Wednesday, March 13, 2013

Atap Pulau Jawa


By : Yan Van Java 

Tanggal 06 februari 2013 Bola besar itu membakar kepalaku saat tiba di Terminal Serang. Panas yang menyengat tak membuatku lelah sedikit pun. Langkah terus aku pacu demi perjalanan ini. Setelah berkumpul di halte Untirta, aku dan kedua teman perempuanku yang ikut dalam backpackeran kali ini yaitu yehan dan Lela. Kami langsung meluncur ke Jakarta menggunakan bis Arimbi.
                        Kain biru yang terbentang perlahan ternodai oleh bercak-bercak hitam. Saat itu juga hujan mulai mengguyur daerah Jakarta. Aku dan kedua temanku terjebak macet dan hujan yang lebat didalam mobil. Rasa kecewa mulai menghampiriku dengan tertunduk lesuu ku berdoa pada sang ilahi agar segera menutup selang-selag hujan itu. Tapi, sampai di Stasiun Pasar Senen pun hujan masih tetap setiap. Sehingga area Stasiun tertutup genangan air sampai melebihi mata kaki. Dengan terpaksa dan sudah terlanjur pula, aku teruskan langkah kaki walaupun air sedikitt demi sedikit mulai memasuki sepatuku hingga tak ada yang terlewati.
                        Cukup lama untuk menunggu jadwal keberangkatan kereta menuju ke Purwokerto. Karena kami tiba di stasiun 3 jam sebelum keberangkatan. Tak banyak yang aku lakukan hanya sholat dan sedikit mengisi perut dengan semangkuk nasi campur soto Lamongan seharga Rp.8000-,. Petugas informasi mulai mengumumkan bahwa seluruh penumpang KA Bengawan jurusan Solo bisa check in saat ini. Tak berapa lama jam menunjukan pukul 19:45 Bengawan Tiba dan siap membawa para penumpang menuju tujuannya masing-masing. Purwokerto I’m Coming……..
abadikan dulu bray...first time nih ! :)
                        Tujah jam lebih KA bengawan membawa kami. Melintasi setiap detail rel kereta api. sampai akhirnya kami tiba di Stasiun purwokerto jam 3 dini hari. Berhubung daerah ini masih asing bagiku. Aku dan kedua temanku pun memutuskan untuk beristirahat dahulu didalam stasiun, sesuai dengan pesan ibu Siti didalam KA tadi. Lagi-lagi kamera mulai membidik dan dingin menyelimuti kota ini. Tidur dulu ah….
                        Perjalanan selanjutnya aku teruskan ke terminal purwokerto dan lanjut lagi ke Wonosobo dieng. Hamparan sawah yang hijau diselimuti kabut tebal menjadi pemandangan kami sepanjang jalan. Menuju ke wonosobo butuh waktu 2 jam di tambah lagi 1 jam menuju ke Dieng. Tapi rasa lelah itu seakan sirna ketika pegunungan yang menjulang tinggi mengukir setiap keindahan garis tangan Tuhan dii dalamnya. Perlahan udara dingin mulai menusuk kulitku pertanda kami akan segera sampai ke DIENG.
Gilaaaa... bru nyampe Dieng,
gue disambut hawa yang dingiiiiiin . grrrrrr
                        Tepat didepan penginapan Bu Jono kami berhenti. Lirik kanan dan kiri mengamati setiap detail jalan desa tertinggi ini. Setelah Tanya-tanya tapi tidak ada kamr kosong di Bu Jono. Kami pun melangkah kepenginapan sebelahnya Dieng Plateau Homestay ternyata setelah negoo kami pun mendapatkan kamar seharga Rp. 80.000-, /malam. Tak begitu sulit untuk bisa menikmati keindahan Dieng, kami cukup menyewa guide seharga Rp. 75.000-, dan Rp. 20.000-, untuk tiket terusan Dieng. Ya, pada awalnya kami tidak ingin menyewa guide Cuma berhubung dia menawarkan dengan harga miring kami pun menerimanya. Dengan harga tersebut kami bisa mengelilingi Dieng 1 ( Telaga Warna, Dieng Plateau theater, Kawah Sikidang, dan komplek Candi) dan Sunrise di Puncak Gunung Sikunir.
                        Tidak mau menunda waktu lagi. Aku dan kedua temanku pun bergegas tancap gas setelah menaruh barang bawaan kami di kamar yang sudah kami sewa. Cuaca yang cerah, gumamku. Masih tetap diselimuti hawa dingin kuberpacu dengan sepeda motor untuk mneuju tempat wisata. Yang pertama aku kunjungi ialah Telaga Warna, telaga yang banyak menyimpan Mitos dan Sejarah yang sampai saat ini masih tetap dipertahankan oleh warga sekitar. Seperti menaruh sesajen di dalam gua-gua yang terdapat di dalam kawasan ini antara lain Gua Pengantin, Gua jaran, Gua Sumur, dan Gua gareng. Setelah puas menikmati pesona Telaga Warna aku pun meluncur ke Dieng Plateau Theater. Tapi sebelum itu, seperti kebiasaanku jika bertemu Bule (Turis Asing) aku tak segan menyapa mereka like say How are you, is this your first time to indonesia, where do you come from, and what is your name?. Ada 4 bule yang masuk dalam perangkapku, 2 bule tua asal Italia dan 2 Bule Muda Asal Jerman. Tapi sayangnya, 2 Jerman itu tidak sempat aku Tanya nama dan foto-foto. Hehhehe.
