Sunday, March 31, 2013

Rumah di ujung jalan


By : Yan Van Java 

Suasana yang semula ramai, seketika hening dalam tanda Tanya. Bingung, siapa anak perempuan itu?, kenapa dia tiba-tiba ada dirumah tua itu, padahal gerbang sudah dikunci? Terus tadi siapa yang mandi? Bayangan siapa yang tadi dilihat oleh cal?.
* * *
                        Rumah yang berada diujung jalan kampung Suka Kaya itu senyap tak berpenghuni. Hanya rumput setinggi lutut orang dewasa dan pohon besar yang menjadi penghuninya. Setiap hari memang ada saja yang melewati rumah yang satu ini. Tapi seketika bulu kuduk mereka merinding dan segera mempercepat langkah mereka.
Pada malam yang dingin itu…….
“Cal, ayo masuk. Rumah ini aman ko !” ajak ian kepada cal yang sedari tadi berdiri mematung dengan kaki gemetaran dan tatapannya yang kosong.
“yan, loe ngerasa aneh ga sama rumah ini?, kalo gue merinding yan, gue mau balik aja lah” cal setengah berbisik pada ian, tapi matanya terus mengamati sekeliling rumah.
“ah loenya aja yang terlalu penakut, udah ayo masuk!”
“tapi yan……” tanpa rasa ampun ian pun menarik lengan cal, agar ia mau masuk kedalam rumah itu karena teman- temannya telah menunggu mereka dari tadi.
Cal, Ian dan teman-temannya sebenarnya tidak berniat untuk menginap di Rumah yang tampak tak terurus ini. Karena dari rencana yang mereka buat, mereka ingin menginap di Villa yang tak jauh dari rumah tua . Tapi apa mau dikata, vila yang sebelumnya mereka rencanakan, ternyata telah diisi oleh orang lain. Karena mereka lebih dahulu membayar sewa kepada pemilik villa. Akhirnya dengan terpaksa dan bernegoisasi dengan penjaga rumah itu, mereka pun dipersilahkan masuk.
Matahari perlahan tenggelam diupuk barat. Meninggalkan goresan keemasan dilangit yang mulai Nampak kemerahan oleh sinar matahari. Hari pun mulai gelap, Nampak beberapa orang bersarung dan dan berpeci, dan perempuan memakai mukena lewat didepan rumah itu. Adzan magrib berkumandang dari salah satu masjid dikampung suka kaya. Cal, ian dan teman-temannya saling bergantian mengambil wudhu sebelum mereka melaksanakan salat magrib berjamaah.
“baiklah teman-teman, sebelum kita memulai rapat kita malam ini. Kita makan terlebih dahulu dan disusul dengan salat isya, setelah itu rapat star dari jam 9, gimana setuju?” Tanya Fahmi selaku ketua dalam rapat ini.
“setujuuuuuuuu….” Jawab serempak yang hampir membuat rumah itu tidak terasa mengerikan lagi.
Ada yang tiduran, ada yang ngobrol kesana sini, ada yang curhat, bahkan ada juga yang mandi, karena merasa badan telah lengket oleh keringat. Walaupun keadaan rumah yang berdebu sampai beberapa centi, tapi kamar mandinya lumayan, seperti ada yang merawat. Karena airnya yang masih bagus, dan closetnya pun masih berfungsi. Hanya saja rumput yang di depan rumah  itu yang tak terawat, makanya menimbulkan sisi mistis dan rasa ngeri untuk memasukinya.
Waktu pun terus berputar, setelah makan dan melaksanakan salat isya berjamaah. Cal, Ian dan teman-temanya mulai berkumpul melingkar. Palu sidang dan kertas-kertas dokumen sidang mulai menghiasi lingkaran anak-anak muda itu. Sidang rapat pun dimulai dengan membacakan basmallah dan ditutup dengan doa. Rapat berjalan hingga larut malam. Tampak warung-warung penjual makanan disebrang rumah itu mulai menutup diri. Para penjual satu-persatu pergi meninggalkan warung-warung mereka. Jalanan pun sepi, tak berpenghuni.
Tiba-tiba….
“Ta, tadi loe liat bayangan ga?” cal berbisik pada genta yang duduk disampingnya.
“ga cal, emang kenapa? Loe liat? Dimana cal?” genta malah balik Tanya pada cal sembari tengok kanan kiri, depan dan belakang. Genta mulai merasa takut.
Byur…. Byuuur…. Byuuuur…..
Terdengar suara air yang ditumpahkan dari arah kamar mandi luar. Sontak membuat para penghuni rumah sementara itu kaget dan saling menatap satu sama lain. Mereka merasa tak ada satu pun peserta sidang rapat yang pergi ke kamar mandi. Ketua sidang pun mengabsen mereka satu persatu. Dan semuanya lengkap, tak ada seorang pun yang pergi kekamar mandi atau pun ketempat lain. Semua tampak bingung, lalu mereka pun saling suruh menyuruh untuk pergi mengecek kamar mandi. Tak ada satu pun yang mau melakukannya.
“Kakak ! kata ayah ga boleh berisik, udah malam” tiba-tiba anak kecil perempuan hadir dalam keributan mereka malam itu. Semua kepala langsung tertuju pada anak kecil itu yang langsung pergi meninggalkan mereka dalam kebingungan dengan kehadirannya.
Suasana yang semula ramai, seketika hening dalam tanda Tanya. Bingung, siapa anak perempuan itu?, kenapa dia tiba-tiba ada dirumah tua itu, padahal gerbang sudah dikunci? Terus tadi siapa yang mandi? Bayangan siapa yang tadi dilihat oleh cal?.
Gubrak !
Satu lagi, terdengar suara barang jatuh dari dalam gudang belakang. Mata yang tadi saling menatap kini tertuju semua kearah gudang belakang. Lingkaran yang semula renggang detik itu pun merapat, serapat rapatnya. Jimbron mencoba menjadi pahlawan, dia melangkah ke gudang mungkin dengan hati yang masih diselimuti oleh rasa takut tapi ia coba untuk menguatkannya. Sedangkan teman-teman yang lainnya hanya bisa menyaksikan jimbron dari belakang. Sesekali jimbron menengok kearah belakang. Dengan tertatih-tatih ia pun sampai kedepan pintu gudang. Perlahan ia mencoba untuk membukanya. “bismillahirohmanirahim”ucapanya. Kreeeeeeeeeeek….. pintu tua gudang terbuka. Semua mata mencoba untuk bertahan tapi sebagian lagi lebih memilih memejamkannya. Dan…..
Meooooow…..meooooow…..meoooow   
            “hah ! ternyata Cuma kucing” jimbron mengelus dadanya yang sempat kagett apa yang akan terjadi dibalik gudang itu.
“huh… dasar kucing bego, bikin kaget kita aja loe !” sumpah serapah terlontar dari lisan Gede. 
Suasana kembali tenang seperti semula. Mereka pun melanjutkan rapat hingga berakhir pukul 02:00 dini hari. Satu persatu dari mereka mulai memasuki kamar yang hanya dilengkapi dengan 6 kasur tanpa ranjang. Tapi apa yang terjadi, mata mereka sulit untuk dipejamkan, pada akhirnya mereka memilih untuk memutar music, ngobrol, mungkin ada juga yang update status di facebook “gilaaaa… sekarang gue tidur dirumah serem” dan  mungkin ada juga yang sedang galau SMSan sama pacarnya “bebz… gue takut bangetzzzz.. ga bs tidr bebz.” Tapi Cal dan Ian lebih memilih tidak tidur, mereka masih penasaran dengan yang apa terjadi tadi.
Cal dan Ian lalu pergi keluar rumah. Bukan hanya sekedar ingin mencari angin segar dimalam yang cukup dingin. Tapi mereka berdua ingin mencari tahu apa yang sudah terjadi pada rumah itu sehingga terlihat angker dan mengerikan. Cal dan ian lalu berjalan kearah perkampungan, karena rumah tua yang mereka tempati memang terpisah sendiri.  Hmmm tapi siapa yang mau ditanya malam-malam kaya gini. Yang ada setan dikuburan yang masih melek. Mereka berdua masih meneruskan langkah. Sesampainya di perkampungan tak ada satupun yang mereka temui. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk kembali ke rumah tua itu, untuk berjaga-jaga.
