By : Yan Van Java
Kain
biru yang terbentang perlahan ternodai oleh bercak-bercak hitam. Saat itu juga
hujan mulai mengguyur daerah Jakarta. Aku dan kedua temanku terjebak macet dan
hujan yang lebat didalam mobil. Rasa kecewa mulai menghampiriku dengan
tertunduk lesuu ku berdoa pada sang ilahi agar segera menutup selang-selag
hujan itu. Tapi, sampai di Stasiun Pasar Senen pun hujan masih tetap setiap.
Sehingga area Stasiun tertutup genangan air sampai melebihi mata kaki. Dengan
terpaksa dan sudah terlanjur pula, aku teruskan langkah kaki walaupun air
sedikitt demi sedikit mulai memasuki sepatuku hingga tak ada yang terlewati.
Cukup
lama untuk menunggu jadwal keberangkatan kereta menuju ke Purwokerto. Karena
kami tiba di stasiun 3 jam sebelum keberangkatan. Tak banyak yang aku lakukan
hanya sholat dan sedikit mengisi perut dengan semangkuk nasi campur soto
Lamongan seharga Rp.8000-,. Petugas informasi mulai mengumumkan bahwa seluruh
penumpang KA Bengawan jurusan Solo bisa check in saat ini. Tak berapa lama jam
menunjukan pukul 19:45 Bengawan Tiba dan siap membawa para penumpang menuju
tujuannya masing-masing. Purwokerto I’m Coming……..
![]() |
| abadikan dulu bray...first time nih ! :) |
Perjalanan
selanjutnya aku teruskan ke terminal purwokerto dan lanjut lagi ke Wonosobo
dieng. Hamparan sawah yang hijau diselimuti kabut tebal menjadi pemandangan
kami sepanjang jalan. Menuju ke wonosobo butuh waktu 2 jam di tambah lagi 1 jam
menuju ke Dieng. Tapi rasa lelah itu seakan sirna ketika pegunungan yang
menjulang tinggi mengukir setiap keindahan garis tangan Tuhan dii dalamnya.
Perlahan udara dingin mulai menusuk kulitku pertanda kami akan segera sampai ke
DIENG.
| Gilaaaa... bru nyampe Dieng, gue disambut hawa yang dingiiiiiin . grrrrrr |
Tidak
mau menunda waktu lagi. Aku dan kedua temanku pun bergegas tancap gas setelah
menaruh barang bawaan kami di kamar yang sudah kami sewa. Cuaca yang cerah,
gumamku. Masih tetap diselimuti hawa dingin kuberpacu dengan sepeda motor untuk
mneuju tempat wisata. Yang pertama aku kunjungi ialah Telaga Warna, telaga yang
banyak menyimpan Mitos dan Sejarah yang sampai saat ini masih tetap
dipertahankan oleh warga sekitar. Seperti menaruh sesajen di dalam gua-gua yang
terdapat di dalam kawasan ini antara lain Gua Pengantin, Gua jaran, Gua Sumur,
dan Gua gareng. Setelah puas menikmati pesona Telaga Warna aku pun meluncur ke
Dieng Plateau Theater. Tapi sebelum itu, seperti kebiasaanku jika bertemu Bule
(Turis Asing) aku tak segan menyapa mereka like
say How are you, is this your first time to indonesia, where do you come from,
and what is your name?. Ada 4 bule yang masuk dalam perangkapku, 2 bule tua
asal Italia dan 2 Bule Muda Asal Jerman. Tapi sayangnya, 2 Jerman itu tidak
sempat aku Tanya nama dan foto-foto. Hehhehe.
| Telaga yang membuat guide gue CLBK, cieee cieee ! |
Ok
lanjut lagi. Dieng Plateau Theater seperti namanya pasti tempat ini adalah
tempat untuk menyaksikan pertunjukan. Tapi pertunjukan apa? Apakah pertunjukan
wayang kulit, barongsai, atau tari khas Dieng. OMG ternyata salah. Ditempat ini
kita akan disuguhkan Film yang menceritakan sejarah Desa tertinggi ini beserta
terbentuknya tempat-tempat wisata alamnya. It’s good !!!. setelah puas menonton
dan lumayan istirahat sedikit. Let’s Go to kawah Sikidang.
| kawah yang cukup membuat napas, berlomba-lomba antara berhenti atau terus, Bauuuuu ! v asyik |
Setibanya
di komplek candi ini kami disambut oleh candi Gatot Kaca. Tidak berpikir
panjang. langkah kaki pun langsung menuju ke candi tersebut. Dengan berbagai
macam gaya kamera pun mengabadikannya. Ketika aku ingin menuruni anak tangga
aku melihat tanaman hias, aku pikir hanya tanaman hias biasa seperti yang
sering aku lihat di pasaran. Tapi ternyata tanaman itu asli. Kamu tahu kawan?.
Tanaman itu bernama Bunga Abadi yang hanya tumbuh didataran tinggi seperti
Dieng ini. Subhanallah aku kagum melihatnya, dilihat dari kejauhan seperti
bohongan tapi ketika aku pegang ternyata sungguhan. Setibanya dibawah di
komplek Candi seperti biasa berbagai macam gaya terbidik lensa kamera mulai
gaya kalem, sangar sampai gaya alay tersimpan rapi dalam memori kamera. Hahaha.
Sebenarnya
badan masih ingin menikmati wisata Dieng 1 tapi ya semuanya telah kami jejaki.
