By : Yan Van Java
Suasana
yang semula ramai, seketika hening dalam tanda Tanya. Bingung, siapa anak
perempuan itu?, kenapa dia tiba-tiba ada dirumah tua itu, padahal gerbang sudah
dikunci? Terus tadi siapa yang mandi? Bayangan siapa yang tadi dilihat oleh
cal?.
*
* *
Rumah yang berada diujung jalan
kampung Suka Kaya itu senyap tak berpenghuni. Hanya rumput setinggi lutut orang
dewasa dan pohon besar yang menjadi penghuninya. Setiap hari memang ada saja
yang melewati rumah yang satu ini. Tapi seketika bulu kuduk mereka merinding
dan segera mempercepat langkah mereka.
Pada malam yang dingin
itu…….
“Cal, ayo masuk. Rumah
ini aman ko !” ajak ian kepada cal yang sedari tadi berdiri mematung dengan
kaki gemetaran dan tatapannya yang kosong.
“yan, loe ngerasa aneh
ga sama rumah ini?, kalo gue merinding yan, gue mau balik aja lah” cal setengah
berbisik pada ian, tapi matanya terus mengamati sekeliling rumah.
“ah loenya aja yang
terlalu penakut, udah ayo masuk!”
“tapi yan……” tanpa rasa
ampun ian pun menarik lengan cal, agar ia mau masuk kedalam rumah itu karena
teman- temannya telah menunggu mereka dari tadi.
Cal, Ian dan
teman-temannya sebenarnya tidak berniat untuk menginap di Rumah yang tampak tak
terurus ini. Karena dari rencana yang mereka buat, mereka ingin menginap di
Villa yang tak jauh dari rumah tua . Tapi apa mau dikata, vila yang sebelumnya
mereka rencanakan, ternyata telah diisi oleh orang lain. Karena mereka lebih
dahulu membayar sewa kepada pemilik villa. Akhirnya dengan terpaksa dan
bernegoisasi dengan penjaga rumah itu, mereka pun dipersilahkan masuk.
Matahari perlahan
tenggelam diupuk barat. Meninggalkan goresan keemasan dilangit yang mulai
Nampak kemerahan oleh sinar matahari. Hari pun mulai gelap, Nampak beberapa
orang bersarung dan dan berpeci, dan perempuan memakai mukena lewat didepan
rumah itu. Adzan magrib berkumandang dari salah satu masjid dikampung suka
kaya. Cal, ian dan teman-temannya saling bergantian mengambil wudhu sebelum
mereka melaksanakan salat magrib berjamaah.
“baiklah teman-teman,
sebelum kita memulai rapat kita malam ini. Kita makan terlebih dahulu dan
disusul dengan salat isya, setelah itu rapat star dari jam 9, gimana setuju?”
Tanya Fahmi selaku ketua dalam rapat ini.
“setujuuuuuuuu….” Jawab
serempak yang hampir membuat rumah itu tidak terasa mengerikan lagi.
Ada yang tiduran, ada
yang ngobrol kesana sini, ada yang curhat, bahkan ada juga yang mandi, karena
merasa badan telah lengket oleh keringat. Walaupun keadaan rumah yang berdebu sampai
beberapa centi, tapi kamar mandinya lumayan, seperti ada yang merawat. Karena
airnya yang masih bagus, dan closetnya pun masih berfungsi. Hanya saja rumput
yang di depan rumah itu yang tak
terawat, makanya menimbulkan sisi mistis dan rasa ngeri untuk memasukinya.
Waktu pun terus
berputar, setelah makan dan melaksanakan salat isya berjamaah. Cal, Ian dan
teman-temanya mulai berkumpul melingkar. Palu sidang dan kertas-kertas dokumen
sidang mulai menghiasi lingkaran anak-anak muda itu. Sidang rapat pun dimulai
dengan membacakan basmallah dan ditutup dengan doa. Rapat berjalan hingga larut
malam. Tampak warung-warung penjual makanan disebrang rumah itu mulai menutup
diri. Para penjual satu-persatu pergi meninggalkan warung-warung mereka.
Jalanan pun sepi, tak berpenghuni.
Tiba-tiba….
“Ta, tadi loe liat
bayangan ga?” cal berbisik pada genta yang duduk disampingnya.
“ga cal, emang kenapa?
Loe liat? Dimana cal?” genta malah balik Tanya pada cal sembari tengok kanan
kiri, depan dan belakang. Genta mulai merasa takut.
