Sunday, March 31, 2013

Rumah di ujung jalan


By : Yan Van Java 

Suasana yang semula ramai, seketika hening dalam tanda Tanya. Bingung, siapa anak perempuan itu?, kenapa dia tiba-tiba ada dirumah tua itu, padahal gerbang sudah dikunci? Terus tadi siapa yang mandi? Bayangan siapa yang tadi dilihat oleh cal?.
* * *
                        Rumah yang berada diujung jalan kampung Suka Kaya itu senyap tak berpenghuni. Hanya rumput setinggi lutut orang dewasa dan pohon besar yang menjadi penghuninya. Setiap hari memang ada saja yang melewati rumah yang satu ini. Tapi seketika bulu kuduk mereka merinding dan segera mempercepat langkah mereka.
Pada malam yang dingin itu…….
“Cal, ayo masuk. Rumah ini aman ko !” ajak ian kepada cal yang sedari tadi berdiri mematung dengan kaki gemetaran dan tatapannya yang kosong.
“yan, loe ngerasa aneh ga sama rumah ini?, kalo gue merinding yan, gue mau balik aja lah” cal setengah berbisik pada ian, tapi matanya terus mengamati sekeliling rumah.
“ah loenya aja yang terlalu penakut, udah ayo masuk!”
“tapi yan……” tanpa rasa ampun ian pun menarik lengan cal, agar ia mau masuk kedalam rumah itu karena teman- temannya telah menunggu mereka dari tadi.
Cal, Ian dan teman-temannya sebenarnya tidak berniat untuk menginap di Rumah yang tampak tak terurus ini. Karena dari rencana yang mereka buat, mereka ingin menginap di Villa yang tak jauh dari rumah tua . Tapi apa mau dikata, vila yang sebelumnya mereka rencanakan, ternyata telah diisi oleh orang lain. Karena mereka lebih dahulu membayar sewa kepada pemilik villa. Akhirnya dengan terpaksa dan bernegoisasi dengan penjaga rumah itu, mereka pun dipersilahkan masuk.
Matahari perlahan tenggelam diupuk barat. Meninggalkan goresan keemasan dilangit yang mulai Nampak kemerahan oleh sinar matahari. Hari pun mulai gelap, Nampak beberapa orang bersarung dan dan berpeci, dan perempuan memakai mukena lewat didepan rumah itu. Adzan magrib berkumandang dari salah satu masjid dikampung suka kaya. Cal, ian dan teman-temannya saling bergantian mengambil wudhu sebelum mereka melaksanakan salat magrib berjamaah.
“baiklah teman-teman, sebelum kita memulai rapat kita malam ini. Kita makan terlebih dahulu dan disusul dengan salat isya, setelah itu rapat star dari jam 9, gimana setuju?” Tanya Fahmi selaku ketua dalam rapat ini.
“setujuuuuuuuu….” Jawab serempak yang hampir membuat rumah itu tidak terasa mengerikan lagi.
Ada yang tiduran, ada yang ngobrol kesana sini, ada yang curhat, bahkan ada juga yang mandi, karena merasa badan telah lengket oleh keringat. Walaupun keadaan rumah yang berdebu sampai beberapa centi, tapi kamar mandinya lumayan, seperti ada yang merawat. Karena airnya yang masih bagus, dan closetnya pun masih berfungsi. Hanya saja rumput yang di depan rumah  itu yang tak terawat, makanya menimbulkan sisi mistis dan rasa ngeri untuk memasukinya.
Waktu pun terus berputar, setelah makan dan melaksanakan salat isya berjamaah. Cal, Ian dan teman-temanya mulai berkumpul melingkar. Palu sidang dan kertas-kertas dokumen sidang mulai menghiasi lingkaran anak-anak muda itu. Sidang rapat pun dimulai dengan membacakan basmallah dan ditutup dengan doa. Rapat berjalan hingga larut malam. Tampak warung-warung penjual makanan disebrang rumah itu mulai menutup diri. Para penjual satu-persatu pergi meninggalkan warung-warung mereka. Jalanan pun sepi, tak berpenghuni.
Tiba-tiba….
“Ta, tadi loe liat bayangan ga?” cal berbisik pada genta yang duduk disampingnya.
“ga cal, emang kenapa? Loe liat? Dimana cal?” genta malah balik Tanya pada cal sembari tengok kanan kiri, depan dan belakang. Genta mulai merasa takut.