Walaupun tubuhku kurang fit dengan flu dan batuk yang menyerangku, aku mencoba
untuk menguatkannya demi perjalanan ini. Tiba di penginapan aku pun langsung
membaringkan tubuhku dan terlelap tidur sampai jam setengah 6 sore.
Astagfirullah !!! aku belum solat Ashar.
Ya,
beginilah kalau perjalanan yang menganggap semuanya enteng. Warnet di Sekitar
Penginapanku tidak ada yang menyediakan cardreader ataupun kabel USB untuk
memindahkan foto-foto kami kedalam flashdisk. Cukup melelahkan tapi daripada
memikirkan hal tersebut lebih baik kita mengisi perut dulu. Kebetulan ada
warung angkringan didekat Warnet yang kami lewati tadi. Menu malam ini di
warung angkringan nasi kucing sambel teri dengan gorengan yang sudah dingin
ditemani segelas susu jahe yang cukup menghangatkan tubuhku malam ini. Saatnya
melepas semua lelah diatas pembaringan yang tidak cukup untuk menghilangakan
suhu dingin yang sangat. Selamat Malam Dieng…………………
Suhu
dingin masih menyelimuti Dieng. Dengan mata yang masih meraba-raba aku pun
menguatkan diri bersama kedua temanku. Di pagi buta ini kami harus sudah
bersiap-siap untuk menuju kepuncak Gunung Sikunir demi menyaksikan keajaiban
tuhan yang selama ini hanya dapat aku saksikan dari kejauhan. Topi kupluk,
syal, dan sweater insyallah bisa menghangatkan tubuhku dipagi ini. Tak menunggu
lama para guide kami pun telah siap mengantarkan kami ke puncak sana. Udara
yang dingin ditambah kami berpacu dengan sepeda motor, beuuuuuh tambah dingin
serasa menusuk kedalam pori-pori wajahku.
Karena
waktu subuh telah tiba, aku pun melaksanakan solat subuh terlebih dahulu di
tempat pemberhentian para pendaki. Butuh waktu 30-45 menit untuk mencapai
kepuncak Sikunir. Dengan Bismillah ku langkahkan kaki menuju puncak. Lagi-lagi
udara dingin menusuk kulitku, tapi ini lebih dingin ditambah nafasku mulai tak
beraturan karena harus melawan rasa dingin dan rasa lelah. Lela temanku dia
mulai tidak kuat. Tapi aku, Yehan dan pak Mul guideku menguatkannya agar
bertahan sampai puncak.
Mimpi
atau bukan tapi ini sungguh pengalaman pertamaku mendaki Gunung dipagii hari di
selimuti kabut dan udara dingin yang mencekram. Hah !.... rasa lelah itupun
seakan sirna, ketika tubuh ini sampai kepuncak. Mentari pagi belum menunjukan
keindahannya tapi kabut yang berada di depan kami seakan membayar semuanya. Aku
merasa sedang berada diatas awan dengan Gunung Sindoro yang memanjakan mataku.
Sepanjang
perjalanan kepenginapan ada perasaan sedih yang menyelimutiku. Entah apa? Mungkin
aku akan menyudahi perjalananku di Dieng. Ya betul memang sebelum siang ini
juga aku hatus check out dan melanjutkan perjalanan ke Jogja. Tapi bukan itu
kawan. Aku sedih karena aku haru bisa menyakasikan keindahan yang terukir dalam
setiap detak jantung Dieng. Udara dingin, masyarakat yang ramah, alam yang
begitu terjaga terlebih, aku bisa menyaksikan sunriseeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee di
puncak Gunung sikunir. Ini adalah pengalaman pertamaku menginjakan kaki
dipuncak gunung walaupun gunungnya tidak setinggi gunung Sumeru ataupun Gunung
Himalaya. Tapi aku bangga bisa meninggalkan jejak kakiku diPuncak Sikunir,
melihat keindahan sunrise dan keagungan Ciptaan Tuhan. Dan aku sedih karena
teman-temanku tidak merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Terima kasih atas segala kesempatan dan rizki
yang engkau berikan wahai Tuhanku Allah SWT.
| Sunrise, kau telah membuat hatiku sadar, betapa indahnya Alam Indonesia |
Ketika
malam akan meninggalkan waktunya. kami bertiga bersiap-siap untuk pergi
menjemput mentari dipuncak gunung sikunir. Ternyata diluar penginapan Mr. Andre
telah berdiri dengan membawa ransen yang besar lengkap dengan sepatu ala
pendaki. Tapi dia bukan ingin mendaki gunung melainkan dia akan meninggalkan
dieng dan melanjutkan perjalanannya ke Bandung dan akan berakhir di Thailand.
Tidak mau meninggalkan kesempatan seperti ini temanku yehan mengajaknya untuk
berfoto bersama sampai para guide kami pun datang. “ nice Holiday Mister……” ucapku
seraya meninggalkannya diudara dinginnya Dieng.
Serang, 10 Februari 2013
| jarang-jarang lho lihat kabut langsung, trus kbut itu perlahan menjadi seprti awan |
![]() |
| masih tidak percaya, ternyata gue ada didesa tertinggi dipulau jawa, sambil naik Ojek lagi !.. subhanallah ! :) |
| komplek candi didataran tinggi dieng |
| gue, Yehan, dan di belakang itu, yng cuma matanya doang itu Lela |
![]() |
| jadi kangen puncak sikunir..... ! hixhixhix |
| candi arjuna |



No comments:
Post a Comment