Byur….
Byuuur…. Byuuuur…..
Terdengar suara air
yang ditumpahkan dari arah kamar mandi luar. Sontak membuat para penghuni rumah
sementara itu kaget dan saling menatap satu sama lain. Mereka merasa tak ada
satu pun peserta sidang rapat yang pergi ke kamar mandi. Ketua sidang pun
mengabsen mereka satu persatu. Dan semuanya lengkap, tak ada seorang pun yang
pergi kekamar mandi atau pun ketempat lain. Semua tampak bingung, lalu mereka
pun saling suruh menyuruh untuk pergi mengecek kamar mandi. Tak ada satu pun
yang mau melakukannya.
“Kakak ! kata ayah ga
boleh berisik, udah malam” tiba-tiba anak kecil perempuan hadir dalam keributan
mereka malam itu. Semua kepala langsung tertuju pada anak kecil itu yang
langsung pergi meninggalkan mereka dalam kebingungan dengan kehadirannya.
Suasana yang semula
ramai, seketika hening dalam tanda Tanya. Bingung, siapa anak perempuan itu?,
kenapa dia tiba-tiba ada dirumah tua itu, padahal gerbang sudah dikunci? Terus
tadi siapa yang mandi? Bayangan siapa yang tadi dilihat oleh cal?.
Gubrak
!
Satu lagi, terdengar
suara barang jatuh dari dalam gudang belakang. Mata yang tadi saling menatap
kini tertuju semua kearah gudang belakang. Lingkaran yang semula renggang detik
itu pun merapat, serapat rapatnya. Jimbron mencoba menjadi pahlawan, dia
melangkah ke gudang mungkin dengan hati yang masih diselimuti oleh rasa takut
tapi ia coba untuk menguatkannya. Sedangkan teman-teman yang lainnya hanya bisa
menyaksikan jimbron dari belakang. Sesekali jimbron menengok kearah belakang.
Dengan tertatih-tatih ia pun sampai kedepan pintu gudang. Perlahan ia mencoba
untuk membukanya. “bismillahirohmanirahim”ucapanya.
Kreeeeeeeeeeek….. pintu tua gudang
terbuka. Semua mata mencoba untuk bertahan tapi sebagian lagi lebih memilih
memejamkannya. Dan…..
Meooooow…..meooooow…..meoooow
“hah
! ternyata Cuma kucing” jimbron mengelus dadanya yang sempat kagett apa yang
akan terjadi dibalik gudang itu.
“huh… dasar kucing
bego, bikin kaget kita aja loe !” sumpah serapah terlontar dari lisan
Gede.
Suasana kembali tenang
seperti semula. Mereka pun melanjutkan rapat hingga berakhir pukul 02:00 dini
hari. Satu persatu dari mereka mulai memasuki kamar yang hanya dilengkapi
dengan 6 kasur tanpa ranjang. Tapi apa yang terjadi, mata mereka sulit untuk
dipejamkan, pada akhirnya mereka memilih untuk memutar music, ngobrol, mungkin
ada juga yang update status di facebook “gilaaaa…
sekarang gue tidur dirumah serem” dan
mungkin ada juga yang sedang galau SMSan sama pacarnya “bebz… gue takut bangetzzzz.. ga bs tidr
bebz.” Tapi Cal dan Ian lebih memilih tidak tidur, mereka masih penasaran
dengan yang apa terjadi tadi.
Cal dan Ian lalu pergi
keluar rumah. Bukan hanya sekedar ingin mencari angin segar dimalam yang cukup
dingin. Tapi mereka berdua ingin mencari tahu apa yang sudah terjadi pada rumah
itu sehingga terlihat angker dan mengerikan. Cal dan ian lalu berjalan kearah
perkampungan, karena rumah tua yang mereka tempati memang terpisah sendiri. Hmmm tapi siapa yang mau ditanya malam-malam
kaya gini. Yang ada setan dikuburan yang masih melek. Mereka berdua masih
meneruskan langkah. Sesampainya di perkampungan tak ada satupun yang mereka
temui. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk kembali ke rumah tua itu, untuk
berjaga-jaga.