Byur…. Byuuur…. Byuuuur…..
Terdengar suara air yang ditumpahkan dari arah kamar mandi luar. Sontak membuat para penghuni rumah sementara itu kaget dan saling menatap satu sama lain. Mereka merasa tak ada satu pun peserta sidang rapat yang pergi ke kamar mandi. Ketua sidang pun mengabsen mereka satu persatu. Dan semuanya lengkap, tak ada seorang pun yang pergi kekamar mandi atau pun ketempat lain. Semua tampak bingung, lalu mereka pun saling suruh menyuruh untuk pergi mengecek kamar mandi. Tak ada satu pun yang mau melakukannya.
“Kakak ! kata ayah ga boleh berisik, udah malam” tiba-tiba anak kecil perempuan hadir dalam keributan mereka malam itu. Semua kepala langsung tertuju pada anak kecil itu yang langsung pergi meninggalkan mereka dalam kebingungan dengan kehadirannya.
Suasana yang semula ramai, seketika hening dalam tanda Tanya. Bingung, siapa anak perempuan itu?, kenapa dia tiba-tiba ada dirumah tua itu, padahal gerbang sudah dikunci? Terus tadi siapa yang mandi? Bayangan siapa yang tadi dilihat oleh cal?.
Gubrak !
Satu lagi, terdengar suara barang jatuh dari dalam gudang belakang. Mata yang tadi saling menatap kini tertuju semua kearah gudang belakang. Lingkaran yang semula renggang detik itu pun merapat, serapat rapatnya. Jimbron mencoba menjadi pahlawan, dia melangkah ke gudang mungkin dengan hati yang masih diselimuti oleh rasa takut tapi ia coba untuk menguatkannya. Sedangkan teman-teman yang lainnya hanya bisa menyaksikan jimbron dari belakang. Sesekali jimbron menengok kearah belakang. Dengan tertatih-tatih ia pun sampai kedepan pintu gudang. Perlahan ia mencoba untuk membukanya. “bismillahirohmanirahim”ucapanya. Kreeeeeeeeeeek….. pintu tua gudang terbuka. Semua mata mencoba untuk bertahan tapi sebagian lagi lebih memilih memejamkannya. Dan…..
Meooooow…..meooooow…..meoooow   
            “hah ! ternyata Cuma kucing” jimbron mengelus dadanya yang sempat kagett apa yang akan terjadi dibalik gudang itu.
“huh… dasar kucing bego, bikin kaget kita aja loe !” sumpah serapah terlontar dari lisan Gede. 
Suasana kembali tenang seperti semula. Mereka pun melanjutkan rapat hingga berakhir pukul 02:00 dini hari. Satu persatu dari mereka mulai memasuki kamar yang hanya dilengkapi dengan 6 kasur tanpa ranjang. Tapi apa yang terjadi, mata mereka sulit untuk dipejamkan, pada akhirnya mereka memilih untuk memutar music, ngobrol, mungkin ada juga yang update status di facebook “gilaaaa… sekarang gue tidur dirumah serem” dan  mungkin ada juga yang sedang galau SMSan sama pacarnya “bebz… gue takut bangetzzzz.. ga bs tidr bebz.” Tapi Cal dan Ian lebih memilih tidak tidur, mereka masih penasaran dengan yang apa terjadi tadi.
Cal dan Ian lalu pergi keluar rumah. Bukan hanya sekedar ingin mencari angin segar dimalam yang cukup dingin. Tapi mereka berdua ingin mencari tahu apa yang sudah terjadi pada rumah itu sehingga terlihat angker dan mengerikan. Cal dan ian lalu berjalan kearah perkampungan, karena rumah tua yang mereka tempati memang terpisah sendiri.  Hmmm tapi siapa yang mau ditanya malam-malam kaya gini. Yang ada setan dikuburan yang masih melek. Mereka berdua masih meneruskan langkah. Sesampainya di perkampungan tak ada satupun yang mereka temui. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk kembali ke rumah tua itu, untuk berjaga-jaga.
