Friday, April 12, 2013

BUTUH PERJUANGAN !


By : Yan Van Java

“Ya Allah capek banget “ Ditto menyeka keringat yang mengalir dikeningnya.
              Kakinya tak berhenti melangkah, walaupun air yang berada disaku tasnya sudah tak bersisa lagi. Cuaca hari itu sangat menyiksa, sekaligus membawa berkah. Menyiksa tenggorokan yang cepat haus dan membawa berkah karena jalan tidak becek serta membuat jemuran cepat kering. Jalanan kota memang tak pernah sepi dari kendaraan, setiap jam bahkan setiap detiknya. Ditto tak peduli dengan debu yang terus membelai wajahnya. Hingga akhirnya dia pun menemukan Warnet yang berada dibahu jalan.
                        Sesaat hawa dingin mulai menyambut tubuh yang basah dengan keringat. Seakan Ditto memasuki alam yang berbeda dari yang tadi ia rasakan di luar Warnet. Meja panjang yang berukuran pendek yang diletakan berbagai dokumen, dispenser dan yang lainnya, sepertinya memanggil tubuh Ditto yang diselimuti rasa lelah yang sangat. Dia pun duduk diatas meja yang beralih fungsi sebagai tempat duduk itu sambil memberikan Flash disk kepada operator Warnet.
                        “Yang surat permohonan ini yah” pinta Ditto pada operator, sambil menunjuk dokumen yang diberi nama Surat Permohonan.
                        Jari si operator mulai mengklik document itu. Data yang berada di dalam dokumen mulai mengalir kedalam kabel yang tersambung sampai ke mesin print. Si robot pencetak mulai bergerak perlahan. Memberikan sensasi yang indah dengan suaranya yang “tret… tret.. treeet..”. Akhirnya Surat permohonan ditto pun tercetak rapi.
                        Udara seperti di dalam open kembali menjilati Ditto. Dengan kekuatan semangat dia terus berjalan mencari langkah yang kedua setelah langkah pertama ia selesaikan. Langkah keduanya yaitu mencari fotokopi yang menyediakan Materai. Loncat ke sana- sini tidak ada fotokopi yang menyediakan materai. Tapi ditto melihat satu fotokopi yang mungkin ini adalah yang terakhir. Fotokopi itu masih berada dibahu jalan tapi letaknya di ujung pertokoan. Akhirnya langkah kedua untuk fotokopi dan materai telah selesai.
                        Bajunya terasa sedikit basah oleh keringat. Sesekali ia menyeka keringat yang terus mengalir di wajahnya. Hari yang cukup melelhkan memang. Ditto melihat kearah jam tangannya ternyata waktu telah menunjukan pukul setengah dua siang. Dia pun duduk untuk menghilangkan rasa lelah, walaupun hanya sebentar.
                        “Bismillah !” Ditto berdiri kembali, melanjutkan langkah yang masih tersisa.
                        Pohon rimbun yang menghiasi jalanan kota seakan ikut mengasihi tubuh Ditto yang terlihat lelah. Tidak berapa lama mobil angkot menampakan diri. Sebelum mobil angkot membawanya Ditto bertanya pada si supir “ Pengadilan Negeri”. Si supir yang memakai kaos putih mengangguk tanda “iya”.
                        Mobil angkot melesat membelah jalan raya. Tak lupa untuk mematuhi peraturan lalu lintas kota, dan berhenti sesaat untuk membawa penumpang lain. Hanya beberapa menit saja mobil angkot sampai di Pengadilan negeri.
                        “ni bang” Ditto memberikan selembar Uang 5 ribuan. Tak sengaja ia melihat kearah penumpang lain yang berada dibelakang. Beberapa pasang mata terlihat sedang memandang heran. Mungkin mereka bertanya-tanya. “oh.. pasti orang itu pegawai Pengadilan”, “wartawan”, atau …. Hah untung saja mereka hanya bergumam dalam hati.
                        Memasuki gerbang pengadilan. Tampak beberapa petugas kepolisian sedang berjaga-jaga. Da ketika memasuki gedung itu. Ditto di sambutt oleh suara riuh yang berasal dari lantai atas. Sontak dia pun melihat kearah itu dan tenyata banyak petugas kepolisan lengakap dengan senjata dan topi miringnya. Dan segeromolan masyarakat yang menyaksikan kedalam Ruangan yang bertuliskan “ Ruang Sidang”. Ditto tidak banyak tingkah karena waktu terus mengejarnya. Dia pun langsung memasuki Ruang Perdata dimana lembaran-lembaran yang ia bawa tadi akan dieksekusi.
                        “maaf Bu, saya baru bisa hari ini” sambil menyerahkan berkas yang terbungkus Map berwarna biru itu kepada Ibu muda yang berada dihadapannya.
                        “oh, ga apa-apa mas” balasnya. Ibu muda itu pun memeriksa berkas yang dibawa Ditto.
            Beberapa menit kemudian. Setelah Ditto memperhatikan berkas dan raut muka si ibu muda.
                        “slip pembayaran ini serahkan ke Ibu Erna di sana, dan kembali lagi kesini”
                        Tidak butuh menunggu lama. Kwitansi dari slip pembayaran pun selesai. Ditto kembali ke meja ibu muda tadi. Dengan menyerahkan kwitansi dan slip pembayaran yang di berikan Ibu Erna.
                        “ Tunggu sebentar ya mas” si ibu muda meninggalkan mejanya, menuju kedalam ruangan yang terdapat didalam ruangan perdata.
            Si ibu muda pun kembali dengan selembar kertas yang ada ditangannya.
                        “mas, nanti persyaratan yang kemarin itu tolong difotokopi lagi. Dan berikan legalisir dari Kantor pos, yang ini nomor pekara yang nanti akan disidangkan,” ibu muda menunjuk kearah nomor Perkara yang berada diatas Surat. ” eh iya. Dan siapkan juga dua saksi untuk hari pengadilan nanti” lanjut si ibu muda dengan menyerahkan lembaran yang berada ditangannya pada Ditto.
                        “ko harus ada Saksi dan legalisir segala bu?” Tanya Ditto heran.
                        “ya… emang syaratnya gitu mas” tegasnya
                        “hmmmm… ya sudah kalau gitu bu”, “asalamu’alaikum” Ditto meninggalkan ruang perdata dengan penuh kebingungan.
            Sepanjang perjalan dia bergumam dalam hati. ” ngurus perbaharuan Akte saja Ribet gini, hah!, mudah-mudahan Saksi kelahiranku masihh ada orangnya”. “padahal kan semua data-dataku sudah benar, hanya saja Akte kelahiranku ini yang bermasalah. Seharusnya bukan aku yang mengurus ini semua. Inikan kesalahan dari petugas waktu orang tuaku bikan dulu. Ah..”
“Ya… Allah. Emang benar ya, kesuksesan itu harus dibayar dengan Kerja keras. Semoga semua kejadian ini ada hikmah dan keberkahannya. Amiiin”
Selesai
Serang, 11 April 2013
             
           

No comments:

Post a Comment