Sang mentari pagi mengintip dari balik dedaunan. Menyembunyikan rasa malu yang masih tampak jelas dari matanya. Setiap jiwa yang masih terlelap tidur seketika bangun dari pembaringan. Kesibukan pun mulai tampak di kampung suka jaya itu. Anak-anak berseragam sekolah berlari-lari kecil sambil tertawa bebas bersama teman-temannya, para orang tua mulai sibuk memanggul barang dagangan yang akan mereka jual kepasar seberang, ibu-ibu pun tak mau ketinggalan, mereka membawa keranjang yang siap untuk menampung segala belanjaan yang mungkin untuk keperluan 3 hari kedepan. Sungguh kampung yang Asri tapi menyimpan banyak misteri.
“hoooooaaaaaaam….. udah pagi, ya?” cal bertanya kepada siapa saja yang ada disana, sambil menggucek-ngucek matanya.
“belum, masih malam kebo” jawab bima sambil menepuk badan cal yang memang gede, seperti badut pasar malam.
Baru saja bangun, Cal langsung menghampiri Ian yang masih terlelap tidur.
“yan…. yan… banguuuun loe, dah siang nih, katanya mau investigasi sama warga” sambil mengoyang-goyang badan Ian yang kurus seperti sapu lidi.
            “ah… gue ngantuk banget, nanti aja lah” Ian masih terus melanjutkan tidurnya
“woy ! kalau loe ga bangun sekarang, gue ga segan-segan kentut dimuka loe nih, mau loe!?” ancam Cal yang sudah bersiap-siap menaruh pantatnya dimuka Ian.
Jangankan orang, semut yang kecil pun tidak akan mau kalau dikentutin gajah duduk sepeti Cal. Bayangkan saja, makan mie tidak cukup satu porsi, ditambah minuman dan ditambah nasi lagi. Pokoknya kalau ngajak Cal main kerumah, jangan harap makanan yang ada dikulkas kalian akan tersisa. Ya, saking nafsunya dia.
Segera Ian bangun dan lari mencuci muka. Membersihkan bakteri-bakteri yang menempel akibat semburan angin tornado Cal. Ketika ia kembali ke kamar, ternyata teman-temannya terbaring tak berdaya. Tak ada suara satu pun, semua sepi seperti tak berpenghuni. Ian kaget setengah mati, ia mencoba membangunkan teman-temnnya. Semoga masih ada yang masih bernapas. Tapi… harapan itu kosong. Ian menangis sambil menatap tubuh kaku teman-temannya. Sebenarnya apa yang terjadi beberapa menit yang lalu. Padahal tadi semuanya terlihat bergembira, tertawa, tidak ada kesedihan dan rasa yang mencurigakan. Kenapa sekarang berubah begitu cepat?. Ian masih dalam posisinya, menangis. Menangis didekat pintu kamar, karena ia tak percaya dengan semua ini. Sebenarnya apa yang terjadi?. Ian pun memperhatikan satu persatu teman-temannya, semuanya lengkap. Tapi, ada satu  pun yang hilang, gajah duduk kemana? Cal dimana? Kenapa ia tidak ada?. Caaaaaaal…..
“ Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah !” serempak teman-temannya mengagetkan Ian yang sedari tadi menangis didekat pintu. “ kenapa loe nangis yan?” lanjut salah satu temannya.
“wah.. wah… be..ree..ngsek… loe……” ucap ian dengan suara sesegukan sembari menyeka air mata yang mengalir di atas pipinya. “ pa..rah.. ka…lian. Guuu…e ga habis pikir…kenap…pa…..” sambil menutupi mukanya.
“lagian…. Kentut si gajah duduk tuh seperti bom hirosima, mengelegar…. “jelas bima
“dan juga membahana badai….”. “ udah jangan nagis loe cengeng amat, hahahahhaahah”
Akhirnya suasana yang tadi sempat membuat jantung ian copot. Kini kembali seperti semula, berdetak dengan lega, mengedarkan darah dengan tenang tanpa ada rasa khawatir lagi. Ets, tunggu dulu tapi dimana cal?. Dia bertanya kepada semua orang yang ada dirumah tua itu. Tapi jawaban mereka hanya menggelengkan kepala. Ian pun lari keluar rumah meninggalkan teman-teman yang tadi sudah menjahilinya. Lari sepanjang jalan perkampungan. Namun cal tidak juga diketemukan. Tiba-tiba, Ian melihat seseorang yang hampir mirip dengan Cal, mempunyai badan besar, celana borju yang longgar, dan tentu kaos oblong yang sangat besar. Segera ia lari kearah orang tersebut, dan menepuknya dari belakang.
“Cal !”
“eh kapur kecoa… nyusul gue juga loe” jawab cal sembari merangkul leher ian dengan lengan kekernya yang lembek, karena lemak.
“iya gajah ! akibat bom hirosima loe, semua penghuni kamar tewas seketika” ian kesal sambil memukul perut gentong Cal.
“hahahahahahahah…., lebay loe ! ya udah yuk kita lanjutin investigasi kita” kembali Cal menggepit leher ian sampai sulit bernapas.
            Mereka berdua pun mulai menjelajah kampung. Bertanya tentang apa yang ada dibalik rumah yang mereka tempati saat ini. Tidak ada satu pun warga yang mau bercerita tentang rumah itu. Setiap kali Cal dan Ian bertanya pasti mereka menjawab dengan dua kata “tidak tahu” atau mereka langsung pergi sambil sesekali melihat kearah rumah itu. Terasa ganjil, memang. Mereka melihat kearah rumah itu dengan berwajah tegang, seperti ada sesosok makhluk yang terus mengancam mereka.
                        Tapi ada satu warga desa yang akhirnya memberikan suaranya untuk mereka. Bapak itu bernama pak Sapri, seorang hansip di kampung suka kaya itu. Dengan wajah yang terlihat bingung dan mengambil napas panjang, pak Sapri pun mulai bercerita.
                        “Tiga tahun yang lalu… Rumah itu sangat nyaman. Bukan hanya nyaman di luar yang di Tanami banyak bunga, tapi kenyamanan itu pun tampak pada penghuni rumahnya yaitu keluarga pak Roy. Pak Roy sendiri sangat baik dan sering ngobrol-ngobrol bersama saya disini, ya percis di tempat duduk mas Cal. Tapi…..” Pak Sapri menunjuk tempat duduk Cal yang berada didekat tiang pos kambling, dan ia pun segera meminum kopi yang tampak masih panas ketika ia meyeruputnya. Lalu pak Sapri melanjutkan ceritanya.
                        “Pada malam itu, hujan deras mengguyur kampung ini. Suasana kampung pun sepi, petugas ronda tak ada dan hansip pun tak ada yang mau berkeliling kampung. Saya pun tak tahu pasti apa yang sudah terjadi didalam rumah pak Roy dan keluarganya pada malam itu. Karena tiba-tiba saja, esok harinya pak Roy, istri dan kedua anaknya ditemukan tewas didalam rumah. Semua barang-barangnya tidak ada yang hilang. Sepertinya si pembunuh menyimpan rasa dendam pada keluarga pak Roy bukan berniat untuk merampok”.  
                        “terus pak?” Tanya Ian penasaran.
                        “ya, sejak saat itu rumah pak Roy mulai terlihat angker. Karena setiap malam sering terdengar alunan music, bahkan dua tahun yang lalu, pada waktu itu ada tukang nasi goreng yang lewat pada tengah malam, dan ada seorang perempuan dan dua orang anak kecil membeli nasi gorengnya. dia tidak tahu kalau rumah itu angker. Tapi ketika pagi hari ternyata rumah itu terlihat kosong, hanya rumput dan pohon besar yang menjadi penghuninya. Dan semua orang yang melewati rumah itu merasa bahwa pak Roy dan keluarganya masih ada didalam rumah itu, karena mereka belum ikhlas untuk meninggalkan dunia ini dengan cara terbunuh seperti itu. Begitu ceritanya”. Kembali pak Sapri meneguk kopi yang sudah dingin yang berada dihadapanya.
                        “berartiiiiiiii…… anak perempuan tadi malam siapa…….” Mereka berdua saling behadapan dan mengigil ngeri.
                        Setelah semua cerita tentang rumah yang mereka sewa dengan teman-temnnya didapat. Cal dan Ian pun segera memerintahkan kepada teman-temannya agar segera meninggalkan rumah itu. Waktu  menunjukan  pukul 09:00 pagi. mereka langsung meninggalkan tempat itu, tanpa lupa pamit kepada penjaga rumah. Dari kejauhan Cal melihat sosok anak kecil dan perempuan berbaju kuning bermotif bunga yang berlumuran darah dibagian perutnya. Kedua sosok itu melambaikan  tangan kearahnya dan hilang begitu saja.
Selesai
Serang, 29 Maret 2013