Sang mentari pagi mengintip dari balik dedaunan. Menyembunyikan rasa malu yang masih tampak jelas dari matanya. Setiap jiwa yang masih terlelap tidur seketika bangun dari pembaringan. Kesibukan pun mulai tampak di kampung suka jaya itu. Anak-anak berseragam sekolah berlari-lari kecil sambil tertawa bebas bersama teman-temannya, para orang tua mulai sibuk memanggul barang dagangan yang akan mereka jual kepasar seberang, ibu-ibu pun tak mau ketinggalan, mereka membawa keranjang yang siap untuk menampung segala belanjaan yang mungkin untuk keperluan 3 hari kedepan. Sungguh kampung yang Asri tapi menyimpan banyak misteri.
“hoooooaaaaaaam….. udah pagi, ya?” cal bertanya kepada siapa saja yang ada disana, sambil menggucek-ngucek matanya.
“belum, masih malam kebo” jawab bima sambil menepuk badan cal yang memang gede, seperti badut pasar malam.
Baru saja bangun, Cal langsung menghampiri Ian yang masih terlelap tidur.
“yan…. yan… banguuuun loe, dah siang nih, katanya mau investigasi sama warga” sambil mengoyang-goyang badan Ian yang kurus seperti sapu lidi.
            “ah… gue ngantuk banget, nanti aja lah” Ian masih terus melanjutkan tidurnya
“woy ! kalau loe ga bangun sekarang, gue ga segan-segan kentut dimuka loe nih, mau loe!?” ancam Cal yang sudah bersiap-siap menaruh pantatnya dimuka Ian.
Jangankan orang, semut yang kecil pun tidak akan mau kalau dikentutin gajah duduk sepeti Cal. Bayangkan saja, makan mie tidak cukup satu porsi, ditambah minuman dan ditambah nasi lagi. Pokoknya kalau ngajak Cal main kerumah, jangan harap makanan yang ada dikulkas kalian akan tersisa. Ya, saking nafsunya dia.
Segera Ian bangun dan lari mencuci muka. Membersihkan bakteri-bakteri yang menempel akibat semburan angin tornado Cal. Ketika ia kembali ke kamar, ternyata teman-temannya terbaring tak berdaya. Tak ada suara satu pun, semua sepi seperti tak berpenghuni. Ian kaget setengah mati, ia mencoba membangunkan teman-temnnya. Semoga masih ada yang masih bernapas. Tapi… harapan itu kosong. Ian menangis sambil menatap tubuh kaku teman-temannya. Sebenarnya apa yang terjadi beberapa menit yang lalu. Padahal tadi semuanya terlihat bergembira, tertawa, tidak ada kesedihan dan rasa yang mencurigakan. Kenapa sekarang berubah begitu cepat?. Ian masih dalam posisinya, menangis. Menangis didekat pintu kamar, karena ia tak percaya dengan semua ini. Sebenarnya apa yang terjadi?. Ian pun memperhatikan satu persatu teman-temannya, semuanya lengkap. Tapi, ada satu  pun yang hilang, gajah duduk kemana? Cal dimana? Kenapa ia tidak ada?. Caaaaaaal…..
“ Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah !” serempak teman-temannya mengagetkan Ian yang sedari tadi menangis didekat pintu. “ kenapa loe nangis yan?” lanjut salah satu temannya.
“wah.. wah… be..ree..ngsek… loe……” ucap ian dengan suara sesegukan sembari menyeka air mata yang mengalir di atas pipinya. “ pa..rah.. ka…lian. Guuu…e ga habis pikir…kenap…pa…..” sambil menutupi mukanya.
“lagian…. Kentut si gajah duduk tuh seperti bom hirosima, mengelegar…. “jelas bima
“dan juga membahana badai….”. “ udah jangan nagis loe cengeng amat, hahahahhaahah”
Akhirnya suasana yang tadi sempat membuat jantung ian copot. Kini kembali seperti semula, berdetak dengan lega, mengedarkan darah dengan tenang tanpa ada rasa khawatir lagi. Ets, tunggu dulu tapi dimana cal?. Dia bertanya kepada semua orang yang ada dirumah tua itu. Tapi jawaban mereka hanya menggelengkan kepala. Ian pun lari keluar rumah meninggalkan teman-teman yang tadi sudah menjahilinya. Lari sepanjang jalan perkampungan. Namun cal tidak juga diketemukan. Tiba-tiba, Ian melihat seseorang yang hampir mirip dengan Cal, mempunyai badan besar, celana borju yang longgar, dan tentu kaos oblong yang sangat besar. Segera ia lari kearah orang tersebut, dan menepuknya dari belakang.
