By : Yan Van Java
Siang itu (12/03/13)
terik matahari Kota Serang tertutup awan hitam. Walaupun hari ini tanggal merah
perayaan nyepi umat Hindu, tapi kota Serang tetap ramai seperti biasa.
Mobil-mobil mewah, mobil angkutan umum dan juga motor lalu lalang
membelah jalanan yang terguyur hujan beberapa jam yang lalu. Hari ini
memang hari libur Yan. Tapi ku teruskan langkah kakiku ke Rumah Dunia. Kamu
tahu kan Rumah Dunia?. Rumah yang dibangun dengan kata-kata "Rumahku Rumah Dunia, Kubangun Dengan Kata-kata".
Ya, memang betul “Dibangun dengan kata-kata”. Kata-kata
yang indah, yang mengalir dari setiap ucapan dan tulisan para pembuka jendela
dunia, para petualang, para pemberani, dan para motivator. Aku bangga yan, bisa
bergabung bersama komunitas menulis disini. Ya, walaupun aku belum mahir dalam
bermain kata-kata. Disini aku menemukan duniaku yang baru, hidupku yang baru,
teman baru, sahabat baru, semangat baru, tangan baru, langkah baru. Tapi tidak,
untuk cinta yang baru, hehehe.
Aku hampir lupa. Bahwa hari ini aku
mendapatkan semangat baru. Seperti biasa, setiap kali aku ke Rumah Dunia pasti
ada saja kejutan-kejutan yang sulit aku tebak. Kalau bulan lalu aku bertemu
dengan Reni Erina yang biasa disapa dengan Bunda Reni. Salah satu penulis hebat
yang sekarang kerjannya selain menulis Novel, bunda juga seorang managing
editor. Nah, hari ini aku bertemu dengan Agustinus Wibowo. Salah satu penulis
Travel writer dan backpacker sejati. Dan mbak Dina seorang traveler wanita dari
2 Ransel (bukan nama toko tas ya !).
Begini
ceritanya.
Agustinus Wibowo. Seorang anak
Rumahan yang bisa dibilang Kutu buku. Karena kerjanya hanya membaca dan
membaca. Entah setan apa yang telah merasuki dirinya sehingga terbesit dalam
hatinya, kalau dia ingin pergi berpetualang keliling dunia. Berkeliling dunia?
Butuh berapa duit tuh? Butuh berapa lama?!
Sebelumnya mas Agus
pernah tinggal lama di Cina untuk menuntut ilmu di sana. Dan pernah menjadi
sukarelawan di Aceh pada tragedy Tsunami sebagai Tim pemburu mayat. Dari sinilah
mas Agus melihat sebuah perjalan bukan dengan mata yang biasa, melainkan dengan
kacamata yang berbeda. Makanya ketika meminta izin kepada kedua orang tuanya
untuk pergi keluar negeri, mas agus tidak ada kesulitan. Tapi tetap saja
namanya manusia pasti punya rasa takut. Takut terjadi sesuatu ditengah jalan.
dirampoklah, pelecehan seksuallah, tidak punya penginapanlah dan yang lainnya.
Apalagi pergi keluar negerinya selama lima tahun. Lima tahun?! Ah bohong kali…!
Ya Yan beneran. Mas
agus memulai perjalanannya pada umur 21 tahun. Negara pertama yang ia kunjungi
adalah Negara Mongolia yang masuknya tentu harus dari Cina. Setelah dari
Mongolia mas agus bergerak ke Nepal dan Tibet “ saking dinginya di sini (Nepal & Tibet), saya ga pernah mandi
selama dua bulan, mungkin saya pemecah rekor kali. Ya bisa dibayangin
diketinggian kurang lebih 4000 Mdpl yang dinginnya sama seperti dinginya air
es. Heheh” kata penulis Selimut debu,
Titik Nol ini sambil ketawa renyah.
Selama
perjalanan banyak kejadian yang menguras semua tenaga, pikiran, sampai menguras
isi dompet. Ketika itu penulis asal lumajang ini disekap oleh kawanan preman.
Mereka membawa mas Agus kesuatu tempat yang sangat sepi. Dengan dihadapkan muka
yang sangar dan berewok, tangan mengepal keatas, dan tangan satunya menarik
baju bagian depan mas agus. Saat itu ia merasa bahwa perjalanan keliling dunia
mungkin akan berakhir di sini. Ia pasrah dengan segala apa yang akan terjadi.
Tapi Tuhan masih melindunginya lewat tangan polisi yang sudah berdiri
dihadapanya ketika ia membuka mata.
