By : Yan Van Java
“Tuhaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan
kembalikan dia padaku !!!” tubuhku bergetar dan ambruk diatas butiran pasir.
Ingatan itu telah membawaku jauh kedalam dasar lautan. Aku tak peduli dengan
cemoohan orang lain kepadaku. Mereka menganggapku gila, stress, atau terserah. Aku
merasa bersalah dan Merasa berdosa. Seandainya itu semua tak terjadi….
Astagfirullah maafkan hamba.
Satu tahun yang lalu
adalah moment terindah dalam hidupku. Awal aku melihatnya biasa saja. bahkan
aku sering mengejeknya dengan sebutan “kepiting asem”. karena rambutnya yang kriting itu yang
membuatku menciptakan nama baru buatnya. Namanya sih keren, walaupun orang
kampung tapi dia mempunyai nama seperti artis ibu kota. Apakah kamu mau tahu
kawan ?. ya, namanya adalah Citra Jelita Suryo. Orangnya pintar, sopan, dan
lumayan cantik standarlah buat orang kampung. Tapi tetep saja masih terlihat
kampungnya. kulitnya yang hitam manis menunjukan bahwa dia anak pulau. Dia anak
seorang nelayan dan pembuat ikan asin di pesisir pantai. Ayahnya yang setiap hari
pulang pagi dari berlayar. membuatnya
selalu terlambat masuk sekolah. Karena Dia dan ibunya sibuk mengurusi ikan-ikan
laut hasil tangkapan para nelayan.
Aku sendiri seorang
anak laki-laki yang lahir dari keluarga berada. Hey, maaf bukannya aku sombong
tapi ini kenyataan. Ayahku seorang juragan pengepul ikan sedangkan ibuku
seorang Guru di salah satu sekolah negeri di pulau ini. Walaupun ibuku seorang
guru tapi aku belum merasakan ajaran sopan santun darinya. Makanya, aku menjadi
seperti ini. Suka keluar malam, mabuk-mabukan, melawan pada guru dan suka
menjahili teman-temanku. Tidak asing lagi bagiku, kalau setiap lewat atau masuk
kelas teman-temanku selalu menghindar dan menunduk. Hanya satu yang tidak
memberikan semua itu kepadaku dialah si
gadis kepiting asem dari Pesisir Pulau.
“heh, kamu tidak menghormatiku !!” gentakku di atas
meja di depannya.
Dengan memasang muka masam,
mata tajam, dan sambil menutup buku pelajaran dia balik menggentaku “emang
kalau aku tidak menghormatimu masalah ya buat kamu !!!”
“wah..wah..wah..
kepiting asem mulai berani nih” sambil kutunjukan jari telunjuku di depan
mukanya.”udah item, jelek, sok jagoan lagi. Liat noh an….”
“ciyuuuus miapaaa?
“dengan bahasa alaynya ia memotong ucapanku. Aku pun semakin panas karena dia
meremehkanku didepan anak-anak kelas.
“mi otok…
pok…pok..pok…, rese loe “ ku berlalu meninggalnya dan aku pun duduk tepat
dibelakang kursinya.
Sejak saat itulah
bayangan wajah serius, lucu dan lumayan cantik si kepiting asem itu mulai
menghiasi otakku. Setiap malam menjelang tidur aku suka tersenyum sendiri. Aku
seperti terbius oleh senyumannya yang manis dan ekspresi muka marahnya yang
lucu. Aku tak tahu tiba-tiba setiap kudatang kesekolah hatiku bergetar hebat.
Apakah aku punya salah kepada guru-guruku?oh tentu, tapi bukan. Apakah aku
punya salah pada teman-temanku? Oh ya, tapi bukan itu. Saat kepiting asem citra
lewat. Deg…deg…deg…deg… detak jantungku semakin kencang seperti dikejar-kejar
setan ngesot, seperti ingin di makan harimau yang ganas terus terjatuh kedalam
jurang yang dalam. Aaaaaah apakah arti semua ini? Apakah aku jatuh cinta pada
si kepiting asem citra? Oh tidak…tidak mungkin ! tidak mungkiiiiiiin !.
Itu tak mungkin terjadi
pada diriku. Kau tahu sendiri sejak dulu sampai hari ini bahkan sampai matahari
tenggelam pun aku tak akan pernah jatuh cinta pada si kepiting asem pulau itu.
