Wednesday, March 13, 2013

CERITANYA


By : Yan Van Java 
Siang itu (12/03/13) terik matahari Kota Serang tertutup awan hitam. Walaupun hari ini tanggal merah perayaan nyepi umat Hindu, tapi kota Serang tetap ramai seperti biasa. Mobil-mobil mewah, mobil angkutan umum dan juga motor  lalu lalang  membelah jalanan yang terguyur hujan beberapa jam yang lalu. Hari ini memang hari libur Yan. Tapi ku teruskan langkah kakiku ke Rumah Dunia. Kamu tahu kan Rumah Dunia?. Rumah yang dibangun dengan kata-kata "Rumahku Rumah Dunia, Kubangun Dengan Kata-kata".
                        Ya, memang betul “Dibangun dengan kata-kata”. Kata-kata yang indah, yang mengalir dari setiap ucapan dan tulisan para pembuka jendela dunia, para petualang, para pemberani, dan para motivator. Aku bangga yan, bisa bergabung bersama komunitas menulis disini. Ya, walaupun aku belum mahir dalam bermain kata-kata. Disini aku menemukan duniaku yang baru, hidupku yang baru, teman baru, sahabat baru, semangat baru, tangan baru, langkah baru. Tapi tidak, untuk cinta yang baru, hehehe.
                        Aku hampir lupa. Bahwa hari ini aku mendapatkan semangat baru. Seperti biasa, setiap kali aku ke Rumah Dunia pasti ada saja kejutan-kejutan yang sulit aku tebak. Kalau bulan lalu aku bertemu dengan Reni Erina yang biasa disapa dengan Bunda Reni. Salah satu penulis hebat yang sekarang kerjannya selain menulis Novel, bunda juga seorang managing editor. Nah, hari ini aku bertemu dengan Agustinus Wibowo. Salah satu penulis Travel writer dan backpacker sejati. Dan mbak Dina seorang traveler wanita dari 2 Ransel (bukan nama toko tas ya !).
            Begini ceritanya.
                        Agustinus Wibowo. Seorang anak Rumahan yang bisa dibilang Kutu buku. Karena kerjanya hanya membaca dan membaca. Entah setan apa yang telah merasuki dirinya sehingga terbesit dalam hatinya, kalau dia ingin pergi berpetualang keliling dunia. Berkeliling dunia? Butuh berapa duit tuh? Butuh berapa lama?! 
Sebelumnya mas Agus pernah tinggal lama di Cina untuk menuntut ilmu di sana. Dan pernah menjadi sukarelawan di Aceh pada tragedy Tsunami sebagai Tim pemburu mayat. Dari sinilah mas Agus melihat sebuah perjalan bukan dengan mata yang biasa, melainkan dengan kacamata yang berbeda. Makanya ketika meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk pergi keluar negeri, mas agus tidak ada kesulitan. Tapi tetap saja namanya manusia pasti punya rasa takut. Takut terjadi sesuatu ditengah jalan. dirampoklah, pelecehan seksuallah, tidak punya penginapanlah dan yang lainnya. Apalagi pergi keluar negerinya selama lima tahun. Lima tahun?! Ah bohong kali…!
Ya Yan beneran. Mas agus memulai perjalanannya pada umur 21 tahun. Negara pertama yang ia kunjungi adalah Negara Mongolia yang masuknya tentu harus dari Cina. Setelah dari Mongolia mas agus bergerak ke Nepal dan Tibet “ saking dinginya di sini (Nepal & Tibet), saya ga pernah mandi selama dua bulan, mungkin saya pemecah rekor kali. Ya bisa dibayangin diketinggian kurang lebih 4000 Mdpl yang dinginnya sama seperti dinginya air es. Heheh” kata penulis Selimut debu, Titik Nol ini sambil ketawa renyah.
            Selama perjalanan banyak kejadian yang menguras semua tenaga, pikiran, sampai menguras isi dompet. Ketika itu penulis asal lumajang ini disekap oleh kawanan preman. Mereka membawa mas Agus kesuatu tempat yang sangat sepi. Dengan dihadapkan muka yang sangar dan berewok, tangan mengepal keatas, dan tangan satunya menarik baju bagian depan mas agus. Saat itu ia merasa bahwa perjalanan keliling dunia mungkin akan berakhir di sini. Ia pasrah dengan segala apa yang akan terjadi. Tapi Tuhan masih melindunginya lewat tangan polisi yang sudah berdiri dihadapanya ketika ia membuka mata.