Telaga yang membuat guide gue CLBK, cieee cieee !
                        Eh iya aku lupa, ada yang menarik nih di Telaga Warna. Ternyata disini pernah terjadi Cinta Itu bersemi di Telaga Warna. Apakah kamu tahu kawan cinta siapa itu?, salah, tapi Cinta itu milik salah satu guideku yang bernama pak…. Hahhah lucu ya.
                        Ok lanjut lagi. Dieng Plateau Theater seperti namanya pasti tempat ini adalah tempat untuk menyaksikan pertunjukan. Tapi pertunjukan apa? Apakah pertunjukan wayang kulit, barongsai, atau tari khas Dieng. OMG ternyata salah. Ditempat ini kita akan disuguhkan Film yang menceritakan sejarah Desa tertinggi ini beserta terbentuknya tempat-tempat wisata alamnya. It’s good !!!. setelah puas menonton dan lumayan istirahat sedikit. Let’s Go to kawah Sikidang.
kawah yang cukup membuat napas,
 berlomba-lomba antara berhenti atau terus, Bauuuuu ! v asyik
                        Kawah Sikidang adalah obejek wisata yang menyajikan semburan gas dan aroma belerang yang cukup menyengat. Walaupun begitu tempat ini cukup mengasyikan karena disamping tempat ini dilapisi lantai bekas cairan belerang yang lumer sampai mengeras, tempat ini juga dikelilingi oleh pegunungan yang begitu indah. Sudah puas menikamti aroma belerang aku pun melanjutkan ke tempat berikutnya yaitu Komplek candi.
                        Setibanya di komplek candi ini kami disambut oleh candi Gatot Kaca. Tidak berpikir panjang. langkah kaki pun langsung menuju ke candi tersebut. Dengan berbagai macam gaya kamera pun mengabadikannya. Ketika aku ingin menuruni anak tangga aku melihat tanaman hias, aku pikir hanya tanaman hias biasa seperti yang sering aku lihat di pasaran. Tapi ternyata tanaman itu asli. Kamu tahu kawan?. Tanaman itu bernama Bunga Abadi yang hanya tumbuh didataran tinggi seperti Dieng ini. Subhanallah aku kagum melihatnya, dilihat dari kejauhan seperti bohongan tapi ketika aku pegang ternyata sungguhan. Setibanya dibawah di komplek Candi seperti biasa berbagai macam gaya terbidik lensa kamera mulai gaya kalem, sangar sampai gaya alay tersimpan rapi dalam memori kamera. Hahaha.
                        Sebenarnya badan masih ingin menikmati wisata Dieng 1 tapi ya semuanya telah kami jejaki. Walaupun tubuhku kurang fit dengan flu dan batuk yang menyerangku, aku mencoba untuk menguatkannya demi perjalanan ini. Tiba di penginapan aku pun langsung membaringkan tubuhku dan terlelap tidur sampai jam setengah 6 sore. Astagfirullah !!! aku belum solat Ashar.
                        Ya, beginilah kalau perjalanan yang menganggap semuanya enteng. Warnet di Sekitar Penginapanku tidak ada yang menyediakan cardreader ataupun kabel USB untuk memindahkan foto-foto kami kedalam flashdisk. Cukup melelahkan tapi daripada memikirkan hal tersebut lebih baik kita mengisi perut dulu. Kebetulan ada warung angkringan didekat Warnet yang kami lewati tadi. Menu malam ini di warung angkringan nasi kucing sambel teri dengan gorengan yang sudah dingin ditemani segelas susu jahe yang cukup menghangatkan tubuhku malam ini. Saatnya melepas semua lelah diatas pembaringan yang tidak cukup untuk menghilangakan suhu dingin yang sangat. Selamat Malam Dieng…………………
                        Suhu dingin masih menyelimuti Dieng. Dengan mata yang masih meraba-raba aku pun menguatkan diri bersama kedua temanku. Di pagi buta ini kami harus sudah bersiap-siap untuk menuju kepuncak Gunung Sikunir demi menyaksikan keajaiban tuhan yang selama ini hanya dapat aku saksikan dari kejauhan. Topi kupluk, syal, dan sweater insyallah bisa menghangatkan tubuhku dipagi ini. Tak menunggu lama para guide kami pun telah siap mengantarkan kami ke puncak sana. Udara yang dingin ditambah kami berpacu dengan sepeda motor, beuuuuuh tambah dingin serasa menusuk kedalam pori-pori wajahku.
                        Karena waktu subuh telah tiba, aku pun melaksanakan solat subuh terlebih dahulu di tempat pemberhentian para pendaki. Butuh waktu 30-45 menit untuk mencapai kepuncak Sikunir. Dengan Bismillah ku langkahkan kaki menuju puncak. Lagi-lagi udara dingin menusuk kulitku, tapi ini lebih dingin ditambah nafasku mulai tak beraturan karena harus melawan rasa dingin dan rasa lelah. Lela temanku dia mulai tidak kuat. Tapi aku, Yehan dan pak Mul guideku menguatkannya agar bertahan sampai puncak.