Sore ini aku bingung terhadap diriku, hatiku dan perasaan yang tak tahu
arahnya. Ku tatap mata langit yang selalu menatapku saat ini, mungkin dia
bertanya ada apa dengan kau, wahai sang manusia lumut?. Apa ! manusia lumut ?!
siapa yang manusia lumut?, Diam. Asal kau tahu langit yang sombong, aku ini
sedang galau. Galau karena perasaan yang seharusnya tidak ada dalam hatiku. Senyuman
itu, muka lucunya itu, seperti tikungan Sembilan di medan, sangat tajam.
“Ton, sedang apa kau di
sini ?” Tanya heru sambil mengagetkanku dari arah belakang.
“alamaaaaak… bikin
kaget saja kau ru” sambil ku lemparkan pasir pantai kearahnya.
“lagian sore-sore
ngelamun, kenapa? Memikirkan masa depan kau? Sudahlahlaaah tak usah kau
pikirkan, kau sudah pasti bahagia orang tuamu orang punya ton.”
“insyallah tanpa beri
tahu pun aku sudah tahu ru, tapi masalahnya bukan itu….” Ku berdiri dan
berjalan menantang ombak.
“lantas apa yang kau
pikirkan ton?” sambil menyusulku dari belakang dan berdiri disampingku.
“aku memikirkan citra,
si kepiting asem. aku bingung dengan hatiku, mana mungkin aku menyukainya!?”
jawabku sambil menggoyang-goyangkan pundak heru. Dia pun heran dengan memasang
mata kaget dan mulut menganga gagap. Diam seribu bahasa.
Matahari mulai
meninggalkan hariku dengan penuh tanda Tanya. Langit senja masih menatapku
dalam diam dan penuh kecemasan. Daun kelapa yang bergoyang ria di bibir pantai
namun tak menunjukan kebahagian. Sementara temanku heru dia berjalan lemas seperti
orang mabuk. Dan aku masih di selimuti tanda Tanya, Bingung. Malam pun mulai
mmenyusp masuk kedalam kamarku menghantarkan kerlipan bintang dan cahaya
rembulan. Tapi, mata, telinga, mulutku tak peduli dengan kedatangan mereka. Aku
tahu alam berusaha menghiburku dengan caranya sendiri. Maaf bukannya aku tidak
menghargai usha kalian tapi aku bingung, seribu bingung ingin kuhentakan
kepalaku kedinding kamarku tapi, itu hanyalah tindakan yang konyol bahkan
hamper tindakan bodoh. Aku serahkan semua urusanku padamu tuhan, semoga engkau
bersedia memberikan jawaban dari semua tanda Tanya dalam hatiku, amin.
Jiwa-jiwa manusia pun
berkelana menyusuri dunia mimpi masing-masing. Tak terasa mentari pagi
membangunkan jiwa ini tuk kembali memulai hari dengan bersujud dan berdoa pada
sang maha cinta. Aku pun bergegas mandi dan sarapan di ruang makan bersama ayah
dan ibuku. Ya, seperti biasa sarapan dengn nasi goreng dan segelas susu coklat
kesukaanku. Tapi pagi ini aku merasa ada keganjilan. Ya, ayah kemana ya? Tumben
biasanya dia selalu lebih awal. Ku dengar suara tertutup dengan keras dari arah kamar ayah. Dan….
“Toni !!! jelaskan
kenapa surat ini ada di tangan ayah sekarang?” bentak ayah sambil membanting
kertas yang dari tadi di pegangnya. Aku pun mengambil kertas putih itu dan
ternyata surat dari sekolah. Ada apa ini???
“ah biasa yah paling
Cuma teguran masalah absen” sambil kuterus melahap nasi goreng.
“kamu bilang biasa!?
Apanya yang biasa ini sudah ke tiga kalinya ayah mendapat surat seperti ini”
“apa?!! Tiga kali? Ayah
pasti bohong, iya kan bu?” ku melirik kearah ibuku yang juga sama-sama tegang.
