Friday, March 15, 2013

Kepiting Asam


By : Yan Van Java

“Tuhaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan kembalikan dia padaku !!!” tubuhku bergetar dan ambruk diatas butiran pasir. Ingatan itu telah membawaku jauh kedalam dasar lautan. Aku tak peduli dengan cemoohan orang lain kepadaku. Mereka menganggapku gila, stress, atau terserah. Aku merasa bersalah dan Merasa berdosa. Seandainya itu semua tak terjadi…. Astagfirullah maafkan hamba.
Satu tahun yang lalu adalah moment terindah dalam hidupku. Awal aku melihatnya biasa saja. bahkan aku sering mengejeknya dengan sebutan “kepiting asem”.  karena rambutnya yang kriting itu yang membuatku menciptakan nama baru buatnya. Namanya sih keren, walaupun orang kampung tapi dia mempunyai nama seperti artis ibu kota. Apakah kamu mau tahu kawan ?. ya, namanya adalah Citra Jelita Suryo. Orangnya pintar, sopan, dan lumayan cantik standarlah buat orang kampung. Tapi tetep saja masih terlihat kampungnya. kulitnya yang hitam manis menunjukan bahwa dia anak pulau. Dia anak seorang nelayan dan pembuat ikan asin di pesisir pantai. Ayahnya yang setiap hari pulang pagi dari berlayar.  membuatnya selalu terlambat masuk sekolah. Karena Dia dan ibunya sibuk mengurusi ikan-ikan laut hasil tangkapan para nelayan.
Aku sendiri seorang anak laki-laki yang lahir dari keluarga berada. Hey, maaf bukannya aku sombong tapi ini kenyataan. Ayahku seorang juragan pengepul ikan sedangkan ibuku seorang Guru di salah satu sekolah negeri di pulau ini. Walaupun ibuku seorang guru tapi aku belum merasakan ajaran sopan santun darinya. Makanya, aku menjadi seperti ini. Suka keluar malam, mabuk-mabukan, melawan pada guru dan suka menjahili teman-temanku. Tidak asing lagi bagiku, kalau setiap lewat atau masuk kelas teman-temanku selalu menghindar dan menunduk. Hanya satu yang tidak memberikan semua itu kepadaku  dialah si gadis kepiting asem dari Pesisir Pulau.
“heh,  kamu tidak menghormatiku !!” gentakku di atas meja di depannya.
Dengan memasang muka masam, mata tajam, dan sambil menutup buku pelajaran dia balik menggentaku “emang kalau aku tidak menghormatimu masalah ya buat kamu !!!”
“wah..wah..wah.. kepiting asem mulai berani nih” sambil kutunjukan jari telunjuku di depan mukanya.”udah item, jelek, sok jagoan lagi. Liat noh an….”
“ciyuuuus miapaaa? “dengan bahasa alaynya ia memotong ucapanku. Aku pun semakin panas karena dia meremehkanku didepan anak-anak kelas.
“mi otok… pok…pok..pok…, rese loe “ ku berlalu meninggalnya dan aku pun duduk tepat dibelakang kursinya.
Sejak saat itulah bayangan wajah serius, lucu dan lumayan cantik si kepiting asem itu mulai menghiasi otakku. Setiap malam menjelang tidur aku suka tersenyum sendiri. Aku seperti terbius oleh senyumannya yang manis dan ekspresi muka marahnya yang lucu. Aku tak tahu tiba-tiba setiap kudatang kesekolah hatiku bergetar hebat. Apakah aku punya salah kepada guru-guruku?oh tentu, tapi bukan. Apakah aku punya salah pada teman-temanku? Oh ya, tapi bukan itu. Saat kepiting asem citra lewat. Deg…deg…deg…deg… detak jantungku semakin kencang seperti dikejar-kejar setan ngesot, seperti ingin di makan harimau yang ganas terus terjatuh kedalam jurang yang dalam. Aaaaaah apakah arti semua ini? Apakah aku jatuh cinta pada si kepiting asem citra? Oh tidak…tidak mungkin ! tidak mungkiiiiiiin !.