DIA


By : Yan Van Java 

Dinginnya malam tak membuatku patah semangat. Terus ku melangkahkan kaki diatas salju yang tebal itu. Sepatu bolong, dingin yang mencapai minus menyusup masuk kedalam pori-pori kakiku, Sakit rasanya. mungkin kakiku sudah merah dan membengkak, perih. Tiba-tiba saja handphoneku bergetar, ternyata ada sms dari nomor yang selama ini tersimpan rapi dalam handphoneku. Ku buka sms itu.
klo aku bca… itu akn mmbuat aku sdih.
Sdih knpa ?” aku balas menjawabnya dengan tangan yang sulit kukendalikan karena dinginya udara malam ini.
Klo kmu mash inget sm aku, pasti kmu ngersain apa yang aku rasain sekrng.
Itulah sms darinya, yang sampai saat ini belum pernah ku jawab kembali. Sulit, terlalu sulit untuk ku ungkapkan. Aku tahu, dia adalah wanita yang telah lama mengikat hatiku sampai aku tak sanggup terbang bebas untuk menemukan yang baru. Terlalu kuat ikatan yang telah dia kunci dalam hatiku.
Temanku berkata “ tenyata dalam kekosongan yang sering kulihat, kamu menyimpan seseorang yang sulit kamu lupakan. Tapi begitu indah, sesulit apapun, tetap berada diposisi itu bukankah hal yang menyenangkan, sulit melupakan berarti sesuatu itu telah terpatri dalam, dalam hatimu”.
Sulit, ya memang terlalu sulit. Mungkin nama itu telah tergores begitu dalam didalam hati.  Aku merasakannya ketika sedang sendiri. Dia selalu menemaniku atau pun menghiburku atau mungkin sebaliknya aku yang yang menghibur dan menemaninya. Maaf bukannya aku lupa kapadamu, bukannya aku tidak merasakan apa yang sedang kamu rasakan.  Bukannya aku… ah!, sulit untuk ku ungkapkan.
Lama kuterdiam dalam dinginya salju yang turun begitu lembut. Merasakan hati yang mulai meleleh oleh salju tapi tidak dengan kakiku. Tak terasa kaki yang terbungkus sepatu bolong kini mengeluarkan darah yang cukup banyak. Hingga meninggalkan jejak merah diatas salju yang putih. Aw ! sakit,…. perih !.
Ku rogok saku celanaku, tak ada sepeser pun yang berhasil kutarik. Kurogok saku yang berada dimantelku berharap ada $1 atau $2 yang bisa ku gunakan untuk membeli obat. Tapi semua kosong tak tersisi. Lalu kuteruskan langkah ditemani alunan lagu Cinta dan benci dari Geisha. Walaupun kaki terasa sakit dan perih.
Sungguh aku tak bisa
Sampai kapan pun tak bisa
Membenci dirimu
Sesungguhnya aku tak mampu
Sulit untuk ku bisa
Sangat sulit ku tak bisa
Memisahkan segala
Cinta dan benci yang kurasa…….