Sang mentari pagi
mengintip dari balik dedaunan. Menyembunyikan rasa malu yang masih tampak jelas
dari matanya. Setiap jiwa yang masih terlelap tidur seketika bangun dari
pembaringan. Kesibukan pun mulai tampak di kampung suka jaya itu. Anak-anak berseragam
sekolah berlari-lari kecil sambil tertawa bebas bersama teman-temannya, para
orang tua mulai sibuk memanggul barang dagangan yang akan mereka jual kepasar
seberang, ibu-ibu pun tak mau ketinggalan, mereka membawa keranjang yang siap
untuk menampung segala belanjaan yang mungkin untuk keperluan 3 hari kedepan.
Sungguh kampung yang Asri tapi menyimpan banyak misteri.
“hoooooaaaaaaam….. udah
pagi, ya?” cal bertanya kepada siapa saja yang ada disana, sambil
menggucek-ngucek matanya.
“belum, masih malam
kebo” jawab bima sambil menepuk badan cal yang memang gede, seperti badut pasar
malam.
Baru saja bangun, Cal
langsung menghampiri Ian yang masih terlelap tidur.
“yan…. yan… banguuuun
loe, dah siang nih, katanya mau investigasi sama warga” sambil mengoyang-goyang
badan Ian yang kurus seperti sapu lidi.
“ah…
gue ngantuk banget, nanti aja lah” Ian masih terus melanjutkan tidurnya
“woy ! kalau loe ga
bangun sekarang, gue ga segan-segan kentut dimuka loe nih, mau loe!?” ancam Cal
yang sudah bersiap-siap menaruh pantatnya dimuka Ian.
Jangankan orang, semut
yang kecil pun tidak akan mau kalau dikentutin gajah duduk sepeti Cal.
Bayangkan saja, makan mie tidak cukup satu porsi, ditambah minuman dan ditambah
nasi lagi. Pokoknya kalau ngajak Cal main kerumah, jangan harap makanan yang
ada dikulkas kalian akan tersisa. Ya, saking nafsunya dia.
Segera Ian bangun dan
lari mencuci muka. Membersihkan bakteri-bakteri yang menempel akibat semburan
angin tornado Cal. Ketika ia kembali ke kamar, ternyata teman-temannya terbaring
tak berdaya. Tak ada suara satu pun, semua sepi seperti tak berpenghuni. Ian
kaget setengah mati, ia mencoba membangunkan teman-temnnya. Semoga masih ada
yang masih bernapas. Tapi… harapan itu kosong. Ian menangis sambil menatap
tubuh kaku teman-temannya. Sebenarnya apa yang terjadi beberapa menit yang
lalu. Padahal tadi semuanya terlihat bergembira, tertawa, tidak ada kesedihan
dan rasa yang mencurigakan. Kenapa sekarang berubah begitu cepat?. Ian masih
dalam posisinya, menangis. Menangis didekat pintu kamar, karena ia tak percaya
dengan semua ini. Sebenarnya apa yang terjadi?. Ian pun memperhatikan satu
persatu teman-temannya, semuanya lengkap. Tapi, ada satu pun yang hilang, gajah duduk kemana? Cal
dimana? Kenapa ia tidak ada?. Caaaaaaal…..
“ Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah
!” serempak teman-temannya mengagetkan Ian yang sedari tadi menangis didekat
pintu. “ kenapa loe nangis yan?” lanjut salah satu temannya.
“wah.. wah…
be..ree..ngsek… loe……” ucap ian dengan suara sesegukan sembari menyeka air mata
yang mengalir di atas pipinya. “ pa..rah.. ka…lian. Guuu…e ga habis
pikir…kenap…pa…..” sambil menutupi mukanya.
“lagian…. Kentut si
gajah duduk tuh seperti bom hirosima, mengelegar…. “jelas bima
“dan juga membahana
badai….”. “ udah jangan nagis loe cengeng amat, hahahahhaahah”
Akhirnya suasana yang tadi
sempat membuat jantung ian copot. Kini kembali seperti semula, berdetak dengan
lega, mengedarkan darah dengan tenang tanpa ada rasa khawatir lagi. Ets, tunggu
dulu tapi dimana cal?. Dia bertanya kepada semua orang yang ada dirumah tua
itu. Tapi jawaban mereka hanya menggelengkan kepala. Ian pun lari keluar rumah
meninggalkan teman-teman yang tadi sudah menjahilinya. Lari sepanjang jalan
perkampungan. Namun cal tidak juga diketemukan. Tiba-tiba, Ian melihat
seseorang yang hampir mirip dengan Cal, mempunyai badan besar, celana borju
yang longgar, dan tentu kaos oblong yang sangat besar. Segera ia lari kearah
orang tersebut, dan menepuknya dari belakang.