Itu tak mungkin terjadi pada diriku. Kau tahu sendiri sejak dulu sampai hari ini bahkan sampai matahari tenggelam pun aku tak akan pernah jatuh cinta pada si kepiting asem pulau itu. Sore ini aku bingung terhadap diriku, hatiku dan perasaan yang tak tahu arahnya. Ku tatap mata langit yang selalu menatapku saat ini, mungkin dia bertanya ada apa dengan kau, wahai sang manusia lumut?. Apa ! manusia lumut ?! siapa yang manusia lumut?, Diam. Asal kau tahu langit yang sombong, aku ini sedang galau. Galau karena perasaan yang seharusnya tidak ada dalam hatiku. Senyuman itu, muka lucunya itu, seperti tikungan Sembilan di medan, sangat tajam.
“Ton, sedang apa kau di sini ?” Tanya heru sambil mengagetkanku dari arah belakang.
“alamaaaaak… bikin kaget saja kau ru” sambil ku lemparkan pasir pantai kearahnya.
“lagian sore-sore ngelamun, kenapa? Memikirkan masa depan kau? Sudahlahlaaah tak usah kau pikirkan, kau sudah pasti bahagia orang tuamu orang punya ton.”
“insyallah tanpa beri tahu pun aku sudah tahu ru, tapi masalahnya bukan itu….” Ku berdiri dan berjalan menantang ombak.
“lantas apa yang kau pikirkan ton?” sambil menyusulku dari belakang dan berdiri disampingku.
“aku memikirkan citra, si kepiting asem. aku bingung dengan hatiku, mana mungkin aku menyukainya!?” jawabku sambil menggoyang-goyangkan pundak heru. Dia pun heran dengan memasang mata kaget dan mulut menganga gagap. Diam seribu bahasa.
Matahari mulai meninggalkan hariku dengan penuh tanda Tanya. Langit senja masih menatapku dalam diam dan penuh kecemasan. Daun kelapa yang bergoyang ria di bibir pantai namun tak menunjukan kebahagian. Sementara temanku heru dia berjalan lemas seperti orang mabuk. Dan aku masih di selimuti tanda Tanya, Bingung. Malam pun mulai mmenyusp masuk kedalam kamarku menghantarkan kerlipan bintang dan cahaya rembulan. Tapi, mata, telinga, mulutku tak peduli dengan kedatangan mereka. Aku tahu alam berusaha menghiburku dengan caranya sendiri. Maaf bukannya aku tidak menghargai usha kalian tapi aku bingung, seribu bingung ingin kuhentakan kepalaku kedinding kamarku tapi, itu hanyalah tindakan yang konyol bahkan hamper tindakan bodoh. Aku serahkan semua urusanku padamu tuhan, semoga engkau bersedia memberikan jawaban dari semua tanda Tanya dalam hatiku, amin.
Jiwa-jiwa manusia pun berkelana menyusuri dunia mimpi masing-masing. Tak terasa mentari pagi membangunkan jiwa ini tuk kembali memulai hari dengan bersujud dan berdoa pada sang maha cinta. Aku pun bergegas mandi dan sarapan di ruang makan bersama ayah dan ibuku. Ya, seperti biasa sarapan dengn nasi goreng dan segelas susu coklat kesukaanku. Tapi pagi ini aku merasa ada keganjilan. Ya, ayah kemana ya? Tumben biasanya dia selalu lebih awal. Ku dengar suara tertutup  dengan keras dari arah kamar ayah. Dan….
“Toni !!! jelaskan kenapa surat ini ada di tangan ayah sekarang?” bentak ayah sambil membanting kertas yang dari tadi di pegangnya. Aku pun mengambil kertas putih itu dan ternyata surat dari sekolah. Ada apa ini???
“ah biasa yah paling Cuma teguran masalah absen” sambil kuterus melahap nasi goreng.
“kamu bilang biasa!? Apanya yang biasa ini sudah ke tiga kalinya ayah mendapat surat seperti ini”
“apa?!! Tiga kali? Ayah pasti bohong, iya kan bu?” ku melirik kearah ibuku yang juga sama-sama tegang. Sambil ku habiskan susu dan cepat-cepat menggendong tasku “ayah ibu aku berangkat dulu, asalamu’alaikum, lariiiiiiiii”
“hey Toniiiiiiiiiiii ayah belum selesai”