Tiba-tiba bayangan masa lalu hinggap didepan mataku. Begitu indah, sungguh indah. aku tak sanggup menggambarkannya. Dia menemani hari-hariku, dia menghiburku, dia terlalu indah untuk orang sepertiku. Mataku tak mampu melihat dengan jelas. Semua terasa remang-remang, apa yang terjadi padaku Tuhan. Tolong lindungi aku. Tuhan engkaulah sang pemilik cinta sejati.
***
Dia memang terlalu indah untuku. Jika saja pada waktu itu kami tak pernah bertemu mungkin hatiku telah jatuh kedalam perangkap wanita lain. Waktu itu….. sore menjelang magrib saat kami pulang sekolah. Tiba-tiba saja dia menghampiriku, kemudian mengajakanku untuk pulang bersamanya. Laki-laki mana yang akan menolak ajakan bidadari yang turun dari kayang ini. Hanya laki-laki homo saja yang mungkin menolaknya. Itu adalah awal dari kisah cintaku yang tak pernah tertebak.
Sudah hampir tiga tahun lebih kami bersama. Memahami sifat satu sama lain. Mengerti hal yang disukai dan hal paling tidak disukai. Tapi ada satu yang masih belum aku dan dia mengerti yaitu Cinta antara kami berdua. Sebenarnya sinyal itu sudah lama menyala dalam hatiku. Dan mungkin dia pun sama. Tapi sayang aku tak sanggup untuk menggungkapkannya.
 Hingga suatu hari dia menerima seseorang untuk menemani kesepiannya. Dari sanalah aku merasa bersalah, sedih, menyesal, kecewa, sampai aku mengutuk diriku sendiri sebagai orang paling Bodoh sedunia. Karena aku membiarkan rasa cinta terkunci rapat dalam hati. Sejak saat itu aku putuskan untuk fokus terhadap masa depanku. Membiarkan hatiku terkunci rapat. Membuka lembaran baru dan menutup buku lama yang hanya akan membuatku teringat kembali padanya.
Sebelum keberangkatanku ke Paris. Aku sempatkan diri untuk menemuinya walaupun hanya beberapa menit saja. Ingin kukatakan semua yang ada didalam hatiku. Malam hari sebelum kubertemu dengannya. Ku mencoba merangkai kata-kata indah sebagai bahan pembuka. Tapi aku tidak bisa, menurutku itu hal paling berlebihan. Akan aku katakan sejujurnya dan apa adanya. 
Keesokan harinya di taman kota.
“ maafkan aku, jika selama ini hanya mengagumimu dari belakang. aku ga bermaksud bikin kamu sakit hati. Aku ga bermaksud untuk menyembunyikan rasa ini sama kamu. Tapi aku…. “
“tapi apa…? kamu ga berani untuk memulai jatuh cinta, kamu takut, kamu ga siap?!” Tanya dia dengan air mata yang mulai keluar dari ujung matanya.
“bukan itu. Tapi aku, aku hanya tidak mau mengungkapkannya kepadamu. Karena menurutku semua cinta dan sayangku sudah jelas didalam kebersamaan kita. Tapi kenapa kamu masih tidak memahaminya?” tak terasa air mataku jatuh sambilku coba memegang jari jemarinya, namun ia menghindar.
“apakah kamu sayang dan cinta kepadaku?”
“tentu, aku sayang dan cinta kamu”
“lalu kenapa kamu tidak ungkapkan itu kepadaku, berarti kamu takut, takut untuk memulai cinta!” pandangan matanya tajam seperti ingin menusuk mataku sampai hatiku.
“sudah ! hanya ini yang bisa kukatakan padamu, cinta….! Boleh aku mengatakan sesuatu, satu kali ini saja” sambil ku memegang tangannya, dan ia pun mengangguk kepalanya.
“Aku Cinta Kamu. Selamat tinggal” aku pergi meninggalkan, dan ia tampak menundukan kepala.   
Bayangannya selalu mengikutiku. Sulit bagiku untuk melupakan sesosok makhluk tuhan yang paling indah itu. Namun Ketika kuberada dipesawat dalam perjalananku menuju Paris, aku berusaha untuk belajar melupakannya, sejenak saja. Akhirnya Aku teringat oleh Film India yang tak sengaja kutonton karena pada waktu itu kakak perempuanku yang memulainya. Film itu berjudul jab tak hai jaan Aku pun tahu apa artinya, yang jelas aku bisa mengartikanya lewat setiap adegan yang dibintangi oleh artis papan atas bollywood Shahrukh khan bersama dua wanita cantik.
Salah satu wanita cantik itu bernama Mira adalah gadis pertama yang dicintai Samar Anand (sahrukh khan), dan yang satu lagi adalah Akira wanita pekerja di Discovery channel London yang hadir pada kehidupan Samar setelah ia menjadi tentara penjinak bom India. Sayangnya film yang aku tonton ini sudah berjalan setengah jam, jadi aku tak tahu awal ceritanya. Yang ku tahu Akira diperbolehkan membuat Film dokumenter segala kegiatan tentara termasuk Samar. Tentu saja karena Akira menaruh hati kepada Samar, hanya saja Samar tak menghiraukannya. Hingga suatu hari akhirnya mereka jadian dan Akira kembali ke London untuk menyerahkan film dokumenternya yang telah ia janjikan kepada produser dan ia menamai film tersebut dengan The Man who cannot Die. Tapi satu masalahnya ia harus membawa Samar ke London jika ingin filmnya diputar.
Samar  yang sedang bertugas tidak bisa pergi ke London. Tapi itu hanya candaannya saja, Samar akhirnya ke London dan menemui Akira. Akira pun senang setengah mati sampai ia jingkrak-jingkrakan di jalan tanpa memperhatikan kendaraan yang lewat, syukur tidak ada mobil yang menabrak wanita cantik setengah gila ini karena Samar datang ke London. Tiba-tiba “Akira awas !” teriak Samar sambil mendorong Akira. Akira selamat tapi Samar tertabrak yang mengakibatkan ingatnya kembali ke sepuluh tahun silam. Dimana dia pernah mengalami kecelakan motor dan merajut cinta bersama Mira.
Akira pun harus merelakan Samar, sang tentara pujaannya bersama Mira wanita pertama dalam hidup Samar. Sebenarnya Akira tak rela jika Samar jauh dalam hari-harinya. Tapi ini semua demi mengembalikan ingatan Samar kemasa dimana ia sekarang, bukan dimasa ia dulu. Syuting yang berlatarkan kota London yang modern dan suasana camp tentara penjinak bom, membuat film ini sungguh indah, walaupun banyak konflik yang ditimbulan tapi film ini berhasil menyihirku masuk dalam dunia mereka. Good Job !.
            Aku berhasil melupakannya sejenak bahkan lebih. Tapi dia selalu saja hadir ketika aku ingin memulai hidupku yang baru. Sampai saat ini, sampai detik ini. Dan aku merasakan bahwa ia ingin kembali, kembali dalam hidupku. Apa yang harus kulakukan Tuhan?!. Kuserahkan semuanya padamu, wahai Tuhan sang pemilik Cinta……………………

Selesai
Serang, 31 Maret 2013
  


Wednesday, March 27, 2013

Iseng-iseng Berhadiah

Ahmad Muhibi 

Keindahanya telah menyihir seluruh warga dunia. Terlebih lagi jika musim Salju tiba. Gedung-gedung pencakar langit dan jalan raya pun tertutup salju tebal. Kejadian seperti ini tak mungkin terjadi di Negara kita Indonesia yang berada diwilayah tropis dan hanya mempunyai dua iklim. Musim hujan dan musim panas. Terus Negara yang indah ini, Negara apa?. Korea, jepang, atau mungkin Negara Zimbabwe. Korea dan jepang masih mungkin betul. Tapi kalau Zimbabwe kayaknya Salah Besar kawan, mana ada di Zimbabwe Salju. kalau singa dan Sabana itu baru mungkin. Mau tahu? Okelah …
Tempat yang indah ini adalah tempat yang mempunyai banyak gedung pencakar langit, patung Liberty, Hollywood dan semacamnya. Tak aneh jika Negara ini menjadi Adi Daya. Ya, betul Negara Amerika. Negara yang mempunyai sistem pemerintahan federal. Hmmm gimana ya, rasanya jika kita berkesempatan berkunjung ke Negeri ini?. Seperti sahabat kita nih, Ahmad Muhibi. Mahasiswa jurusan Aqidah Filsafat di IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten yang berkesempatan menginjakan kaki ke Negeri paman sam pada awal tahun 2012 lalu.
Tak pernah terpikir sebelumnya jika kang muhibi (sapaan akrabnya) akan mempunyai keinginan untuk pergi keluar negeri. Tapi semenjak duduk dibangku kuliyah tepatnya semester satu. Kang muhibi mempunyai mimpi. Mimpi yang berangkat dari kesederhanaan. “ada anak IAIN yang berhasil berangkat ke Amerika, mungkin dia yang pertama kali dari sini. Dari dialah muhibi termotivasi” tegas mahasiswa yang suka dengan travelling, baca dan main catur ini.
Mulai dari Mimpi itulah, keseharian kang muhibi mulai disibukan dengan hal-hal education. Seperti study club, belajar bahasa inggris bareng, sampai berdiskusi bareng. Kegiatan seperti ini berjalan sampai kang muhibi mendapatkan informasi pendaftaran program SUSI pada bulan Agustus 2011 lalu. Tanpa pikir panjang kang muhibi pun langsung mengajukan segala persyaratan yang diperlukan.”ya… iseng-iseng aja sih” ujarnya sambil tertawa.
Setiap usaha yang dibarengi dengan doa dan selalu bersabar dalam mendapatkanya, tentu akan berbuah manis. Semanis buah yang telah lama kang muhibi tanam pada semester satu lalu. Tepat pada bulan oktober 2011 kang muhibi mendapat telpon dari pihak US ambassy. Dalam keadaan sedang belajar waktu itu kang muhibi tertegun setelah mendapat kabar bahwa dirinya Lolos seleksi sebagai penerima beasiswa SUSI Winter program.
Ya, semua berawal dari sebuah mimpi. Mimpi yang ditanam didalam lubuk hati. Mimpi yang selalu disirami oleh usaha dan doa. Mimpi yang selalu dibawa dan diingat setiap saat. Pertengahan januari 2012 dalam keadaan dingin tubuh kang muhibi resmi mendarat dan merasakan winter pertamanya di Amerika. Selama 40 hari kedepan kang muhibi akan dimanjakan oleh indahnya winter, megahnya White House, ramahnya keluarga angkat dan sejuknya Amerika.
enaknya bisa berjunjung ke VOA,
 hmm semoga bisa nyusul juga. amiin
“Pengalaman adalah guru yang paling baik” pepatah ini memang betul adanya. Selama 40 hari di Amerika bukan hanya pelajaran dan keindahan saja yang kang muhibi dapat. Tapi, Kedisiplinan, rasa saling menghormati, kebersihan dan sebagainya. Katanya waktu di Subway kang muhibi melihat ada beberapa orang muslim yang sedang khusyu membaca Al-quran. Padahal dalam sejarah, Amerika itu sempat menindas umat Muslim tapi, hari ini telah berubah, mereka mulai menghormati agama lain termasuk Islam.
Dalam masalah kebersihan warga Amerika sangat peduli lingkungan. Terbukti hampir di setiap sudut pasti kita akan menemukan tempat sampah. Dan tidak ada sampah yang berserakan. Kedisiplinan Waktu, warga Amerika sangat disiplin sekali. Contohnya masuk kelas. Kelas dimulai jam delapan pasti mereka datang lima menit sebelumnya. Memang ada saja yang terlambat tapi itupun akan membuat rasa malu tersendiri baginya.
Berbicara masalah pendidikan. Amerika memang unggul dari Indonesia. Karena Amerika merdeka pada abad ke-17 sedangkan Indonesia pada tahun 1945. “Tapi, yang perlu disayangkan adalah akses internet yang kurang. Padahal internet itu sangat diperlukan khususnya bagi mahasiswa-mahasiswa seperti kita. Ya kita akui Amerika adalah Negara yang bebas selama ia tidak melanggar hokum. Tapi setidaknya dilingkungan kampus itu harus memilik jaringan Wifi”.ucap mahasiswa asal tangerang ini sambil tertawa kecil.
berdiri di atas salju. waah.. ga kebayang dah! :)
Mimpi ! ya, Mimpi…. Menjadi kunci untuk kita menaklukan dunia. Seperti lirik lagu Laskar pelang yang dibawakan Band Nidji. Bermimpi itu memang indah. Tapi bukan hanya sekedar Mimpi. Mau bermimpi apa kalian ? itu ada ditangan kalian. Apapun mimpi itu kita harus menjaganya, memupuk, menyiraminya setiap hari. Dengan keyakinan, usaha, do’a dan berrserah diri pada Tuhan sang pemilik masa depan. Semoga mimpi-mimpi kita menjadi kenyataan. Amiin. Semangat Kawan ! (Yan Van Java)
Serang, 27 Februari 2013

