| Basecamp Sikunir |
Angin Sikunir seakan menusuk
tulangku pagi itu. jalan menanjak dan berbatu terus kami pijak dengan penuh
semangat. Berharap kami tiba di puncak Sikunir saat sang mentari tersenyum
indah dari balik Gunung Sindoro. Semakin tinggi tanah yang kami pijak, semakin
dingin pula angin yang menusuk. Bukan hanya angin, Kabut pun menghalangi
pandangan kami. Napas sudah tak menentu, gerak kaki terasa cape. Tapi, ketika
Pak Mul Bilang, “Kita Sudah Sampai”. Rasa Lelah, letih, lesu, lunglai dan lemas
seakan sirna dimakan rasa gembira dan haru. Aku tak peduli dengan jenis
kelaminku. Tapi inilah Puncak Sikunir, Bukit pertama yang aku daki. Bukit
pertama yang menjadi sejarah Bagiku. Bukit pertama yang akan menjadi saksi
bahwa aku sudah pernah naik gunung, walaupun Cuma BUKIT. Tapi lumayan
Cape, 45 menit dari basecamp. Ah, semua itu, keseruan itu, rasa lelah itu, rasa
bahagia itu, membuat mentari pagi di balik Gunung Sindoro tersenyum. 3 anak kota,
ngegembel ke Dieng hanya ingin menyaksikan sunrise dari ketinggian,
sableng memang, ngapain jauh-jauh coba, padahal sunrise dari balik jendela
kamar aja sudah cukup. Eits… tapi ada yang lebih gila lagi, yaitu para pendaki
Gunung. Mereka naik ke puncak gunung, dengan track yang menantang, dengan track
yang mengadu nyali, dengan track yang sewaktu-waktu maut menjemput, dingin,
cape, emosi semuanya bercamur aduk jadi satu, Cuma ingin Refresing Doang. OMG…
!!!! tapi memang betul, satu kali saja kita mendaki, maka seterusnya kita akan
ingin mendaki, mendaki, dan mendaki lagi. Setiap gunung yang kita lihat pasti
terasa indah dan menantang untuk kita taklukkan. Ya, kita taklukan, sebagai
seorang pemberani bukan sebagai seorang yang cengeng dan penakut akan hal-hal
yang akan terjadi.
| Sunrise dari puncak Sikunir |
| kabut itu, Sunrise itu, ah... semuanya masih menyelimutiku |
sebelum aku dan 2 orang temanku
berangkat. Ada yang bilang begini, “ naik gunung ? ih, apaan kali, mending
kemana gitu. Nanti cape dijalan doank, sedangkan represingnya ga ada”. Aku tidak bisa mengatakan ia sebagai seorang
yang penakut, dan aku juga tidak bisa mengatakan kalau ia seorang yang
pengecut. Tapi, itu hak dia untuk berkata seperti itu. mungkin cara
perjalananku dan cara perjalanan dia berbeda. just it ! nothing else.
Sudah
hampir satu tahun pendakian sikunir itu. tapi, bayangan tentang indahnya masih
terus menghantuiku hingga saat ini. padahal, baru saja 1 bulan yang lalu aku
pergi ke Bali, Pulau dewata nan Indah dan Eksotis. Namun, Bali berbeda dengan
Dieng dan Sikunir, di Bali aku hanya menyaksikan Pura, Rumah yang berarsitektur
Bali, Pantai dan juga Bule-Bule tengtop yang memanjakan mata. At least aku
sudah pernah ke Bali. Hahahah. Dieng dan Sikunir, jauh berbeda. udara yang
menusuk kulit, air yang dingin kaya diFreezer, masih desa banget dan satu lagi,
Desa Tertinggi di Pulau Jawa.
![]() |
| bersama Pak Mul |
| narsis ala 3 Nekater |
Hampir
setiap orang di Dieng, mau siang, mau sore, mau malam, tetap berselimut jaket,
Kupluk dan sarung yang dililitkan dileher mereka. tak nyana, ternyata aku pun
mengikuti gaya mereka. kupluk, jaket, celana panjang, dan juga sarung selalu
menyelimutiku. Mungkin bedanya mereka kuat dengan air, sedangkan aku dan 2
orang temanku sama sekali tidak mau mendekati air, kecuali jika mau sholat.
Gosok gigi aja masih ragu-ragu, apalagi disuruh Mandi. Ogah Bangeeeet,
Dingiiiiiiin !!!!
![]() |
| 3 Nekater hahahah |
Hah
! Dieng, masih menghantuiku dan masih mengajakku untuk mengunjunginya kembali.
Aku tak tahu kapan aku bisa kesana lagi, padahal masih ada 1 gunung lagi yang
membuatku dan temanku penasaran dengan keindahan yang akan kita dapat diatas
sana. Ini semua gara-gara Pak Mul, yang menawari kami untuk menginjakkan kaki
di Gunung itu, yang harus kita daki selama 4 jam. Gunung itu bernama Gunung
Prau. Tapi, gunung Prau mungkin menjadi List Backpackeranku nanti, setelah
aku mengunjungi Bromo, Ranu Kumbolo dan juga Gunung Ijen. Kecuali ada
yang ngajak trip Gratisan. Ya, aku ingin tahu isi pulau jawa dulu
setelah itu baru melanglang buana ke pulau-pulau di Indonesia Bahkan ke Luar
Negeri. Kendalanya Cuma satu, Budget. Ya, budget. Uang memang menjadi hal
penting untuk sebuah Trip. semoga saja uang mengalir bagaikan hujan dan salju
yang turun dimusim dingin. hahahaha.
Dalam bayangan Sikunir, 22 desember 2013




.jpg)
.jpg)








.jpg)