“Cal !”
“eh kapur kecoa… nyusul gue juga loe” jawab cal sembari merangkul leher ian dengan lengan kekernya yang lembek, karena lemak.
“iya gajah ! akibat bom hirosima loe, semua penghuni kamar tewas seketika” ian kesal sambil memukul perut gentong Cal.
“hahahahahahahah…., lebay loe ! ya udah yuk kita lanjutin investigasi kita” kembali Cal menggepit leher ian sampai sulit bernapas.
            Mereka berdua pun mulai menjelajah kampung. Bertanya tentang apa yang ada dibalik rumah yang mereka tempati saat ini. Tidak ada satu pun warga yang mau bercerita tentang rumah itu. Setiap kali Cal dan Ian bertanya pasti mereka menjawab dengan dua kata “tidak tahu” atau mereka langsung pergi sambil sesekali melihat kearah rumah itu. Terasa ganjil, memang. Mereka melihat kearah rumah itu dengan berwajah tegang, seperti ada sesosok makhluk yang terus mengancam mereka.
                        Tapi ada satu warga desa yang akhirnya memberikan suaranya untuk mereka. Bapak itu bernama pak Sapri, seorang hansip di kampung suka kaya itu. Dengan wajah yang terlihat bingung dan mengambil napas panjang, pak Sapri pun mulai bercerita.
                        “Tiga tahun yang lalu… Rumah itu sangat nyaman. Bukan hanya nyaman di luar yang di Tanami banyak bunga, tapi kenyamanan itu pun tampak pada penghuni rumahnya yaitu keluarga pak Roy. Pak Roy sendiri sangat baik dan sering ngobrol-ngobrol bersama saya disini, ya percis di tempat duduk mas Cal. Tapi…..” Pak Sapri menunjuk tempat duduk Cal yang berada didekat tiang pos kambling, dan ia pun segera meminum kopi yang tampak masih panas ketika ia meyeruputnya. Lalu pak Sapri melanjutkan ceritanya.
                        “Pada malam itu, hujan deras mengguyur kampung ini. Suasana kampung pun sepi, petugas ronda tak ada dan hansip pun tak ada yang mau berkeliling kampung. Saya pun tak tahu pasti apa yang sudah terjadi didalam rumah pak Roy dan keluarganya pada malam itu. Karena tiba-tiba saja, esok harinya pak Roy, istri dan kedua anaknya ditemukan tewas didalam rumah. Semua barang-barangnya tidak ada yang hilang. Sepertinya si pembunuh menyimpan rasa dendam pada keluarga pak Roy bukan berniat untuk merampok”.  
                        “terus pak?” Tanya Ian penasaran.
                        “ya, sejak saat itu rumah pak Roy mulai terlihat angker. Karena setiap malam sering terdengar alunan music, bahkan dua tahun yang lalu, pada waktu itu ada tukang nasi goreng yang lewat pada tengah malam, dan ada seorang perempuan dan dua orang anak kecil membeli nasi gorengnya. dia tidak tahu kalau rumah itu angker. Tapi ketika pagi hari ternyata rumah itu terlihat kosong, hanya rumput dan pohon besar yang menjadi penghuninya. Dan semua orang yang melewati rumah itu merasa bahwa pak Roy dan keluarganya masih ada didalam rumah itu, karena mereka belum ikhlas untuk meninggalkan dunia ini dengan cara terbunuh seperti itu. Begitu ceritanya”. Kembali pak Sapri meneguk kopi yang sudah dingin yang berada dihadapanya.
                        “berartiiiiiiii…… anak perempuan tadi malam siapa…….” Mereka berdua saling behadapan dan mengigil ngeri.
                        Setelah semua cerita tentang rumah yang mereka sewa dengan teman-temnnya didapat. Cal dan Ian pun segera memerintahkan kepada teman-temannya agar segera meninggalkan rumah itu. Waktu  menunjukan  pukul 09:00 pagi. mereka langsung meninggalkan tempat itu, tanpa lupa pamit kepada penjaga rumah. Dari kejauhan Cal melihat sosok anak kecil dan perempuan berbaju kuning bermotif bunga yang berlumuran darah dibagian perutnya. Kedua sosok itu melambaikan  tangan kearahnya dan hilang begitu saja.
Selesai
Serang, 29 Maret 2013

No comments:

Post a Comment