Bajaj, the traditional vehicle of Jakarta


Bajaj adalah sebuah kendaraan tradisional yang banyak di temukan di ibu kota jakarta atau pun daerah-daerah lainnya di inonesia, Namun ia lebih dikenal dii jakarta. Bajaj diketahui berasal dari India. Nama bajaj sendiri sebenarnya merupakan merek salah satu perusahaan otomotif di India, Bajaj Auto.
Bajaj beroda tiga, satu di depan dan dua di belakang, dengan bentuk kemudi mirip seperti kemudi sepeda motor daripada kemudi mobil. Untuk di Jakarta, warna bajaj ada dua, yaitu biru danoranye. Di pintu depan bajaj, biasanya tertulis daerah operasi bajaj, yang biasanya terbatas pada satu kotamadya saja.
this is Bajaj, the traditional vehicle in Jakarta
Kapasitas penumpang bajaj adalah dua, atau ditambah satu anak kecil, yang semuanya akan duduk di belakang sopir bajaj. Suara mesin 2 langkah bajaj sangatlah memekakkan telinga. Namun, karena fisiknya yang elative kecil, bajaj dapat diandalkan untuk menerobos kemacetan ibu kota. Ya, hampir sama dengan tuk-tuk yang berada di Bangkok.
Jika anda menaiki kendaraan yang satuu ini jangan heran jika bajaj mengeluarkan suara yang bising, tetapii dengan kebisingannya itu yang membuat perjalanan kita menjadi seruu dan mengasyikan. Selamat mencoba !!! 

