuju Curug Gumawang yang berada di kampung curug dahu, desa padarincang, kecamatan padarincang, kabupaten Serang-Banten. Kata sang petujuk arah, kita harus lewan gang kecil aja, karena cepat sampainya.  Memasuki gang yang lumayan lebar cukup untuk dua motor disebelah kanan dan kiri. Kami disambut oleh jalan berbatu tanpa aspal, genangan air disetiap lubang, dan juga polisi tidur yang tak pernah bosan menjadi hiasan dijalan gang.
                Parkir Motor
                Tulisan besar yang tergantung dibatang pohon besar itu mengheentikan kendaraan kami. tapi ada sebuah pertanyaan dihati kami “ kalau parkir disini, terus Curugnya mana?”. Setelah berpikir panjang, akhirnya temanku yang tahu jalan ini angkat bicara, sebaiknya kami parker diatas saja. Karena jika kita meninggalkan motor disini yang harus tanggung resiko. Entah itu helm hilang atupun berjalan kaki yang cukup membuat betis menjadi atletis binaragawan. WoW….. !
                Brem…….. brem…… brem…..
 gas motor kembali menyala, kami pun melanjutkan perjalanan kami ke Curug Gumawang. Menapaki jalan setapak, ditemani arus sungai yang lumayan deras dibawah sana, dan hijaunya persawahan disebelah kanan kami, menjadi magnet bahwa tempat ini harus dikunjungi. Cukup membuat hati deg-degan karena jalan setapak yang kami lewati berada percis disamping jurang sungai. Tapi semua itu tertepis oleh tempat parkiran motor yang menjadi tanda bahwa perjalanan kami terhenti sampai disini dan selanjutnya kami harus berjalan kaki menuju Curug Gumawang.
Aliran air sungai yang jernih menyambut kami diatas jembatan anyaman bambu. Jiwa artis plus Lebay tidak lepas dari diriku dan teman-temanku. Segera saja bidikan kamera handphone dan digital mengabadikan moment ini. Tiba-tiba saja……..
“maaf mas, harus beli tiket dulu disini” ujar pemuda, mungkin petugas karcis tempat ini, yang duduk disebuah gubuk kecil dibawah pohon yang rindang.
“oh…. Berapa mas,?
“Semuanya Rp. 25.000-, nanti kalau diatas ada yang minta lagi jangan dikasih”
“mahal amat, hmmmm 20 kali mas?
“ya udah “
seru-seruan at Curug Gumawang
                Perdebatan karcis telah kami lewati. Saatnya melewati jalan setapak dan menanjak dan turun kembali dan menanjak lagi. Tapi oh Tuhan. Aku dan teman-temanku kembali dikejutkan dengan penampakan bapak-bapak tua yang meminta uang masuk curug. Dengan segala perdebata yang sangat sengit, sehingga membuatku muak melihat semua ini. Mau tak mau karena kami adalah pengunjung maka kami kami kasih seikhlasnya. Untuk yang ketiga kalinya, Curug Gumawang telah Nampak didepan mata, tapi lagi-lagi setan Curug datang kembali sebagai seorang kakek tua penjaga warung, dia meminta uang kebersihan. Ya Tuhan… uang kebersihan, terus yang tadi uang untuk apa? Hah ! melelahkan hati dan melelahkan kaki, sangat.
                Untuk mengobati semua itu, air terjun Curug Gumawang hinggap diatas kepalaku, dengan cipratan air terjun yang mengembun indah terlihat dari kejauhan. Sungguh dingin dan melepaskan lelah.
woooy biasa aje kaleeee... 
                Tampang artis dan gaya lebal mulai memenuhi memori kamera. Ada gaya shahrukh khan, ada gaya pendaki gunung, gaya anak alay, gaya model shampo clear, dan masih banyak yang lainnya. “Cape juga euy foto-foto mulu”.  Perjalanan kami pun berakhir ketika matahari mulai bersiap-siap kembali keupuk barat. Dengan alunan merdu dari air terjun gumawang dan tawa can lepas dari para pengunjung. Satu kata “ Subhanallah” ternyata dipedalama kecamatan padarincang tersimpan surge yang cukup menyejukan mata dan hati. Terima kasih untuk semuanya




Serang, 03 April  2013

2 comments:

  1. knp judulnya 12-12-12? Ceritanya cukup bagus, dan alurnya juga bagus, bahasanya cukuplah buat pembaca menengah kebwah seperti aku hhe,.,., trs klo bisa komplik percakapan tukang karcis sama penulisnya ditulis aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. tadinya mau gto kandi, tapi takutnya kepanjangan dan membuat pembaca bosan jadi gw tulis singkt dech. and untuk pemberian judul 12-12-12 bukan karena hari kiamat hahahaha tapi ya kita berangktnya pas tgl segitu, dan sedikit membuat pembaca penasaran dngan judul itu, yang akhirnya mereka mau membaca tulisan gw.
      thank's for ur comment. jgn lupa bca cerita-crta yg lainnya jga yooo... :)

      Delete