Langkah semangat masih
menyelimutinya hingga ia sampai di India. Cukup lama ia tinggal di India karena
dia terkena penyakit hepatitis. Penyakit yang bisa menular kepada siapa saja.
Awalnya ia hanya mau bersosialisasi dengan warga setempat tapi, malah kena
penyakit. Lagi-lagi harus belajar bersyukur karena masih ada orang yang mau
menampung orang lumajang ini. Selama tiga minggu ia dirawat disalah satu rumah
penduduk, segala kebutuhannya dilayani dengan senang hati oleh sang tuan rumah.
Sungguh mulia dan tak tahu harus
membalasnya dengan apa, batinnya.
Kamera dan ransel masih
setia menemani perjalanan mas Agus untuk menemukan kebahagiann hidup. Belajar
dari alam. Membaca dari orang-orang yang ditemu disetiap perjalanan dan
menghapal setiap kata dari bahasa daerah yang ia singgahi. Sampailah ia di
Afganistan. Afganistan memang Negara yang harus diwaspadai karena seperti yang
kita tahu Negara yang satu ini masih saja bersahabat dengan senjata dan bom
dimana-mana. Semua itu tidak menyurutkan hati mas agus untuk melangkah ke
daerah berbhaya ini. Malah, dia diterima menjadi seorang jurnalis disalah satu
media local. Kurang lebih satu tahun tujuh bulan ia bekerja sebagai jurnalis.
Dari pekerjaan ini lah ia menjadi seorang travel writer yang tulisannya bukan
hanya dinikmati diafganistan saja, tapi media internet dan majalah Indonesia
pun menjadi tampungan bagi setiap karya-karya backpacker sejati ini.
“kalau boleh tahu,
sudah berapa Negara yang mas agus kunjungi ?” Mas Gong bertanya (mas Gong atau
Gol A Gong, pendiri, penulis sekaligus pengajar di Rumah Dunia)
“ga banyak mas, baru 44
negara” jawabnya sambil tersenyum malu. Dengan mata yang sipit dibalik kacamata
minusnya.
Ga banyak …?
Baru 44 Negara?!,
itu sih udah banyak mas
agus…. Berkunjung ke 1 negara saja, bahagianya setengah mati, apalagi 44
negara….? Bisa mati berdiri nih. (Lebay.. hehehe)
Beda orang tentu beda
juga pengalamannya. Yang tadi, cerita dari mas Agus, kali ini cerita dari Mbak
Dina, Yan. Mbak Dina sendiri adalah seorang istri dari seorang software
programming di Kanada. Dia memang tinggal di Kanada sebagai seorang ibu rumah
tangga, sekaligus lulusan bidang Kimia di salah satu kampus di Indonesia. Awalnya hanya guyonan biasa tentang keinginan untuk
bebasa sementara dari rasa penat selama bekerja. Memulai perjalanan yang cukup
lama, meninggalkan rumah, meninggalkan barang-barang dan meninggalkan
pekerjaan. Tapi tak tahunya, suami mbak Dina menyatakan keluar dari perusahan
tempat ia bekerja selama ini, 2 minggu sebelum perjalanan dimulai. Namun sang
pemilik perusahan memerintahkannya agar membawa Leptopnya, jadinya berpetualang
sambil bekerja. Semua barang mereka keluarkan dari dalam rumah mereka. Membawa
yang perlu mereka bawa dan menjual apa yang masih bisa dijual atau merelakannya
diambil oleh Tuna Wisma.
![]() |
| Aku & mbak Dina ( 2 Ransel) |
“Dia yang mutusin untuk
tidak ketemuan dulu, malah dia sendiri yang merasa kangen duluan sampai dia
menjengukku ditempat penginapanku pas di Thailand” katanya sambil tertawa malu.
Mbak Dina sendiri tak
banyak bercerita tentang perjananannya. Tapi bisa aku simpulkan bahwa seorang
wanita tidak perlu takut untuk memulai perjalanan. Cukup yakin dan berani bahwa
perjalanan kita akan baik-baik saja. Eh iya Yan. Mbak Dina juga pernah di
undang ke acara Hitam Putih yang ada di Trans TV, tahu kan?. Sayangnya waktu
itu aku tidak nonton jadi nggak tahu
dia cerita apa. At least aku sudah bisa bertatap langsung dan berfoto
langsung dengan penulis-penulis hebat ini.
Begitu ceritanya.
Serang, 13 Maret 2013

No comments:
Post a Comment