Wednesday, March 20, 2013

Jogja I'm Falling In Love


By : Yan Van Java

Catatan ini sebenarnya sudah aku tulis sejak Februari 2012 lalu ketika aku dan ketujuh orang temanku yaitu Rohmat (mamet), Umu, Lea, Dena, Erlis, Yuli, dan Noval pergi ke kota batik atau kota pelajar, ya betul Yogyakarta ibu kota pertama Indonesia sebelum di pindahkan ke Jakarta.
                        Siang itu Sabtu, 04 February 2012 menjadi awal langkah pertamaku pergi ke kota jogja. Jam 10 pagi aku pamit kepada kedua orang tuaku (cieee pamit, mau di sebuut anak soleh ya yan hahha) karena jam 11 kami harus sudah berkumpul dihalte Untirta Serang-Banten, tapi ya buktinya kebudayaan ngaret masih saja di pelihara. Akhirnya jadwal berangkat ke stasiun Tanah abang di tunda sampai jam 12:30. Mobil Arimbi perlahan bergerak memasuki jalan Tol menuju terminal kaliideres.
Matahari bergerak mengikuti waktu, kami pun sampai di terminal kalideres  dan di ajak muter-muter oleh Busway (ko bisa sih yan?) ya, bisa laaah wong ga nanya dulu geh. Setelah bertanya ternyata tidak ada Busway yang menuju ke stasiun. Ya ampuun terus ngapain dari tadi kita muter-muter, hah !. kami pun turun dari busway dan bertanya kepada salah satu tukang ojek, katanya kalau mau ke stasiun naik mobil angkot no … (maaf aku lupa) paling juga bayar Rp. 4.000-,. Tidak menunggu lama akhirnya angkot yang kami tunggu pun datang.
Namanya Jakarta pasti banyak jalan, kami di ajak muter-muter lagi sama sang supirr demi menghibur keadaan yang lagi Galau maka salah satu temanku Mamet menghibur ria dengan Bajaj yang berada di belakang kami yang sedang beradu balap dengan bajaj yang lainnya. Hahhaha mana berisisk lagi tu bajaj.
            Jam 15:12 kami sampai di stasiun tapi kami masih harus menunggu karena jadwal keberangkatan kereta Bengawan jurusan Jakarta-Solo akan berangkat pada jam 19:40. Sengaja kami memilih kereta untuk perjalanan ke jogja disamping Murah kami pun ingin merasakan hawa kereta yang membawa kami semalaman dari Jakarta ke jogja. karena jika naik bus bugjet yang kami keluarkan pun harus sedikit mahal (hehhe maaf bukannya hemat tapi yaa kami memang cinta dengan backpacker).
Tidak usah banyak omong lagi, setelah selesai menunaikan ibadah sholat magrib dan isya kami pun beranjak kedalam gerbong kereta memilih-milih tempat duduk yang sesuai dengan nomer tiket kami akhirnya bisa santai juga, haaaaah.   Tapi…. “maaf ini tempat duduk saya” pinta salah seorang penumpang pria kepada temanku. “maaf mas ini tempat duduk kami, sesuai dengan tiketnya ko” sahut Yuli ketua dalam perjalananku. “mbak ini tempat duduk saya, no 14A gerbong 08, kalau mbak no 14A gerbong 03” jawabnya dengan logat khas orang jawa. “emang ini gerbong 08 ya, walaaah maaf-maaf aku salah, hahahahah” sambil meminta maaf dan beranjak dengan ransel-ransel kami. (huuuuh udah ngotot-ngotot eeeh salaaah, hhahahah).
Sesampainya di tempat yang benar aku pun segera meluruskan kaki dan meletakan ranselku ditempat penyimpanan yang tepat berada di atasku. Kereta mulai bergerak bersama angin malam yang siap menyambut kami. Jogja we are coming………………… !!!
BOROBUDUR Temple, central java-Indonesia
             Dinginya malam yang masuk dari pentilasi udara yang menganga lebar, membuat kami mengkerut mencari posisi yang bisa menghangatkan tubuh kami, satu persatu petugas kereta mulai berkeliaran menawarkan bantal-bantal yang empuk yang bisa memanjakan kepala yang pegal ini. tapi ets, tentu tidak gratis semuanya harus bayar. dari pada gitu lebih baik ga dehh bray!.
malam semakin larut dan semakin banyak pula para pedagang asongan dan pedagang nasi berkeliaran menjelajahi setiap gerbong, hal ini adalah pemandangan yang baru pertama kali aku saksikan selama ini, sungguh indah hahha. Selama 10 jam lebih dalam kereta akhirnya pantat yang pegel ini mulai di manjakan dengan sunrise yang menghiasi hijaunya persawahan  yang ada di sepanjang jalan. Kita kan tidak tahu kita harus turun dimana, lagi-lagi malu bertanya sesat di jalan kami alami. Kami telah melewati stasiun pemberhentian yang seharusnya yaitu stasiun Tugu, untungnya masih ada stasiun lempuyangan yang masih berbaik hati menerima kami kalau tidak liburan kami bakal babak belur karena kami harus turun di Solo (huh lebaaaay loe).
 Dari stasiun kami dijemput oleh keluarga Yuli untuk sekedar beristirahat dan bersih-bersih badan. Sebelum jam 10 pagi kami harus sudah tiba dikraton jogja karena hari ini tanggal 15 februari 2012 dan dalam kalender islamnya hari ini tanggal 12 robiul awal harii lahirnya Nabi Muhammad SAW maka sebagai tradisi dan warisan leluhur kraton jogja dan masyarakat jogja sering mengadakan acara yang di Sebut Grebeg Sekaten yang di mulai dari keeraton jogja dan berakhir di alun-alun kota (info ini kami dapat dari saluran televisi yang menginformasikan acara tersebut, awalnya kami tidak tahu heheh ). Tapi kami hanya menyaksikan di kratonnya saja sampai tugu pahlawan karena terlalu jauh dan kami pun masih ingin menikmati suasana jogja. Setelah sholat duhur kami pun melanjutkan perjalanan kami ke kota magelang tempat menginap kami selanjutnya. Hanya butuh beberapa jam untuk tiba di lereng bukit magelang ini dan kami langsung di sambut dengan keindahan dan dinginya magelang. Malam pun semakin larut burung-burung pun kembali kesangkarnya.
                        Jam 09:00 tanggal 16 Februari 2012 kami lanjutkan perjalanan kami menuju salah satu keajaiban dunia yang dimiliki Indonesia yaitu BOROBUDUR. Borobudur sendiri telah menjadi icon jawa tengah di samping batik dan wayang kulitnya dan ia menjadi pusat tempat peribadatan umat budha di seluruh indonesia. Borobudur telah menjadi salah satu tempat yan harus dikunjungi bagiku karena dengan status orang indonesia tapi belum kenal dan belum mengijakan kaki di Borobudur rasanya kurang afdhol (emang iya yan, lebay lah).
bertapa didekat setupa, merasakan energi mistis. hiiiii ... 
 Setelah banyak omong dan bercerita pada kalian kawan, akhirnya tubuhku ini tersengat magnet Borobudur yang memaksa kami harus menikmati andong (kendaraan gerobak yang di tarik oleh kuda). Bola besar itu seakan membakar indahnya keajaiban dunia ini, dengan berbalut kain batik yang di berikan petugas kami pun langsung pergi dan mengambil posisi ala model-model fasion, berpose riaaaa cekrek !. tangga demi tangga sudut demi sudut Borobudur telah menyiksa hatiku, karena aku senang bisa menginjakan kaki dan sempat memeluk salah satu setupa yang tak tertutup walaupun sudah dilarang oleh petugas tapi yaaa aku ga mau menyia-nyiakannya (eits, jangan ditiru ya heheh).