Sejuknya angin pagi di kepulauan meratap membawa setiap jiwa-jiwa yang tenang mengembara jauh sampai ke ujung samudra. Dunia ini terlihat luas walaupun jalan yang kutapaki begitu sempit tapi panjang. Akhirnya perjalanan 5 km yang setiap pagi harus kulalui terobati ketika melihat gerbang sekolah yang tingginya subhanallah… Cuma selutut orang dewasa. Gerbang itu beruntung setiap pagi di selalu dibelai dan di temani mesra oleh pak getu sang satpam bermuka sangar dengan hiasan unik kumis ala pak Raden.
“eeeett eeett selamat pagi pak !” sapaku sambil menyempil menerobos gerbang yang akan di tutup oleh pak getu.
“kebiasaan ! masuk !” gentaknya
Sesampainya di ruangan kelas aku merasa aneh tidak seperti biasanya. Kumelirik kanan kiri keluar masuk kelas tapi tidak ada. Sampai ibu guru masuk pun bangku itu tetap kosong. Melihat gelagatku gelisah salah satu temanku bertanya “ada apa ton? Kau kelihatan gelisah?”. Ya memang benar aku gelisah, Aku khawatir terjadi sesuatu terjadi padanya. Citra si kepiting asem di mana dia?.
Penjelasan tentang pelajaran tidak aku hiraukan. Mataku memang ke depan tapi hatiku berpetualang mencari keberadaan citra yang tidak masuk hari ini. Di sela-sela jam pelajaran aku pun bertanya pada temannya, Tapi dia pun tidak tahu. Sedikit sulit untuk mencari tahu kabar citra karena tidak ada teman sekelasku yang Rumahnya berdekatan dengannya.
Kegiatan belajar di sekolahpun hampir selesai. Ku putuskan untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan si kepiting asem?. Dengan ditemani oleh heru dan gita aku pun berangkat menuju rumahnya citra, ya memang jauh lebih jauh dari pada rumahku. Kaki kami mulai terasa cape setelah berjalan lebih dari 6 km. Sesekali kami pun beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
 Dari kejauhan aku melihat bendera kuning tepasang di batang pohon kelapa dan melihat kerumunan orang di salah satu rumah penduduk. Ku langsung lari disusul oleh heru dan gita dengan rasa panik dan kaget. Ku bertanya kepada salah satu dari mereka, siapa yang meninggal pak? Ini rumah siapa bu?. Tapi hanya diam dengan derai air mata yang mampu mereka berikan. Ku bertanya pada heru dan gita, siapa yang meninggal git, siapa? Kasih tahu aku git !.ku goyang-goyangkan pundaknya dengan penuh ke cemasan.
“toni… ton… “ gita hanya mampu menjawab dengan air matanya
Aku coba bertanya kepada heru.
“ton... kepiting asem te… telah tiada…” sambil memelukku
“tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk itu tidak mungkin heru, heru kau bohong kepadaku, jawab heru, jawaaaaaaaaaaabbbb” aku tak berdaya seakan malaikat mau ingin mencabut nyawaku.
Citra Jelita Suryo, andai kau tahu setiap detik aku memikirmu, aku merindukanmu, aku menyayangimu, dan aku mecintaimu. Walaupun setiap hari aku selalu bertengar dengan kau sampai-sampai aku menjuluki kau dengan kepiting asem. Namun entah mengapa rasa ini tumbuh begitu saja, awalnya aku tak percaya kalau aku harus jatuh cinta kepada kepiting asem. Mungkin benar kata pepatah “karena sering ketemu maka cinta pun akan tumbuh”. citra apakah kau pernah melihat bintang-bintang yang berkerlipan di langit sana?, ya begitulah dirimu yang mampu memberikan titik-titik kemerlipan bintang padaku sampai ia menjadi cahaya dalam hatiku kemudian tumbuh menjadi cinta. Tapi sayang engkau begitu cepat meninggalkanku tanpa engkau tahu apa isi hatiku. Ku ikhlaskan dan ku titipkan cinta yang tak sampai ini kepada tuhan yang maha cinta dan menjadikanmu bidadari surgaku.
                                                                                                                              
      31 desember 2012

No comments:

Post a Comment