“Cal !”
“eh kapur kecoa… nyusul
gue juga loe” jawab cal sembari merangkul leher ian dengan lengan kekernya yang
lembek, karena lemak.
“iya gajah ! akibat bom
hirosima loe, semua penghuni kamar tewas seketika” ian kesal sambil memukul
perut gentong Cal.
“hahahahahahahah….,
lebay loe ! ya udah yuk kita lanjutin investigasi kita” kembali Cal menggepit
leher ian sampai sulit bernapas.
Mereka
berdua pun mulai menjelajah kampung. Bertanya tentang apa yang ada dibalik
rumah yang mereka tempati saat ini. Tidak ada satu pun warga yang mau bercerita
tentang rumah itu. Setiap kali Cal dan Ian bertanya pasti mereka menjawab
dengan dua kata “tidak tahu” atau mereka langsung pergi sambil sesekali melihat
kearah rumah itu. Terasa ganjil, memang. Mereka melihat kearah rumah itu dengan
berwajah tegang, seperti ada sesosok makhluk yang terus mengancam mereka.
Tapi ada satu warga desa yang
akhirnya memberikan suaranya untuk mereka. Bapak itu bernama pak Sapri, seorang
hansip di kampung suka kaya itu. Dengan wajah yang terlihat bingung dan
mengambil napas panjang, pak Sapri pun mulai bercerita.
“Tiga tahun yang lalu… Rumah itu
sangat nyaman. Bukan hanya nyaman di luar yang di Tanami banyak bunga, tapi
kenyamanan itu pun tampak pada penghuni rumahnya yaitu keluarga pak Roy. Pak
Roy sendiri sangat baik dan sering ngobrol-ngobrol bersama saya disini, ya percis
di tempat duduk mas Cal. Tapi…..” Pak Sapri menunjuk tempat duduk Cal yang
berada didekat tiang pos kambling, dan ia pun segera meminum kopi yang tampak masih
panas ketika ia meyeruputnya. Lalu pak Sapri melanjutkan ceritanya.
“Pada malam itu, hujan deras
mengguyur kampung ini. Suasana kampung pun sepi, petugas ronda tak ada dan
hansip pun tak ada yang mau berkeliling kampung. Saya pun tak tahu pasti apa
yang sudah terjadi didalam rumah pak Roy dan keluarganya pada malam itu. Karena
tiba-tiba saja, esok harinya pak Roy, istri dan kedua anaknya ditemukan tewas
didalam rumah. Semua barang-barangnya tidak ada yang hilang. Sepertinya si
pembunuh menyimpan rasa dendam pada keluarga pak Roy bukan berniat untuk
merampok”.
“terus pak?” Tanya Ian penasaran.
“ya, sejak saat itu rumah pak Roy
mulai terlihat angker. Karena setiap malam sering terdengar alunan music,
bahkan dua tahun yang lalu, pada waktu itu ada tukang nasi goreng yang lewat
pada tengah malam, dan ada seorang perempuan dan dua orang anak kecil membeli
nasi gorengnya. dia tidak tahu kalau rumah itu angker. Tapi ketika pagi hari
ternyata rumah itu terlihat kosong, hanya rumput dan pohon besar yang menjadi
penghuninya. Dan semua orang yang melewati rumah itu merasa bahwa pak Roy dan
keluarganya masih ada didalam rumah itu, karena mereka belum ikhlas untuk
meninggalkan dunia ini dengan cara terbunuh seperti itu. Begitu ceritanya”.
Kembali pak Sapri meneguk kopi yang sudah dingin yang berada dihadapanya.
“berartiiiiiiii…… anak perempuan
tadi malam siapa…….” Mereka berdua saling behadapan dan mengigil ngeri.
Setelah semua cerita tentang rumah
yang mereka sewa dengan teman-temnnya didapat. Cal dan Ian pun segera
memerintahkan kepada teman-temannya agar segera meninggalkan rumah itu. Waktu menunjukan pukul 09:00 pagi. mereka langsung meninggalkan
tempat itu, tanpa lupa pamit kepada penjaga rumah. Dari kejauhan Cal melihat
sosok anak kecil dan perempuan berbaju kuning bermotif bunga yang berlumuran
darah dibagian perutnya. Kedua sosok itu melambaikan tangan kearahnya dan hilang begitu saja.
Selesai
Serang, 29 Maret
2013