Borobudur memang sudah dikenal dunia terbukti banyak orang asing yang datang berkunjung ke sini. Banyak turis asing yang sudah menjadi korban kami (apa…?! Korban ?, loe apain mereka), yaaaa jangan negative thinking dulu dong maksudnya korban kejahilan kami untuk meminta foto bersama, lumayan mumpung di jogja kalau di Serang kan jarang nemu yang kaya ginian hahahhaah.
Muter lagi muter lagi pusiiing nih, maka kamii putuskan untuk mengakhiri penjelajahan kami di Borobudur dan kembali ke Jogja. Dasar hidup ngebolang jadinya kami hanya berjalan kaki menuju tempat pemberhentian bus tapi sebelum itu kami melakukan sholat ashar dulu di salah satu masjid terdekat lumayan juga kalau jalan kaki dari Borobudur sampe ke tempat bus. Dengan modal Tanya-tanya, akhirnya bus jurusan jogja kami dapat tapi ada yang menarik perhatianku (apa yan?) tiga cewek bule yang cantik, tinggi seperti difilm-film Hollywood itu bray.
Dengan rasa penasaran aku dekati mereka yang sedang sibuk bertanya-tanya pada kondektur yang dia tidak paham dengan b.inggris (sebenarnya b.inggris aku juga kurang heheh ), “where do u want to go?” tanyaku, “we want to go to jogja” jawab salah satu dari mereka yang aku lihat matanya yang sipit sepertinya dia orang china. “this bus will go to jogja, come on !” ajakku pada mereka.
Bus pun mulai bergerak meninggalkan magelang. Ditengah-tengah perjalanan kami berbincang-bincang dengan ketiga bule itu yang aku tahu mereka bernama shine cewek yang berperawakan tinggi semampai seperti atlit, kim cewek keturunan china, dan satu lagi yang duduk di depanku ialah…. (lupa, habis sush banget namanya) mereka bertiga berasal dari amerika yang sedang melakukan traveling keliling asia dan tujuan pertama mereka adalah Bali.
Ketiga cewek bule ini ke Jogja hanya untuk mengejar jadwal kereta yang akan berangkat ke Jakarta pada pukul 19:00 di stasiun Tugu dan bule yang ada di depanku bertanya tentang tempat-tempat wisata dan makanan khas Jakarta apa saja, lalu ku jawab tempat wisata yang bisa di kunjung di Jakarta banyak banget diantaranya kota tua, TMII, MONAS dan untuk makanan khasnya kerak telor, selendang mayang dan masih ada lagi (maaf ya orang betawai kalau petunjukku ada yang salah).
Kami pun sudah memasuki wilayah jogja dan diteruskan dengan menaiki busway jogja, (ternyata bukan Jakarta doank yang punya busway hehehe). Langsung saja deh bray !. ternyata dikawasan Malioboro yang menjadi tempat terakhirr tujuan kami Rame banget ada apa ya? Walaaaalah ternyata akan ada Dragon festival untuk memperingati hari raya imlek. “Waktu wisata yang tepat” pikirku, ya gimana tidak pertama kami datang ke jogja kami disambut dengan acara grebeg sekaten terus pas ke jogja lagi ada Dragon festival waaaaaaaaah seneng banget kawan bisa menyaksikan acara kebudayan indonesia ini yang hanya di adakan 1 tahun sekali.
Pawai Dragon akan dilaksanakan tepat pukul 18:00 jadi masih nunggu beberapa menit lagi, dari pada cengo mending keliling-keliling pasar malioboro yang sudah terkenal ke mancanegara ini. Banyak souvenir yang bisa di jadikan oleh-oleh buat keluarga, teman dan kerabat diantaranya gantungan kunci, baju batik, baju kaos bermotif "I LOVE JOGJA" atau pun yang lainnya. Karena harus menunggu jadwal kereta lama ketiga bule itupun memutuskan untuk ikut shopping bersama kami. Walhasil aku memberikan 1 buah gantungan kunci bermotif tugu jogja kepada mereka (yan, bukannya mereka bertiga ko loe kasih 1 doang madit amat loe !) hey, bukannya aku pelit tapi kantongku sudah tipis bray. Sudah-sudah jangan bersahabat ! hahha.
Waktu yang ditunggu-tunggu wisatawan dan warga jogja pun datang satu persatu parade naga dan barongsay mulai menampakkan dirinya dengan diiring music khas warga tionghoa parade ini panjang banget bray ditambah lagi ditutup dengan iring-iringan naga yang panjangnya mencapai beberapa meter woooooow. Rasa haru pun menyelimutiku tak terasa waktu begitu berjalan cepat, secepat pertemuanku bersama ketiga bule ini. mereka harus segera pergi mengejar kereta di Stasiun Tugu.
eksis dlu bersama bule. hehehe
Sebelum mereka beranjak dari hadapan kami. mereka ingin berfoto bersama sebagai tanda bahwa indonesia adalah negeri yang ramah seramah sikap kami yang menjadi guide dadakan + gadungan, hahahha. “salaman” ajaku sambil mengulurkan tangan kepada mereka. kulihat semua raut wajah mereka saling menatap kaget dan heran terhadap apa yang aku lakukan. “sa..laa.. maan ya sa-la-man, what is it?” masih dalam wajah yang penuh tanda tanya. “salaman is the tradition of Indonesian for saying good bye or welcome” jawabku dengan b.inggris yang terbata –bata, yang pentig mereka ngerti lah. See you later my friend in this short meeting I hope we can meet again in the other place and thank you for visiting our beautifull country it’s rich of the cultre, languanges and suku-suku (heheheh) we called INDONESIA…… hari semakin gelap mata dan kaki pun terasa pegal ingin rasanya cepat mendapatkan kasur yang empuk dan mandi. selamat malam Jogja !
                        Tanggal 17 Februari 2012 memberikan rasa penasaran dan kekhawatiran untuk kami, karena Tiket kereta untuk kami kembali ke Jakarta hari ini ternyata sudah habis dan kami harus menunggu sampai hari senin. Di sisi lain budget kami sudah semakin menipis dan temanku Umu dia merengek memaksa akan kembali pulang hari ini juga karena ada tugas esok hari. Akhirnya kami bersepakat untuk memilih jalur Bus karena kami tak mau dia kembali ke Jakarta seorang diri soalnya kami datang ke jogja bersama dan pulang pun harus bersama-sama.
Selesai beres-beres kami pun beranjak meninggalkan rumah tampungan kami menuju ke tempat agen bus yang akan membawa kami kembali ke Jakarta. Tepat pukul 15:00 dengan cuaca yang cerah dan keasrian kota jogja kami pun seakan mengucapkan selamat Tinggal Jogja kota yang memberikan banyak pelajaran bagiku tentang memahami keragaman budaya indonesia, keramah tamahan warga jogja khususnya, sikap toleransi antar umat beragam yang di cerminkan lewat gerebeg sekaten dan Dragon Festival dan masih banyak yang lainnya. Terima kasih Tuhan Engkau telah mengizinkan aku untuk melihat semua ini.
INDONESIA I LOVE YOU……………………….   !!!
                                                                                                                      