Sambil ku habiskan susu dan cepat-cepat menggendong tasku “ayah ibu aku
berangkat dulu, asalamu’alaikum, lariiiiiiiii”
“hey Toniiiiiiiiiiii
ayah belum selesai”
Sejuknya angin pagi di
kepulauan meratap membawa setiap jiwa-jiwa yang tenang mengembara jauh sampai
ke ujung samudra. Dunia ini terlihat luas walaupun jalan yang kutapaki begitu
sempit tapi panjang. Akhirnya perjalanan 5 km yang setiap pagi harus kulalui
terobati ketika melihat gerbang sekolah yang tingginya subhanallah… Cuma
selutut orang dewasa. Gerbang itu beruntung setiap pagi di selalu dibelai dan
di temani mesra oleh pak getu sang satpam bermuka sangar dengan hiasan unik
kumis ala pak Raden.
“eeeett eeett selamat
pagi pak !” sapaku sambil menyempil menerobos gerbang yang akan di tutup oleh
pak getu.
“kebiasaan ! masuk !”
gentaknya
Sesampainya di ruangan
kelas aku merasa aneh tidak seperti biasanya. Kumelirik kanan kiri keluar masuk
kelas tapi tidak ada. Sampai ibu guru masuk pun bangku itu tetap kosong.
Melihat gelagatku gelisah salah satu temanku bertanya “ada apa ton? Kau
kelihatan gelisah?”. Ya memang benar aku gelisah, Aku khawatir terjadi sesuatu
terjadi padanya. Citra si kepiting asem di mana dia?.
Penjelasan tentang
pelajaran tidak aku hiraukan. Mataku memang ke depan tapi hatiku berpetualang
mencari keberadaan citra yang tidak masuk hari ini. Di sela-sela jam pelajaran
aku pun bertanya pada temannya, Tapi dia pun tidak tahu. Sedikit sulit untuk
mencari tahu kabar citra karena tidak ada teman sekelasku yang Rumahnya
berdekatan dengannya.
Kegiatan belajar di
sekolahpun hampir selesai. Ku putuskan untuk mencari tahu apa yang terjadi
dengan si kepiting asem?. Dengan ditemani oleh heru dan gita aku pun berangkat
menuju rumahnya citra, ya memang jauh lebih jauh dari pada rumahku. Kaki kami
mulai terasa cape setelah berjalan lebih dari 6 km. Sesekali kami pun
beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
Dari kejauhan aku melihat bendera kuning
tepasang di batang pohon kelapa dan melihat kerumunan orang di salah satu rumah
penduduk. Ku langsung lari disusul oleh heru dan gita dengan rasa panik dan
kaget. Ku bertanya kepada salah satu dari mereka, siapa yang meninggal pak? Ini
rumah siapa bu?. Tapi hanya diam dengan derai air mata yang mampu mereka
berikan. Ku bertanya pada heru dan gita, siapa yang meninggal git, siapa? Kasih
tahu aku git !.ku goyang-goyangkan pundaknya dengan penuh ke cemasan.
“toni… ton… “ gita hanya
mampu menjawab dengan air matanya
Aku coba bertanya
kepada heru.
“ton... kepiting asem
te… telah tiada…” sambil memelukku
“tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk
itu tidak mungkin heru, heru kau bohong kepadaku, jawab heru,
jawaaaaaaaaaaabbbb” aku tak berdaya seakan malaikat mau ingin mencabut nyawaku.
Citra Jelita Suryo,
andai kau tahu setiap detik aku memikirmu, aku merindukanmu, aku menyayangimu,
dan aku mecintaimu. Walaupun setiap hari aku selalu bertengar dengan kau
sampai-sampai aku menjuluki kau dengan kepiting asem. Namun entah mengapa rasa
ini tumbuh begitu saja, awalnya aku tak percaya kalau aku harus jatuh cinta
kepada kepiting asem. Mungkin benar kata pepatah “karena sering ketemu maka
cinta pun akan tumbuh”. citra apakah kau pernah melihat bintang-bintang yang
berkerlipan di langit sana?, ya begitulah dirimu yang mampu memberikan
titik-titik kemerlipan bintang padaku sampai ia menjadi cahaya dalam hatiku
kemudian tumbuh menjadi cinta. Tapi sayang engkau begitu cepat meninggalkanku
tanpa engkau tahu apa isi hatiku. Ku ikhlaskan dan ku titipkan cinta yang tak
sampai ini kepada tuhan yang maha cinta dan menjadikanmu bidadari surgaku.
31
desember 2012
No comments:
Post a Comment