Langkah semangat masih menyelimutinya hingga ia sampai di India. Cukup lama ia tinggal di India karena dia terkena penyakit hepatitis. Penyakit yang bisa menular kepada siapa saja. Awalnya ia hanya mau bersosialisasi dengan warga setempat tapi, malah kena penyakit. Lagi-lagi harus belajar bersyukur karena masih ada orang yang mau menampung orang lumajang ini. Selama tiga minggu ia dirawat disalah satu rumah penduduk, segala kebutuhannya dilayani dengan senang hati oleh sang tuan rumah. Sungguh mulia dan tak tahu harus membalasnya dengan apa, batinnya.
Kamera dan ransel masih setia menemani perjalanan mas Agus untuk menemukan kebahagiann hidup. Belajar dari alam. Membaca dari orang-orang yang ditemu disetiap perjalanan dan menghapal setiap kata dari bahasa daerah yang ia singgahi. Sampailah ia di Afganistan. Afganistan memang Negara yang harus diwaspadai karena seperti yang kita tahu Negara yang satu ini masih saja bersahabat dengan senjata dan bom dimana-mana. Semua itu tidak menyurutkan hati mas agus untuk melangkah ke daerah berbhaya ini. Malah, dia diterima menjadi seorang jurnalis disalah satu media local. Kurang lebih satu tahun tujuh bulan ia bekerja sebagai jurnalis. Dari pekerjaan ini lah ia menjadi seorang travel writer yang tulisannya bukan hanya dinikmati diafganistan saja, tapi media internet dan majalah Indonesia pun menjadi tampungan bagi setiap karya-karya backpacker sejati ini.
“kalau boleh tahu, sudah berapa Negara yang mas agus kunjungi ?” Mas Gong bertanya (mas Gong atau Gol A Gong, pendiri, penulis sekaligus pengajar di Rumah Dunia)
“ga banyak mas, baru 44 negara” jawabnya sambil tersenyum malu. Dengan mata yang sipit dibalik kacamata minusnya.
Ga banyak …?
Baru 44 Negara?!,
itu sih udah banyak mas agus…. Berkunjung ke 1 negara saja, bahagianya setengah mati, apalagi 44 negara….? Bisa mati berdiri nih. (Lebay.. hehehe)
Beda orang tentu beda juga pengalamannya. Yang tadi, cerita dari mas Agus, kali ini cerita dari Mbak Dina, Yan. Mbak Dina sendiri adalah seorang istri dari seorang software programming di Kanada. Dia memang tinggal di Kanada sebagai seorang ibu rumah tangga, sekaligus lulusan bidang Kimia di salah satu kampus di Indonesia. Awalnya hanya guyonan biasa tentang keinginan untuk bebasa sementara dari rasa penat selama bekerja. Memulai perjalanan yang cukup lama, meninggalkan rumah, meninggalkan barang-barang dan meninggalkan pekerjaan. Tapi tak tahunya, suami mbak Dina menyatakan keluar dari perusahan tempat ia bekerja selama ini, 2 minggu sebelum perjalanan dimulai. Namun sang pemilik perusahan memerintahkannya agar membawa Leptopnya, jadinya berpetualang sambil bekerja. Semua barang mereka keluarkan dari dalam rumah mereka. Membawa yang perlu mereka bawa dan menjual apa yang masih bisa dijual atau merelakannya diambil oleh Tuna Wisma.
Aku & mbak Dina ( 2 Ransel) 
Kapal pesiar yang cukup mewah tapi lebih murah dari pesawat terbang, membawa mereka membelah lautan menuju tujuan Negara pertama yaitu Spanyol. Selama 3 tahun lebih mereka membelah bumi. Mbak Dina dan sang Suami merasa, bahwa mereka harus bisa mnecoba berjalan sendiri-sendiri dulu. Dicoba dalam waktu 1 minggu tidak ketemu satu sama lain, berjalan sendiri-sendiri, makan sendiri, dan tidur pun sendiri.
“Dia yang mutusin untuk tidak ketemuan dulu, malah dia sendiri yang merasa kangen duluan sampai dia menjengukku ditempat penginapanku pas di Thailand” katanya sambil tertawa malu.
Mbak Dina sendiri tak banyak bercerita tentang perjananannya. Tapi bisa aku simpulkan bahwa seorang wanita tidak perlu takut untuk memulai perjalanan. Cukup yakin dan berani bahwa perjalanan kita akan baik-baik saja. Eh iya Yan. Mbak Dina juga pernah di undang ke acara Hitam Putih yang ada di Trans TV, tahu kan?. Sayangnya waktu itu aku tidak nonton jadi nggak tahu dia cerita apa. At least  aku sudah bisa bertatap langsung dan berfoto langsung dengan penulis-penulis hebat ini. 
Begitu ceritanya.

                                                                                                                
 Serang, 13 Maret 2013
                       

No comments:

Post a Comment