                                                                                                                                    
               
                      Serang, 26 Januari 2013












Friday, March 15, 2013

Kepiting Asam


By : Yan Van Java

“Tuhaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan kembalikan dia padaku !!!” tubuhku bergetar dan ambruk diatas butiran pasir. Ingatan itu telah membawaku jauh kedalam dasar lautan. Aku tak peduli dengan cemoohan orang lain kepadaku. Mereka menganggapku gila, stress, atau terserah. Aku merasa bersalah dan Merasa berdosa. Seandainya itu semua tak terjadi…. Astagfirullah maafkan hamba.
Satu tahun yang lalu adalah moment terindah dalam hidupku. Awal aku melihatnya biasa saja. bahkan aku sering mengejeknya dengan sebutan “kepiting asem”.  karena rambutnya yang kriting itu yang membuatku menciptakan nama baru buatnya. Namanya sih keren, walaupun orang kampung tapi dia mempunyai nama seperti artis ibu kota. Apakah kamu mau tahu kawan ?. ya, namanya adalah Citra Jelita Suryo. Orangnya pintar, sopan, dan lumayan cantik standarlah buat orang kampung. Tapi tetep saja masih terlihat kampungnya. kulitnya yang hitam manis menunjukan bahwa dia anak pulau. Dia anak seorang nelayan dan pembuat ikan asin di pesisir pantai. Ayahnya yang setiap hari pulang pagi dari berlayar.  membuatnya selalu terlambat masuk sekolah. Karena Dia dan ibunya sibuk mengurusi ikan-ikan laut hasil tangkapan para nelayan.
Aku sendiri seorang anak laki-laki yang lahir dari keluarga berada. Hey, maaf bukannya aku sombong tapi ini kenyataan. Ayahku seorang juragan pengepul ikan sedangkan ibuku seorang Guru di salah satu sekolah negeri di pulau ini. Walaupun ibuku seorang guru tapi aku belum merasakan ajaran sopan santun darinya. Makanya, aku menjadi seperti ini. Suka keluar malam, mabuk-mabukan, melawan pada guru dan suka menjahili teman-temanku. Tidak asing lagi bagiku, kalau setiap lewat atau masuk kelas teman-temanku selalu menghindar dan menunduk. Hanya satu yang tidak memberikan semua itu kepadaku  dialah si gadis kepiting asem dari Pesisir Pulau.
“heh,  kamu tidak menghormatiku !!” gentakku di atas meja di depannya.
Dengan memasang muka masam, mata tajam, dan sambil menutup buku pelajaran dia balik menggentaku “emang kalau aku tidak menghormatimu masalah ya buat kamu !!!”
“wah..wah..wah.. kepiting asem mulai berani nih” sambil kutunjukan jari telunjuku di depan mukanya.”udah item, jelek, sok jagoan lagi. Liat noh an….”
“ciyuuuus miapaaa? “dengan bahasa alaynya ia memotong ucapanku. Aku pun semakin panas karena dia meremehkanku didepan anak-anak kelas.
“mi otok… pok…pok..pok…, rese loe “ ku berlalu meninggalnya dan aku pun duduk tepat dibelakang kursinya.
Sejak saat itulah bayangan wajah serius, lucu dan lumayan cantik si kepiting asem itu mulai menghiasi otakku. Setiap malam menjelang tidur aku suka tersenyum sendiri. Aku seperti terbius oleh senyumannya yang manis dan ekspresi muka marahnya yang lucu. Aku tak tahu tiba-tiba setiap kudatang kesekolah hatiku bergetar hebat. Apakah aku punya salah kepada guru-guruku?oh tentu, tapi bukan. Apakah aku punya salah pada teman-temanku? Oh ya, tapi bukan itu. Saat kepiting asem citra lewat. Deg…deg…deg…deg… detak jantungku semakin kencang seperti dikejar-kejar setan ngesot, seperti ingin di makan harimau yang ganas terus terjatuh kedalam jurang yang dalam. Aaaaaah apakah arti semua ini? Apakah aku jatuh cinta pada si kepiting asem citra? Oh tidak…tidak mungkin ! tidak mungkiiiiiiin !.
Itu tak mungkin terjadi pada diriku. Kau tahu sendiri sejak dulu sampai hari ini bahkan sampai matahari tenggelam pun aku tak akan pernah jatuh cinta pada si kepiting asem pulau itu. Sore ini aku bingung terhadap diriku, hatiku dan perasaan yang tak tahu arahnya. Ku tatap mata langit yang selalu menatapku saat ini, mungkin dia bertanya ada apa dengan kau, wahai sang manusia lumut?. Apa ! manusia lumut ?! siapa yang manusia lumut?, Diam. Asal kau tahu langit yang sombong, aku ini sedang galau. Galau karena perasaan yang seharusnya tidak ada dalam hatiku. Senyuman itu, muka lucunya itu, seperti tikungan Sembilan di medan, sangat tajam.
“Ton, sedang apa kau di sini ?” Tanya heru sambil mengagetkanku dari arah belakang.
“alamaaaaak… bikin kaget saja kau ru” sambil ku lemparkan pasir pantai kearahnya.
“lagian sore-sore ngelamun, kenapa? Memikirkan masa depan kau? Sudahlahlaaah tak usah kau pikirkan, kau sudah pasti bahagia orang tuamu orang punya ton.”
“insyallah tanpa beri tahu pun aku sudah tahu ru, tapi masalahnya bukan itu….” Ku berdiri dan berjalan menantang ombak.
“lantas apa yang kau pikirkan ton?” sambil menyusulku dari belakang dan berdiri disampingku.
“aku memikirkan citra, si kepiting asem. aku bingung dengan hatiku, mana mungkin aku menyukainya!?” jawabku sambil menggoyang-goyangkan pundak heru. Dia pun heran dengan memasang mata kaget dan mulut menganga gagap. Diam seribu bahasa.
Matahari mulai meninggalkan hariku dengan penuh tanda Tanya. Langit senja masih menatapku dalam diam dan penuh kecemasan. Daun kelapa yang bergoyang ria di bibir pantai namun tak menunjukan kebahagian. Sementara temanku heru dia berjalan lemas seperti orang mabuk. Dan aku masih di selimuti tanda Tanya, Bingung. Malam pun mulai mmenyusp masuk kedalam kamarku menghantarkan kerlipan bintang dan cahaya rembulan. Tapi, mata, telinga, mulutku tak peduli dengan kedatangan mereka. Aku tahu alam berusaha menghiburku dengan caranya sendiri. Maaf bukannya aku tidak menghargai usha kalian tapi aku bingung, seribu bingung ingin kuhentakan kepalaku kedinding kamarku tapi, itu hanyalah tindakan yang konyol bahkan hamper tindakan bodoh. Aku serahkan semua urusanku padamu tuhan, semoga engkau bersedia memberikan jawaban dari semua tanda Tanya dalam hatiku, amin.
Jiwa-jiwa manusia pun berkelana menyusuri dunia mimpi masing-masing. Tak terasa mentari pagi membangunkan jiwa ini tuk kembali memulai hari dengan bersujud dan berdoa pada sang maha cinta. Aku pun bergegas mandi dan sarapan di ruang makan bersama ayah dan ibuku. Ya, seperti biasa sarapan dengn nasi goreng dan segelas susu coklat kesukaanku. Tapi pagi ini aku merasa ada keganjilan. Ya, ayah kemana ya? Tumben biasanya dia selalu lebih awal. Ku dengar suara tertutup  dengan keras dari arah kamar ayah. Dan….
“Toni !!! jelaskan kenapa surat ini ada di tangan ayah sekarang?” bentak ayah sambil membanting kertas yang dari tadi di pegangnya. Aku pun mengambil kertas putih itu dan ternyata surat dari sekolah. Ada apa ini???
“ah biasa yah paling Cuma teguran masalah absen” sambil kuterus melahap nasi goreng.
“kamu bilang biasa!? Apanya yang biasa ini sudah ke tiga kalinya ayah mendapat surat seperti ini”
“apa?!! Tiga kali? Ayah pasti bohong, iya kan bu?” ku melirik kearah ibuku yang juga sama-sama tegang. Sambil ku habiskan susu dan cepat-cepat menggendong tasku “ayah ibu aku berangkat dulu, asalamu’alaikum, lariiiiiiiii”
“hey Toniiiiiiiiiiii ayah belum selesai”
Sejuknya angin pagi di kepulauan meratap membawa setiap jiwa-jiwa yang tenang mengembara jauh sampai ke ujung samudra. Dunia ini terlihat luas walaupun jalan yang kutapaki begitu sempit tapi panjang. Akhirnya perjalanan 5 km yang setiap pagi harus kulalui terobati ketika melihat gerbang sekolah yang tingginya subhanallah… Cuma selutut orang dewasa. Gerbang itu beruntung setiap pagi di selalu dibelai dan di temani mesra oleh pak getu sang satpam bermuka sangar dengan hiasan unik kumis ala pak Raden.
“eeeett eeett selamat pagi pak !” sapaku sambil menyempil menerobos gerbang yang akan di tutup oleh pak getu.
“kebiasaan ! masuk !” gentaknya
Sesampainya di ruangan kelas aku merasa aneh tidak seperti biasanya. Kumelirik kanan kiri keluar masuk kelas tapi tidak ada. Sampai ibu guru masuk pun bangku itu tetap kosong. Melihat gelagatku gelisah salah satu temanku bertanya “ada apa ton? Kau kelihatan gelisah?”. Ya memang benar aku gelisah, Aku khawatir terjadi sesuatu terjadi padanya. Citra si kepiting asem di mana dia?.
Penjelasan tentang pelajaran tidak aku hiraukan. Mataku memang ke depan tapi hatiku berpetualang mencari keberadaan citra yang tidak masuk hari ini. Di sela-sela jam pelajaran aku pun bertanya pada temannya, Tapi dia pun tidak tahu. Sedikit sulit untuk mencari tahu kabar citra karena tidak ada teman sekelasku yang Rumahnya berdekatan dengannya.
Kegiatan belajar di sekolahpun hampir selesai. Ku putuskan untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan si kepiting asem?. Dengan ditemani oleh heru dan gita aku pun berangkat menuju rumahnya citra, ya memang jauh lebih jauh dari pada rumahku. Kaki kami mulai terasa cape setelah berjalan lebih dari 6 km. Sesekali kami pun beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
 Dari kejauhan aku melihat bendera kuning tepasang di batang pohon kelapa dan melihat kerumunan orang di salah satu rumah penduduk. Ku langsung lari disusul oleh heru dan gita dengan rasa panik dan kaget. Ku bertanya kepada salah satu dari mereka, siapa yang meninggal pak? Ini rumah siapa bu?. Tapi hanya diam dengan derai air mata yang mampu mereka berikan. Ku bertanya pada heru dan gita, siapa yang meninggal git, siapa? Kasih tahu aku git !.ku goyang-goyangkan pundaknya dengan penuh ke cemasan.
“toni… ton… “ gita hanya mampu menjawab dengan air matanya
Aku coba bertanya kepada heru.
“ton... kepiting asem te… telah tiada…” sambil memelukku
“tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk itu tidak mungkin heru, heru kau bohong kepadaku, jawab heru, jawaaaaaaaaaaabbbb” aku tak berdaya seakan malaikat mau ingin mencabut nyawaku.
Citra Jelita Suryo, andai kau tahu setiap detik aku memikirmu, aku merindukanmu, aku menyayangimu, dan aku mecintaimu. Walaupun setiap hari aku selalu bertengar dengan kau sampai-sampai aku menjuluki kau dengan kepiting asem. Namun entah mengapa rasa ini tumbuh begitu saja, awalnya aku tak percaya kalau aku harus jatuh cinta kepada kepiting asem. Mungkin benar kata pepatah “karena sering ketemu maka cinta pun akan tumbuh”. citra apakah kau pernah melihat bintang-bintang yang berkerlipan di langit sana?, ya begitulah dirimu yang mampu memberikan titik-titik kemerlipan bintang padaku sampai ia menjadi cahaya dalam hatiku kemudian tumbuh menjadi cinta. Tapi sayang engkau begitu cepat meninggalkanku tanpa engkau tahu apa isi hatiku. Ku ikhlaskan dan ku titipkan cinta yang tak sampai ini kepada tuhan yang maha cinta dan menjadikanmu bidadari surgaku.
                                                                                                                              
      31 desember 2012