By : Yan Van Java
“Ya Allah capek banget
“ Ditto menyeka keringat yang mengalir dikeningnya.
Kakinya tak berhenti melangkah,
walaupun air yang berada disaku tasnya sudah tak bersisa lagi. Cuaca hari itu
sangat menyiksa, sekaligus membawa berkah. Menyiksa tenggorokan yang cepat haus
dan membawa berkah karena jalan tidak becek serta membuat jemuran cepat kering.
Jalanan kota memang tak pernah sepi dari kendaraan, setiap jam bahkan setiap
detiknya. Ditto tak peduli dengan debu yang terus membelai wajahnya. Hingga
akhirnya dia pun menemukan Warnet yang berada dibahu jalan.
Sesaat hawa dingin mulai menyambut
tubuh yang basah dengan keringat. Seakan Ditto memasuki alam yang berbeda dari
yang tadi ia rasakan di luar Warnet. Meja panjang yang berukuran pendek yang
diletakan berbagai dokumen, dispenser dan yang lainnya, sepertinya memanggil
tubuh Ditto yang diselimuti rasa lelah yang sangat. Dia pun duduk diatas meja
yang beralih fungsi sebagai tempat duduk itu sambil memberikan Flash disk
kepada operator Warnet.
“Yang surat permohonan ini yah”
pinta Ditto pada operator, sambil menunjuk dokumen yang diberi nama Surat
Permohonan.
Jari si operator mulai mengklik
document itu. Data yang berada di dalam dokumen mulai mengalir kedalam kabel
yang tersambung sampai ke mesin print. Si robot pencetak mulai bergerak
perlahan. Memberikan sensasi yang indah dengan suaranya yang “tret… tret..
treeet..”. Akhirnya Surat permohonan ditto pun tercetak rapi.
Udara seperti di dalam open kembali
menjilati Ditto. Dengan kekuatan semangat dia terus berjalan mencari langkah
yang kedua setelah langkah pertama ia selesaikan. Langkah keduanya yaitu
mencari fotokopi yang menyediakan Materai. Loncat ke sana- sini tidak ada
fotokopi yang menyediakan materai. Tapi ditto melihat satu fotokopi yang
mungkin ini adalah yang terakhir. Fotokopi itu masih berada dibahu jalan tapi
letaknya di ujung pertokoan. Akhirnya langkah kedua untuk fotokopi dan materai
telah selesai.
Bajunya terasa sedikit basah oleh
keringat. Sesekali ia menyeka keringat yang terus mengalir di wajahnya. Hari
yang cukup melelhkan memang. Ditto melihat kearah jam tangannya ternyata waktu
telah menunjukan pukul setengah dua siang. Dia pun duduk untuk menghilangkan
rasa lelah, walaupun hanya sebentar.
“Bismillah !” Ditto berdiri kembali,
melanjutkan langkah yang masih tersisa.
Pohon rimbun yang menghiasi jalanan
kota seakan ikut mengasihi tubuh Ditto yang terlihat lelah. Tidak berapa lama
mobil angkot menampakan diri. Sebelum mobil angkot membawanya Ditto bertanya
pada si supir “ Pengadilan Negeri”. Si supir yang memakai kaos putih mengangguk
tanda “iya”.
Mobil angkot melesat membelah jalan
raya. Tak lupa untuk mematuhi peraturan lalu lintas kota, dan berhenti sesaat
untuk membawa penumpang lain. Hanya beberapa menit saja mobil angkot sampai di
Pengadilan negeri.
“ni bang” Ditto memberikan selembar
Uang 5 ribuan. Tak sengaja ia melihat kearah penumpang lain yang berada
dibelakang. Beberapa pasang mata terlihat sedang memandang heran. Mungkin
mereka bertanya-tanya. “oh.. pasti orang itu pegawai Pengadilan”, “wartawan”,
atau …. Hah untung saja mereka hanya bergumam dalam hati.
Memasuki gerbang pengadilan. Tampak
beberapa petugas kepolisian sedang berjaga-jaga. Da ketika memasuki gedung itu.
Ditto di sambutt oleh suara riuh yang berasal dari lantai atas. Sontak dia pun
melihat kearah itu dan tenyata banyak petugas kepolisan lengakap dengan senjata
dan topi miringnya. Dan segeromolan masyarakat yang menyaksikan kedalam Ruangan
yang bertuliskan “ Ruang Sidang”. Ditto tidak banyak tingkah karena waktu terus
mengejarnya. Dia pun langsung memasuki Ruang Perdata dimana lembaran-lembaran
yang ia bawa tadi akan dieksekusi.
“maaf Bu, saya baru bisa hari ini”
sambil menyerahkan berkas yang terbungkus Map berwarna biru itu kepada Ibu muda
yang berada dihadapannya.
“oh, ga apa-apa mas” balasnya. Ibu
muda itu pun memeriksa berkas yang dibawa Ditto.
Beberapa
menit kemudian. Setelah Ditto memperhatikan berkas dan raut muka si ibu muda.
“slip pembayaran ini serahkan ke Ibu
Erna di sana, dan kembali lagi kesini”
Tidak butuh menunggu lama. Kwitansi
dari slip pembayaran pun selesai. Ditto kembali ke meja ibu muda tadi. Dengan
menyerahkan kwitansi dan slip pembayaran yang di berikan Ibu Erna.
“ Tunggu sebentar ya mas” si ibu
muda meninggalkan mejanya, menuju kedalam ruangan yang terdapat didalam ruangan
perdata.
Si
ibu muda pun kembali dengan selembar kertas yang ada ditangannya.
“mas, nanti persyaratan yang kemarin
itu tolong difotokopi lagi. Dan berikan legalisir dari Kantor pos, yang ini
nomor pekara yang nanti akan disidangkan,” ibu muda menunjuk kearah nomor
Perkara yang berada diatas Surat. ” eh iya. Dan siapkan juga dua saksi untuk
hari pengadilan nanti” lanjut si ibu muda dengan menyerahkan lembaran yang
berada ditangannya pada Ditto.
“ko harus ada Saksi dan legalisir
segala bu?” Tanya Ditto heran.
“ya… emang syaratnya gitu mas”
tegasnya
“hmmmm… ya sudah kalau gitu bu”,
“asalamu’alaikum” Ditto meninggalkan ruang perdata dengan penuh kebingungan.
Sepanjang
perjalan dia bergumam dalam hati. ” ngurus perbaharuan Akte saja Ribet gini,
hah!, mudah-mudahan Saksi kelahiranku masihh ada orangnya”. “padahal kan semua
data-dataku sudah benar, hanya saja Akte kelahiranku ini yang bermasalah.
Seharusnya bukan aku yang mengurus ini semua. Inikan kesalahan dari petugas
waktu orang tuaku bikan dulu. Ah..”
“Ya… Allah. Emang benar
ya, kesuksesan itu harus dibayar dengan Kerja keras. Semoga semua kejadian ini
ada hikmah dan keberkahannya. Amiiin”
Selesai
Serang, 11 April 2013

No comments:
Post a Comment