                        Mimpi atau bukan tapi ini sungguh pengalaman pertamaku mendaki Gunung dipagii hari di selimuti kabut dan udara dingin yang mencekram. Hah !.... rasa lelah itupun seakan sirna, ketika tubuh ini sampai kepuncak. Mentari pagi belum menunjukan keindahannya tapi kabut yang berada di depan kami seakan membayar semuanya. Aku merasa sedang berada diatas awan dengan Gunung Sindoro yang memanjakan mataku.
                        Langit mulai berwana kuning keemasan. Mentari pagi sedikit demi sedikit menginti di balik awan. Para pendaki pun mulai menyerbu, membidik dan berpose dengan terkagum-kagum. Tak begitu lama kabut tebal kembali menutupinya. Rasa kecewa pun terlintas dalam hatiku. Tapi, mentari itu kembali menampakan diri dengan bentuk yang hampir sempurna. Belasan kamera dan berbgai macam gaya pun dikeluarkan untuk mengabadikan moment ini. Lagi-lagi kabut tebal menghalanginya. Begitu seterusnya sampai kami mulai merasa cukup dengan semua ini. Tidak apalah walaupun aku belum bisa menyaksikan samudra awan yang begitu indah tapi semua ini sudah menjadi penawar bagiku. Ya, karena kami datang di Dieng di Musim penghujan jadi kalau suatu saat nanti di musim panas kami bisa berkunjung lagi pasti kami akan mendapatkannya.
                        Sepanjang perjalanan kepenginapan ada perasaan sedih yang menyelimutiku. Entah apa? Mungkin aku akan menyudahi perjalananku di Dieng. Ya betul memang sebelum siang ini juga aku hatus check out dan melanjutkan perjalanan ke Jogja. Tapi bukan itu kawan. Aku sedih karena aku haru bisa menyakasikan keindahan yang terukir dalam setiap detak jantung Dieng. Udara dingin, masyarakat yang ramah, alam yang begitu terjaga terlebih, aku bisa menyaksikan sunriseeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee di puncak Gunung sikunir. Ini adalah pengalaman pertamaku menginjakan kaki dipuncak gunung walaupun gunungnya tidak setinggi gunung Sumeru ataupun Gunung Himalaya. Tapi aku bangga bisa meninggalkan jejak kakiku diPuncak Sikunir, melihat keindahan sunrise dan keagungan Ciptaan Tuhan. Dan aku sedih karena teman-temanku tidak merasakan apa yang aku rasakan saat ini.  Terima kasih atas segala kesempatan dan rizki yang engkau berikan wahai Tuhanku Allah SWT.    
Sunrise, kau telah membuat hatiku sadar,
betapa indahnya Alam  Indonesia
            Nb : oh iya aku lupa kalau ada Mr. Andre yang baik hati, murah senyum dan menurutku tipikal Bule yang Tuleh, ya ia lah dia kan orang Kanada bray. Awal pertemuanku dengannnya saat sore hari dibalkon homestay dia baru saja keluar dari kamarnya. Tanpa rasa malu ku sapa dia “ hello, good evening? Nice to see Mister”. Dengan senyum lebar dia membalas sapaanku. Ku perhatikan sepertinya dia akan check out karena dia membawa ransel yang lumayan besar dan berpakaian gagah. Tapi ternyata salah dia hanya keluar sebentar dan akan kembali kepenginapan pada malam hari. “happy valentine” ucapnya seraya pergi menuruni anak tangga.
                        Ketika malam akan meninggalkan waktunya. kami bertiga bersiap-siap untuk pergi menjemput mentari dipuncak gunung sikunir. Ternyata diluar penginapan Mr. Andre telah berdiri dengan membawa ransen yang besar lengkap dengan sepatu ala pendaki. Tapi dia bukan ingin mendaki gunung melainkan dia akan meninggalkan dieng dan melanjutkan perjalanannya ke Bandung dan akan berakhir di Thailand. Tidak mau meninggalkan kesempatan seperti ini temanku yehan mengajaknya untuk berfoto bersama sampai para guide kami pun datang. “ nice Holiday Mister……” ucapku seraya meninggalkannya diudara dinginnya Dieng.
Serang, 10 Februari 2013



jarang-jarang lho lihat kabut langsung,
trus kbut itu perlahan  menjadi seprti awan
masih tidak percaya, ternyata gue ada didesa tertinggi dipulau jawa,
sambil naik Ojek lagi !.. subhanallah ! :)

komplek candi didataran tinggi dieng 
gue, Yehan, dan di belakang itu, yng cuma matanya doang itu Lela
jadi kangen puncak sikunir..... ! hixhixhix 
candi arjuna 
                         

No comments:

Post a Comment